Arkeologi Nasional Sebut Masyarakat Natuna Dulunya Bukan Kaleng-kaleng

oleh -925 views
Drs. Sonny Chr. Wibisono, M.A, DEA sedang memaparkan hasil temuan beserta alasan untuk diketahui bersama

NATUNA – Berbagai temuan mulai dari Beliung Batu, Temikar, keranda berbentuk perahu, keramik-keramik tua, dan makam-makam tua, spesies cengkeh kampung, bahkan sekelompok rangka-rangka manusia yang dikuburkan secara berhamburan ada di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Drs. Sonny Chr. Wibisono, M.A., DEA selaku Peniliti Utama Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penelitian Arkeologi di Perbatasan Natuna.

“Kemarin kita ke Batubi, keranda-keranda itu bagus sekali, diperkirakan abad ke 14. Keranda itu diamankan oleh warga setempat, ini patut diapresiasi. Kita mendapat informasi di Setapang juga ada, namun sudah sama-sama kosong tidak ada keramiknya lagi,” ungkap Sonny di Natuna Hotel, Jalan HR Soebrantas, Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur, Sabtu, 09 Oktober 2021.

Menurutnya, penemuan barang-barang tua bisa menjadi bukti bahwa wilayah Natuna pada masa-masa dahulu dihuni oleh orang-orang selat (orang laut). Bahkan cukup mengkonfirmasi dahulunya Natuna merupakan wilayah besar yang ada di hujung Utara Indonesia.

“Kelompok masyarakat laut yang se-jaman itu ada di Malaysia. Teman-teman arkeolog saya disana memberikan informasi juga seperti itu. Serawak ada gua niah, ketemu juga keranda-keranda seperti disini,” pungkasnya.

Tidak hanya dibagian Utara Indonesia, fenomena yang cukup lama sebagai bagian dari penduduk-penduduk maritim asia tenggara, ternyata di Sulawesi juga ditemukan hal serupa.



“Orang disini bilangnya seperti kolek, juga berhubungan dengan masyarakat laut yang terus ada sampai abad ke 19. Seperti misalnya Suku Bajo di Sulawesi, di daerah Riau orang-orang selat, di Singapore juga seperti itu. Pulau Tujuh ini bagian rumahnya juga, temuan ini mengkonfirmasi adanya orang seperti itu pernah tinggal disini,” terangnya.

Kata Sonny, saat ini pihaknya masih mecari tahu, yang paling lama kapan orang selat mulai masuk di Natuna. Hal itu dikarenakan dari hasil temuan menunjukkan bahwa ada kelompok yang hidup di Natuna pada abad ke 13.

“Mata pencahariannya itu misalnya jualan teripang, dipertukarkan dengan pedagang-pedagang katika ingin menjual ke Cina. Mereka memang hidupnya di laut, namun mungkin sebagian juga ada di darat. Mata pencaharian seperti gaharu, ini penduduk yang sudah lama ada di wilayah perairan asia tenggara seperti Indonesia. Di Fhilipina terutama, itu mirip sekali,” ungkapnya.

Menariknya lagi, selain mengubur keramik-keramik dalam sebuah keranda berbentuk perahu, sebelumnya terdapat fase dimana kebiasan orang-orang masa itu di kubur dengan benda-benda atau harta-hartanya. Seperti keramik dan keris, yang ditemukan di Desa Tanjung.

“Cuma sayangnya sudah di pacok, kepala dan beberapa bagian lainnya hilang atau tidak utuh lagi. Pemacok ini mengambil keramiknya, mereka mungkin tidak tahu bahwa di bawah keramik-keramik itu ada rangka manusia. Berbeda dengan fase keranda-karanda, tetapi tetap orang-orang yang menghuni Natuna. Itu juga ada di Sedanau, Pulau Tiga dan hampir di semua pulau-pulau di Natuna,” jelasnya.

Diakui Sonny, saat ini masih belum mempunyai data tentang siapa orang yang pertama menghuni Natuna. Namun telah ditemukan Beliung Batu dan Tembikar di Gua Batu Sindu, yang mungkin pertama kali orangnya masih tinggal di gua seperti itu.

“Umumnya ditemukan di wilayah pinggiran Laut Cina Selatan, Vietnam, Fhilipina, Serawak dan lain-lain. Cuma kita tidak menemukan arang, itu penting sekali, kalau kita masukan ke laboratorium, C 14-nya bisa menghasilkan penanggalan,” tegasnya.

Ia sangat menyayangkan, saat ini pihaknya tidak bisa meneliti lebih lanjut untuk menemukan arang itu dikarenakan Gua Batu Sindu sudah di tutup. Jika diizinkan masuk kembali, pihaknya berencana akan melanjut penelitian di Gua Batu Sindu tersebut.

“Situs yang ditemukan di Gua Batu Sindu belum ditemukan di wilayah Natuna yang mempunyai potensi seperti itu. Sebenarnya ingin menurunkan peneliti-peneliti kita yang bergeraknya di wilayah itu, abad-abad pertama dan kedua. Kalau mungkin diizinkan di buka lagi, kita akan melakukan penelitian dimasa mendatang, karena itu sangat membantu. Kita tidak ingin memiliki tempatnya, tetapi mencari apakah ketemu sisa-sisa salah satu arang itu tadi,” ujarnya.

Kemudian lanjutnya, terdapat pula peninggalan jaman Kesultanan Johor, ditandai dengan adanya makam-makam Islam. Natuna juga terdapat banyak makam-makam Islam seperti yang ada di Pulau Tiga, Kelarik, Sedanau dan Kampung Tua Segeram.

