BWI Natuna Hadirkan BPN dan Kemenag Pada Kegiatan Pembinaan Nadzir

oleh -230 views
Ketua BWI Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I (tengah), Kepala Kemenag Natuna, H. Budi Dermawan, S.Ag, M.Sy dan Kepala BPN Natuna, Purwoto, A. Ptnh., MM

NATUNA – Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepualauan Riau, melakukan pembinaan terhadap nadzir dan penyerahan bantuan modal usaha menuju pengelolaan wakaf produktif, di Aula I Gedung STAI Natuna.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 21 Oktober 2021 itu, menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Natuna, H. Budi Dermawan, S.Ag, M.Sy dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Natuna, Purwoto, A. Ptnh., MM sebagai narasumber.

Ketua BWI Kabupaten Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I dalam sambutannya menyebutkan, terdapat tiga program pokok BWI Natuna pada periode pertama terhitung sejak tanggal 29 April 2019 sampai dengan tahun 2022 mendatang. Pertama, sosialisasi dan literasi wakaf, kedua, pengembangan wakaf uang, dan ketiga pengembangan kebun wakaf.

Kata Umar Natuna, untuk sosialisai dan literasi wakaf sampai saat ini masih dilakukan secara terus menerus. BWI Natuna sudah turun langsung di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Natuna, kecuali Kecamatan Serasan, Midai, dan Pulau Tiga.

Penyerahan bantuan modal usaha oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Natuna, Purwoto, A.Ptnh., MM, Perwakilan Wakif, Drs. Muhtar Achmad, M.Eng, Perwakilan Kemenag Natuna didampingi Ketua BWI Natuna H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I,

“Masjid-masjid sebagian besar juga sudah, di Kelanga, Singgang Bulan, Ceruk, Pengadah, dan lain-lainnya.  Hari ini kita coba mendengarkan perkembangan dari masing-masing nadzir dari daerah yang ditempatinya,” terang Umar Natuna.

Menurutnya untuk pengembangan wakaf uang sudah dilakukan deklarasi pada tanggal 25 Januari 2021 lalu di Kantor Bupati Natuna oleh Pj. Sekda Natuna Hendra Kusuma. Dari dekralasi itu terkumpul lebih kurang Rp 12 juta dari pada wakaf uang.

Ia menjelaskan tidak ditemukan kendala terhadap pengembangan wakaf uang di Kabupaten Natuna. Hanya saja  terdapat sedikit kelemahan pada administrasi yaitu belum memiliki Akta Ikrar Wakaf (AIW). Hal tersebut kata Umar Natuna dikarekankan yang berhak mengeluarkan AIW ialah lembaga keuangan syari’ah penerima wakaf uang.



“Ketika Bank Syaria’ah Mandiri (BSM) menjadi Bank Syari’ah Indonesia (BSI), maka izin lembaga keuangn syari’ah penerima wakaf uang itu belum dialihkan ke BSI. Jadi itu kendala karena BSI Natuna masih menunggu instruksi dari pusatnya mengenai tata cara dan kewajiban mereka membuat Akta Ikrar Wakaf itu. Kalau Akta Ikrar Wakaf tanah itu KUA,” pungkasnya.

Program ketiga lanjut Umar Natuna, pengembangan kebun wakaf, sudah mulai dirintis di Desa Teluk Buton dengan melakukan penanaman bibit pohon mangga. Dimana tanah wakaf sudah tidak memiliki ahli waris, dalam pengembangan perwakafan termasuk harta benda wakaf setengah terlantar.

Poto bersama usai mengadakan kegiatan pembinaan nadzir dan penyerahan modal usaha menuju pengelolaan wakaf produktif

“Jadi jika ada harta benda wakaf yang terlantar itu pengelolaannya dialihkan ke Badan Wakaf Indonesia. Oleh karena itu kita coba kembangkan ada sekitar 8.000 meter persegi,” tuturnya.

Tantangan terbesar perwakafan di Kabupaten Natuna, kata Umar Natuna ialah tata kelola yang terdiri dari 4T (Tidak Terdata, Tidak Teradministrasi, Tidak Terkelola, dan Tidak Ternampakan. Sementara harta benda wakafnya banyak.

Dalam hal ini lanjut Umar Natuna, yang menjadi ujung tombak dari pada tata kelola tanah wakaf ialah nadzir. BWI Natuna kembali melakukan pembinaan yang keempat kalinya untuk saling mengingatkan, karena persoalan wakaf merupakan amal jariyah.

“Jika bagus pahala akan mengalir terus, tetapi jika tidak bagus takutnya dosa mengalir terus,” ujarnya.

Adapun penerima bantuan modal usaha menuju pengelolaan wakaf produktif sebesar Rp 2 juta perorang ialah saudari Emi Zuleha, Ida Wati, dan Roni Metrio. (KP).


Laporan : Johan