Makam Tua di Segeram Hilang! Kok Bisa???  

oleh -604 views
Salah satu makam tua di Kampung Segeram yang terlihat mulai punah karena tidak terlestarikan

NATUNA – Ada banyak makam tua di Kampung Segeram, Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, diyakini masyarakat setempat bukanlah makam dari kalangan orang biasa. Sayangnya, satu diantara beberapa makam tua itu telah diyatakan hilang.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pembina Yayasan Abdi Umat (YAU) Kabupaten Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I kepada koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Rabu, 29 September 2021.

“Menurut cerita masyarakat seperti itu, ada satu makam yang hilang ikut tergusur saat pembukaan jalan, saya pun tidak lihat. Menurut cerita masyarakat makam tersebut termasuk makam orang yang istimewa. Nisannya terbuat dari batu laut, dan terukir rapi,” ungkapnya.

Kata Umar Natuna, kewenangan mengamankan cagar budaya yang ada tentunya tidak hanya pada dinas terkait, tetapi melibatkan aparatur-aparatur yang ada di tingkat kelurahan, kecamatan, bahkan termasuk masyarakat setempat.

“Kewenangan mengamankan wilayah dan segala macam, itu kan ada di kelurahan dan kecamatan, Dinas Pariwata dan Kebudayaan itu kan pelestariannya, untuk penjaga awalnya, bisa masyarakat di situ,” tuturnya.

Ia menilai cagar budaya di Kampung Segeram terkesan terbiarkan, karena tidak ada pengamanan dan pelestarian, berdampak pada pemikiran masyarakat menganggap barang-barang seperti itu tidak punya nilai sejarah. Padahal cagar budaya yang ada di Kampung Segeram diketahui memiliki nilai sejarah masa lalu, sebuah aset beharga bagi daerah.

“Itu kelemahannya memang di pemerintah daerah, kurang mensosialisasikan nilai-nilai sejarah itu. Akibatnya masyarakat tidak paham, ada orang menggali atau segala macam, karena tidak begitu peduli. Selama STAI Natuna masuk dari tahun 2017 mengadakan kegiatan-kegiatan, memang jarang aparatur dari kelurahan maupun kecamatan itu sampai ke Segeram,” cetusnya.



Pembina Yayasan Abdi Umat Kabupaten Natuna bersama tim STAI Natuna sedang berbincang-bincang dengan salah seorang tokoh masyarakat Segeram

Hilangnya salah satu makam tua itu, tentu saja membuat Umar Natuna prihatin, ia sangat menyayangkan hal tersebut, karena pemerintah daerah sudah tahu bahwa cagar budaya di Kampung Segeram itu memiliki nilai-nilai sejarah tinggi, namun tidak ada pengamanan.

“Sosialisasi kepada masyarakat, atau ditunjuklah oleh pemerintah siapa perwakilan dari masyarakat yang bertanggungjawab. Dari pihak kelurahan, kecamatan, atau dinas terkait bisa menunjukan salah satu dari masyarakat, dan mereka (pemerintah-red) juga bisa koordinasi dengan pihak-pihak lain,” ujarnya.

Menurut Umar Natuna, pentingnya upaya-upaya preventif dari pemerintah daerah melalui dinas terkait, sebelum menggali nilai-nilai yang terkandung pada cagar budaya tersebut. Paling tidak langkah pertama yang harus dilakukan ialah memberikan pengaman pada setiap makam-makam tua yang ada.

“Perlu pengamanan, area makam-makam itu sebaiknya diberikan pagar dan dibersihkan, memang ada banyak makam di Segeram itu, tetapi yang punya aksitektur nisannya istimewa dan segala macam, tidak terlalu banyak,” sebutnya.

Ia memastikan, Makam Tujuh yang ada di Kampung Segeram sudah tidak memiliki nisan, begitu yang diyakini oleh masyarakat setempat yaitu Makam Putri Bulan di Gunung Sedenuk, hanya terlihat tumpukan-tumpukan tanah.

“Tapi memang tumpukan itu berbeda dari yang lain. Makam di Segeram itu, nisannya di atas tumpukan tanah yang tinggi. Kalau kita kan sama datar dengan tanah dasar. Jadi yang tidak ada nisan tetap saja nampak bentuk makamnya,” terang Umar Natuna.

Umar Natuna berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait sebelum melakukan riset segera mengamankan cagar budaya itu terlebih dahulu. Tujuannya agar tidak hilang jejak sejarahnya, karena Segeram merupakan rahim peradaban Melayu Natuna. (KP).


Laporan : Johan