Junaidi Syamsudin: “Mau Dikemanakan dan Dijadikan Apa Wisata Natuna?“

oleh -712 views
Junaidi-Syamsudin-Politisi-PDI-Perjungan

NATUNA (KP),- Saya melihat 19 tahun itu, bukan waktu yang pendek. Jika memang serius membangun. Kita ibaratkan pukul rata saja. Satu tahun 1 triliun, maka sudah ada 19 triliun. Dengan jumlah penduduk sekitar 80 ribu jiwa, dan setiap daerah memiliki tingkat kependudukan sangat jarang. Seharusnya sektor ini sudah tertata rapi.

“Gagal mungkin tidak, tetapi pemerintah masih belum memiliki fokus pembangunan. Pertama perkecamatan harus ada blue print. Dinas Pariwisata harus mendeteksi seluruh kawasan,“ kata Junaidi Syamsudin, Politisi PDI-Perjungan kepada koranperbatasan.com tahun lalu.

Lambatnya pengembangan objek wisata di Natuna menjadi catatan tersendiri oleh Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna, yang akrab disapa Bong Jun. Politisi lintas waktu itu, melihat belum ada objek wisata unggulan yang sudah terkelola secara utuh dan baik. “ Pertama, pemerintah tidak jelas settingnya, mau dikemana dan dijadikan seperti apa wisata ini,“ ujarnya.

Dengan tegas Bong Jun mengatakan, potensi wisata yang ada menjadi punah termakan usia. “Kita ini sudah 19 tahun lebih jadi kabupaten. Seperti di Kecamatan Bunguran Barat, ada beberapa tempat wisata berpotensi. Tapi sayang fokus pembangunannya tidak jelas. Kita punya Pantai Marus, kemudian ada dua pulau berpotensi seperti Pulau Jalik, dan Pulau Kukup semuanya sangat indah. Cuma sayang tidak dikelola oleh dinas terkait,“ tegasnya.

Menurut Bong Jun, selain wisata alam, daerah terluar ujung utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga memiliki ragam budaya layak untuk dikembangkan. “Pertama kita punya naturalnya, kedua wisata budaya. Kalau budaya ada banyak, termasuk budaya kelautan dan ini bisa dijual, seperti kem ikan. Kem ikan itu, kalau dirapikan oleh pemerintah tentu akan menjanjikan. Tapi sampai hari ini semua itu, belum dilakukan. Kalau seperti ini, tentu menjadi sulit untuk berkembang. Termasuk tidak adanya pengolahan sampah. Mana ada wisatawan mau datang, kalau sampahnya berserakan,“ tuturnya.



Bong Jun, memastikan untuk saat ini, Natuna khusunya di Kecamatan Bunguran Barat belum layak jika dijadikan tempat tujuan wisatawan. Karena berbagai infrastruktur dasar selama 19 tahun menjadi kabupaten belum terealisasikan. Pemerintah dalam hal ini disebutnya terkesan main-main dan tidak pernah serius. “ Artinya masih belum ada rencana yang jelas. Kalau sudah ada rencana yang jelas, siapapun lurahnya, siapapun camatnya, kepala dinasnya dan bupatinya tentu akan berkesinabungan. Sekarang ini pembangunan yang ada, tidak pernah tuntas,“ bebernya.

Ketidak seriusan Pemerintah Daerah dalam mengembang karunia illahi tersebut kata Bong Jun, terbukti dengan tidak tersedianya transportasi reguler. Sampai saat ini, Pemerintah Daerah juga belum berhasil menyediakan sarana dasar disejumlah tempat wisata alam. “Infrastruktur yang ada di pulau-pulau itu, juga belum dibangun. Mana mungkin orang mau kesana. Kalau buang air besar saja harus gali pasir. Nah, semua itu, adalah hal-hal dasar. Jadi itu, saja belum dilakukan. Padahal kita menjadi Kabupaten sudah 19 tahun lebih,“ imbuhnya.

Bong Jun, berharap mulai saat ini Pemerintah Daerah melalui dinas terkait sudah harus membuat master plan rencana pengembangan sektor wisata secara global. “Jadi harapan saya pemerintah harus fokus dalam membangun. Pertama perkecamatan itu harus ada blue print. Dinas Pariwisata harus mendeteksi seluruh kawasan. Misal di Serasan ada sunset kemudian dibuat petanya.

Serasan daerah sunset, daerah ini sunrise. Dari peta itu, dibuatlah peta induk. Dari peta induk, baru dicek infrastrukturnya. Kesana harus menggunakan apa. Nanti apa bila ada Musrenbang semuanya harus mengacu kesitu. Kalau ini dilakukan dari tahun ketahun. Saya yakin sudah lama selesai,“ pungkasnya. (KP).


Laporan : Redaktur



Memuat...