“Segeram banyak juga, ukirannya bagus-bagus, tidak semua wilayah punya peninggalan seperti itu. Di Sedanau kita ketemu namanya tambo-tambo. Itu satu lagi komunitas orang Natuna berbeda dengan yang lain. Jadi saya pikir disini banyak jenis orang dengan kebudayaannya masing-masing. Kalau kita anggap penguburan itu wakil dari suatu tradisi, maka banyak orang-orang yang dari berbagai tempat tinggal disini,” tutur Sonny.

Dari bebagai temuan, Sonny mengamati Pulau Tujuh (Natuna) dahulunya menyatu di bawah satu kekuasan yang namanya Riau Johor dan Riau Daratan. Itu yang menyebabkan abad 16-17 perdagangan dunia dan sekitarnya naik. Hal itu dideteksi dari sektor yang paling penting, yaitu adanya spesies Cengkeh Kampung.

“Tidak disangka disini ada cengkeh, saya pikir cuma ada di Maluku. Jadi ini saya curiga, apakah ini bagian dari jalur rempah Maluku di kirim sama pedagang disini, sehingga mereka menanam juga di daerahnya. Jadi tidak usah jauh-jauh kesana, mereka cegat di dareh ini,” cetusnya.

Hal itu membuatnya berkeinginan menelusuri lebih lanjut, DNA Genom tanaman cengkeh apakah berasal dari Natuna atau Maluku. Karena selama ini pihaknya mengetahui bahwa cengkeh endemik Maluku. Jalur yang cukup panjang, mungkin dari Maluku tidak lewat Jawa Selatan, tetapi lewat Utara Kalimantan masuk kesini, yang jelas ada di Selat Malaka,” terangnya.

Ia menyimpulkan, pulau-pulau di katakan terpencil di wilayah Indonesia, pada masa dahulu tidak begitu. Dimana memiliki hubungan yang sangat erat antar pulau. Berada di garis depan, Natuna pernah berkembang dengan suatu sistem perekonomian yang cukup kuat. Jika dahulu pernah berkembang kuat, kenapa hari ini tidak bisa memperkuatkannya lagi.

“Merevitalisasi kembali, itu tinggal masyarakat sekarang, tapi masyarakat dahulu sebetulnya bukan kaleng-kaleng,” tegasnya.

Diakui Sonny, pihaknya memililki dokomen-dokumen dari arsip nasional, dimana wilayah-wilayah kepulaun Pulau Tujuh seperti Anambas, Serasan, dikuasi oleh Riau Johor diambil  Belanda, setelah itu diserahkan ke Riau Daratan atau Rau Lingga.

“Sejarahnya kepulaun ini milik Indonesia, cukup menarik artinya bisa dikembangkan tidak hanya ekonominya, mungkin pariwisatanya,” sebut Sonny.

Ia menejelaskan, salah satunya Natuna memiliki spesies Cengkeh Kampung yang bisa dikembangkan di masa sekarang. Jika bisa merevitalisasi kembali seperti masa-masa dahulu tentu akan mempercepat pertumbuhan ekonomi di Natuna.

“Tidak usah menunggu musim cengkeh melainkan disiasati bikin minyak sendiri, sehingga mempunyai nilai-nilai tambah yang cukup untuk masa sekarang. Arkelog itu biasanya bukan ahli ekonomi, tapi bisa memberikan aspirasi orang-orang sekarang. Dulu bisa seperti itu, kenapa tidak bisa dibuat masa sekarang, tinggal didetilkan oleh ahlinya disini. Kita mulai meneliti disini tahun 2010 dan terus berlanjut, kita sudah ketemu beberapa situs dan sudah mulai mengerti Natuna ini seperti apa dahulunya,” terang Sonny.

Menurutnya ada satu fase lagi yang dibuktikan dengan adanya temuan kuburan masal di Desa Sepempang. Tedapat rangka-rangka manusia sudah tidak karuan atau di kubur dengan cara yang tidak baik.

“Setelah baca-baca dan dapat informasi dari teman wilayah Singapore dan sebagainya, disini pernah ada wabah penyakit, diperkirakan abad 17-18 sekian. Hampir melibas semua penduduk di wilayah kepulauan. Menurut saya itu merupakan contoh kematian masal ada di Natuna, mungkin bagian timur ini suatu ketika orang lenyap semua, kata Pak Hadisun di Sebuton juga ada,” tuturnya.

Di Desa Sepempang lanjut Sonny, ada banyak penjelasan didapatkan seperti itu, makanya pada peta-peta 1909 terjadi perubahan. Ia melihat di sepanjang pantai timur terdapat banyak situs dan keramik. Di Sebuton Selatan juga begitu, mungkin anjloknya salah satu fase karena wabah, penduduk menyusut, kemudian orang-orang meninggalkan pemukiman di sebelah timur.

“Munculnya pernah dipercinaan Penagi, Pian Padang yang tersisa, kelihatan bangkit besar lagi pada permulaan abad 19, pulau-pulau juga begitu dan sebenarnya padat penduduk,” paparnya.

Sebagaimanan diketahui kegiatan FGD Penelitian Arkeologi di Perbatasan Natuna juga disiarkan secara live melalui akun instagram arkeologi_nasional. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Kabupaten Natuna, Hadisun, S.Ag, Kepala Bangkesbangpol Kabupaten Natuna, Drs. Muhtar Achmad, M.Eng, Sekretaris DPMD Kabupaten Natuna, Tabrani, S. Sos. M.,Si, perwakilan SMAN 1 Bunguran Timur, perwakilan SMAN 2 Bunguran Timur, dan beberapa komunitas serta penggiat budaya. (KP).


Laporan : Johan