Sayed Mukhtarhadi : Tidak Mungkin Tidak Boleh Membakar Ketika Ingin Berkebun

oleh -715 views
Sayed Mukhtarhadi akrab disapa Abib Joung, Pegiat Sosial Media Natuna

NATUNA (KP) – Larangan membakar menjadi tantangan baru masyarakat Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri untuk dapat mengolah lahan perkebunananya karena membakar di kebun miliknya sendiri sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.

Saat ini masyarakat diminta untuk patuh dengan aturan terkait larangan membakar sebagai antisipasi terjadinya musibah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Sayangnya sosialisasi tentang aturan tersebut tidak terlalu gencar dilakukan.

Dalam hal ini, Pegiat Sosial Media Natuna, Sayed Mukhtarhadi meminta pemerintah melalui instansi terkait secepatnya mengeluarkan aturan tentang larangan membakar karena tidak mungkin masyarakat tidak boleh membakar ketika mereka ingin berkebun.

“Berat kehidupan masyarakat saat ini, karena cara itu kebiasaan turun-temurun. Biar tidak ragu cepat keluarkan aturan jangan dibiarkan. Segera sosialisasikan ketentuan-ketentuannya seperti apa kepada masyarakat, biar semuanya jelas,” tegasnya kepada koranperbatasan.com Jum’at, 09 April 2021.

Kata lelaki yang akrab disapa Abib Joung, aturan jangan terlalu menekan masyarakat yang ingin berkebun karena meraka memang sudah terbiasa membakar lahan miliknya sendiri saat hendak bercocok tanam.

“Harus diatur regulasinya seperti apa, jangan sampai masyarakat jadi susah bekerja. Jangan sampai terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kemarin ada warga tertangkap membakar walaupun hanya di kebun sendiri dengan luas tidak seberapa,” pungkasnya.

Menurut Abib Joung, masyarakat harus diberi himbauan dan aturan sesuai ketentuan yang berlaku dengan pelaporan sebelum membakar agar hal serupa tidak terulang kembali.



“Saya lihat kurangnya sosialisasi jadi masyarakat tidak tau, karena membakar itu memang kebiasaan sejak dulu. Sekarang masyarakat bingung mereka banyak tidak tau apakah boleh membakar atau tidak. Maksudnya harus ada kejelasan terkait bakar membakar ini, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh,” terangnya.

Potret petani sedang berusaha memadamkan api menjalar di kebun nanas miliknya di Kecamatan Medang Kampai, Dumai, Riau, Senin 22 Februari 2021 (Foto : Antara)

Abib Joung menjelaskan menghilangkan kebiasaan lama masyarakat membakar lahan saat berkebun memang tidak mudah tetapi bisa diatasi jika ada aturan yang mengaturnya secara bijak.

“Susah mau berkebun kalau tidak di bakar, makanya perlu ada aturan misalnya mau bakar kebun harus mengikuti prosedur, berjaga-jaga jangan sampai api menjalar, tidak main bakar semau-maunya. Jika merembet ke kebun orang atau hutan dia harus bertanggungjawab,” jelasnya.

Oleh karena itu lanjut Abib Joung diperlukan adanya pelaporan kepada Dinas, Kades, RT dan RW setempat guna mengetahui siapa yang melakukan pembakaran kebun jika terjadi karhutla.

“Jadi ada kosekuensi hukumnya bila terjadi kebakaran karena merusak ekosistem, merusak hutan. Maka harus dijaga berhati-hati jangan sampai apinya melarat, sesuai dengan hukum yang berlaku bisa dituntut merusak alam,” ujarnya.

Lebih jauh Abib Joung menyebutkan ada dasarnya juga masyarakat boleh membakar lahan seluas 2 hektare. Hal itu sudah diatur dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup memberikan pengecualian terhadap pembukaan lahan dengan cara dibakar maksimal 2 hektare.

Bunyi soal itu lanjut Abib Joung dituangkan dalam Pasal 69 Ayat 2 dimana masyarakat boleh membakar 2 hektar lahan dengan metoda konvensional atau dengan kearifan lokal (membakar).

“Artinya diperbolehkan tapi ada mekanismenya dan pemahaman itu harus disosialisasikan kepada masyarakat,” paparnya.

Bakar Lahan Sendiri, Warga Natuna Ditangkap dan Terancam Denda Rp 3 Milyar

Dikutip dari media siber tirto.id terbit 03 Maret 2021 seorang warga Natuna berinisial Y (38) ditangkap oleh aparat kepolisian setempat. Ia tertangkap basah sedang membakar ladang perkebunan milik sendiri seluas 15 meter persegi demi memangkas biaya pengolahan lahan.

Polisi menyita korek api, batang kayu yang terbakar, parang, sekop dan cangkul yang digunakan pelaku untuk membakar ladangnya dikawasan Jalan Sihotang, Kecamatan Bunguran Timur, Ahad (28/2).

Kapolres Natuna AKBP Ike Krisnadian saat menggelar konferensi pers pengungkapan kasus karhutla (ANTARA/HO-Polres Natuna)

Perbuatan pelaku melanggar hukum lantaran ada Pasal 108 UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengolahan Lingkungan Hidup junto Pasal 187 KUHP. Y terancam bui paling lama 3 tahun dan diancam denda maksimal Rp3 miliar untuk pembakaran ladang sendiri seluas belasan meter persegi.

Kapolres Natuna AKBP Ike Krisnadian mengatakan tetap memproses hukum pelaku karena sebagai peringatan warga lain agar tidak membakar lahan. Di Natuna, katanya per hari ada 5-10 titik api baru. Ia menjelaskan, penangkapan Y menjadi peringatan bagi warga lain agar tidak coba-coba membakar ladang.

“Alasan membakar lahan dari tersangka ini adalah untuk menghemat biaya. Padahal, risikonya sangat besar dan berbahaya karena dikhawatirkan terjadi kebakaran yang lebih luas,” kata Kapolres Natuna.

Kapolres berjanji akan terus menangkap para pelaku pembakaran lahan dan hutan diwilayahnya, karena ini sudah masuk musim kemarau, supaya tidak timbul kabut asap yang menganggu masyarakat. (KP).


Laporan : Johan Narjo