Gunakan Disinfektan Alami

oleh -317 views
Asap-cair-produksi-Dishut-Kalsel

BANJARBARU (KP),- Dalam pencegahan Covid-19 segala upaya dilakukan pemerintah melalui Social Distancing, Physical Distancing, cuci tangan, jaga jarak dan tidak bersentuhan, menggunakan masker, tetap berada di rumah,  jika Merasa demam, batuk / flu periksa ke dokter terdekat.

Tidak hanya sampai disitu, penyemprotan disinfektanpun gencar dilakukan, pasalnya, penggunaan disinfektan secara masif juga dikhawatirkan dapat memunculkan berbagai dampak, bila tidak dilakukan sesuai petunjuk yang tepat.

Disinfektan memang ampuh untuk membunuh mikroorganisme penyebar penyakit. Namun, desinfektan mengandung senyawa kimia yang cukup sehingga dapat menimbulkan berbagai efek samping terhadap kesehatan manusia.

Para peneliti mencatat berbagai macam cairan disinfektan yang digunakan untuk bilik disinfeksi ini diantaranya adalah diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70%, kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, hidrogen peroksida (H2O2) dan sebagainya.

World Health Organization (WHO) tidak menyarankan penggunaan alkohol dan klorin keseluruh permukaan tubuh karena akan membahayakan pakaian dan membran mukosa tubuh seperti mata dan mulut.

Penelitian yang dipublikasikan pada JAMA Network Open Oktober 2019 menemukan bahwa sebanyak 73.262 perawat wanita yang rutin tiap minggu menggunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan alat-alat medis berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan paru-paru kronik. Inhalasi gas klorin (Cl2) dan klorin dioksida (ClO2) dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernapasan (WHO).

Untuk itulah Dinas Kehutanan Kalsel memproduksi asap cair untuk digunakan sebagai disinfektan alami yang ramah lingkungan. Kepala Dinas Kehutan Kalsel Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, produksi asap cair Kalsel 8000 liter dan dibagikan kepada masyarakat secara gratis.



Dengan penggunaan asap cair sebagai disinfektan selain aman dan ramah lingkungan, dari uji coba yang dilakukan  Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi BLI, dengan penelitian sejak 2010, cuka kayu dan bambu punya daya bunuh terhadap virus, bakteri, dan kuman 70 kali lipat dibanding alkohol. “Rasionya 1% cuka kayu lebih efektif dibanding etanol 70%,” ujarnya.

KLHK pun merilis temuan ini setelah mengujicobanya di Kantor BLI di Gunung Batu Bogor, Jawa Barat. Semua ruangan disemprot cuka bambu dan kayu untuk membunuh virus dan kuman yang bersarang di ruang-ruang kantor. “Layak untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona Covid-19,” demikian pers rilis KLHK, 21 Maret 2020. (KP).


Laporan : Adam Subayu



Memuat...