Diskominfo Sebut Sinyal Bukan Masalah Utama Natuna Tak Ikut STQH Tingkat Provinsi

oleh -526 views
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Raja Darmika, ST, MAP.

NATUNA – Mempertimbangkan situasi dan kondisi Kabupaten Natuna saat ini dikelilingi daerah PPKM Darurat, menjadikan Natuna daerah PPKM Mikro yang diperketat serta kekurangan persiapan pendukung berupa peralatan virtual adalah sebab utama sehingga Natuna tidak bisa mengikuti Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist (STQH) Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Ke-IX tahun 2021 secara virtual.

Pernyataan tersebut disampikan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Raja Darmika, ST, MAP, guna meluruskan simpang siur informasi terkait pembatalan keikusertaan Natuna sebagai peserta STQH secara virtual yang berlangsung pada tanggal 27-31 Juli 2021 di Tanjungpinang.

“Alasan utama tidak ikut bukan karena masalah sinyal. Tapi karena peralatan virtual tidak cukup dan anggaran tidak tersedia untuk membeli peralatan tersebut,” sebut Raja Darmika kepada koranperbatasan.com melalui pesan WhatsApp, Kamis, 29 Juli 2021 sore.

Menurutnya untuk bisa mengikuti jalannya kegiatan gawai keagaam seleksi tilawatil quran dan hadist secara daring, harus memiliki peralatan video confren untuk virtual tersedia sebanyak lomba yang akan diadakan.

“Untuk beli alat tidak teranggarkan, kira-kira begitulah. Bukan masalah sinyal. Jika acara daringnya di Ranai, tidak masalah. Hanya saja alat tidak mendukung, jadi bukan masalah sinyal yang utama,” tegas Raja.

Kata Raja Darmika, info sebelumnya kegiatan STQH bukan diadakan dalam bentuk daring sehingga kesiapan peralatan yang dibutuhkan tidak tersedia. Adapun pelatan yang dibutuhkan sebagai berikut :

  1. Kamera Support Zoom 1 unit
  2. Laptop / PC 4 unit, 2 untuk operator zoom, 2 untuk monitor CCTV,
  3. Perangkat Kontrol (iPad / Tablet) 4 unit, 2 unit kontrol lampu, 2 unit kontrol bel
  4. Monitor / TV + standing braket 4 unit Min. 65 inchi, 2 unit zoom, 2 unit monitor CCTV peserta
  5. Sound System – Mixer 2 unit Min. 4 channel – Speaker 2 set Stereo, Kiri-kanan – Microphone Wireless 2 set 1 set terdiri dari 2 wireless microphone – Kabel Audio In 2 unit 6.5mm to 3.5mm (aux) – Kabel Audio Out 2 unit 6.5mm to 3.5mm (aux)
  6. Perangkat Jaringan LAN 4 titik dengan kecepatan internet max. 10 Mbps dedicated 10 Account Zoom Pro

“Ini kebutuhan alat untuk STQH daring. Mengenai kenapa anggaran tidak tersedia bisa ditanyakan ke Kabag Kesra. Memang info awalnya tidak daring,” ungkapnya.



Supervisor Plasa Telkom Ranai, Yusnedi mengungkapkan rasa kecewanya kepada awak media terkait jaringan internet di Kedai Kopi Ayong, Ranai, Natuna, Kamis 29 Juli 2021.

Dikutip dari kepri.antaranews.com, Gubernur Provinsi Kepri, H. Ansar Ahmad menyebut STQH IX hanya diikuti oleh enam kabupaten/kota. Satu kabupaten tidak dapat mengikuti gawai tersebut karena belum memiliki sinyal memadai.

“Natuna dalam masalah pandemi Covid-19 serta tidak didukung perangkat teknologi dan sinyal memadai untuk mengikuti proses STQH secara virtual,” terang Ansar usai membuka secara resmi kegiatan STQH di Aula Wan Seri Beni, Tanjungpinang, Selasa, 27 Juli 2021.

Menanggapi hal itu, Supervisor Plasa Telkom Ranai, Yusnedi merasa keberatan, jika leletnya jaringan internet menjadi penyebab utama sehingga Natuna tidak bisa mengikuti STQH Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Ke-IX tahun 2021 secara virtual.

Alasan tersebut menurutnya tidak masuk akal dan sangat merugikan pihaknya sebagai penyedia layanan internet di Kabupaten Natuna.

“Secara garis besarnya para penyedia provider merasa tersinggung. Memang secara materi tidak dirugikan, tetapi secara mental kami merasa terpukul, seolah-oleh kami tidak bisa menyedikan kapasitas jaringan internet di Natuna,” pungkas Edy panggilan akrab Yusnedi kepada awak media di Kedai Kopi Ayong, Ranai, Kamis 29 Juli 2021.

Kata Edy meskipun Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna, saat tidak menggunakan jaringan internet Telkom namun bukan berarti Natuna tidak memiliki jaringan internet yang memadai. Apalagi hanya sebatas untuk mengikuti kegiatan STQ secara virtual.

“Memang Pemda Natuna tidak ada kontrak dengan Telkom, mereka menggunakan Moratel salah satu perusahaan penyedia akses jaringan. Tapi bukan berarti Natuna tidak memiliki kapasitas jaringan internet memadai,” sebutnya.

Terkait jaringan internet, Edy memastikan sejauh ini pemerintah daerah tidak ada berkoordinasi dengan para provider-provider terkait kesiapan jaringan internet di Natuna.

“Jangan tiba-tiba bilang internet tidak memadai, coba koordinasikan dulu kira-kira sanggup tidak provider menyediakan sarana untuk mengikuti kegiatan STQH secara virtual. Malahan kalau mereka minta sesuai kuota bandwidth yang ada berapapun akan kita kasih,” tegasnya.

Seharusnya lanjut Edy, pemerintah daerah terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak operator menanyakan kesiapan mereka untuk menyediakan jaringan yang bagus untuk kegiatan tersebut.

“Tidak adanya koordinasi dengan pihak kami, sehingga mungkin mereka tidak tahu kalau kami siap mensupport terlaksanya STQH itu,” ungkapnya.

Menurut Edy, sampai saat ini jaringan Telkom di Kabupaten Natuna terbilang bagus bahkan mampu. Oleh karena itu, Ia berharap kedepan ada koordinasi yang baik antara pihak pemkab dengan para provider.

“Jangan ada prasangka yang lain, saat ini masyarakat menilai internet di Natuna lemah, gara-gara pernyataan itu,” tutupnya. (KP).


Laporan : Hairil