Mengenal Pulau Panjang dan Nelayan Bilis

oleh -438 views
Yunita salah satu pengunjung saat menginap di Pulau Panjang bersama rekan-rekannya, Selasa, 19 April 2022 lalu. (Foto : Cherman).

NATUNA – Pulau Panjang yang berada di Desa Teluk Buton, Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengunjung karena keindahannya, serta menjadi berkah bagi para nelayan setempat karena berlimpahnya hasil lautnya, terutama ikan teri.

Selain pantai, terumbu karang, penyu, matahari terbit dan tenggelam bisa dilihat dengan jelas, serta pemandangan lampu para nelayan disepanjang pinggiran pantai juga menambah suasana di pulau kosong tersebut semakin menarik.

Untuk tiba di Pulau Panjang bisa mengunakan jalur darat satu jam perjalannan dan dilanjutkan menyebrang mengunakan pompong nelayan kurang lebih setengah jam.

“Malam ini saya bisa lihat jelas galaksi bintang, disusul dengan munculnya bulan dan dikelilingi lampu para nelayan, sungguh luar biasa,” ungkap Yunita salah satu pengunjung saat menginap di Pulau Panjang bersama rekan-rekannya, Selasa, 19 April 2022 lalu.

Nita sempat melakukan snorkling, sementara rekannya yang lain terlihat menyiapkan tempat peristirahatan berupa alas tidur di pasir tanpa menggunakan tenda.

“Saat snorkling tadi sore saya bertemu gerombolan ikan, luar biasa seru, ikan teri kayaknya, banyak sekali,” ujar wanita asal Jakarta itu memuji keindahan bawah laut Pulau Panjang.

Nita juga mengatakan, keindahan pantai dan kegiatan nelayan menjadi daya tarik tersendiri, namun masih perlu ada penataan serta pasilitas penujang lainnya.



“Dikemas dengan baik, maka Pulau Panjang akan menjadi tujuan wisata sangat menarik. Misalnya disediakan kamar bilas, toilet dan pondok yang menjadi tempat persinggahan para nelayan itu ditata dan terlihat tradisionalnya,” tutur Nita.

Nita salah satu pengunjung asal jakarta saat snorkling bertemu gerombolan ikan ikan teri di bawah laut Pulau Panjang. (Foto : Cherman).

Sementara kebiasaan nelayan setempat juga menjadi keunikan tersendiri bagi para pengunjung saat para nelayan melakukan pengolahan hasil tangkap berupa ikan teri.

Cara bertani salah satunya adalah ladang berpindah, hal serupa juga dilakukan oleh para nelayan bilis (nelayan ikan teri) yang selalu berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau yang lainya, demi memburu ikan teri di Natuna.

Salah satu nelayan berpindah tersebut adalah Karianto (59) ayah dari lima orang anaknya tersebut sepanjang tahun berpindah-pindah demi memburu kawanan ikan teri atau masyarakat setempat menyebutnya ikan bilis.

“Saya melakukan ini sudah sejak tahun 2003, saya asli Pontianak, ke Natuna sejak 1997, KTP saya beralamat di Penagi, Ranai,” kata Karianto usai merebus bilis miliknya di Pulau Panjang, Desa Teluk Buton, Bunguran Utara, Natuna, Selasa 19 April 2022.

Berada diperairan Desa Teluk Buton, Pulau Panjang dapat ditempuh dari pusat kota Ranai melalui jalan darat kurang lebih satu jam perjalanan dan dilanjutkan dengan menyeberang sekitar 30 menit menggunakan pompong untuk tiba di Pulau Panjang.

Selain keindahan alamnya yang menjadi tujuan para pengunjung, Pulau Panjang juga menjadi tujuan para nelayan berpindah saat berburu bilis.

“Selain Pulau Panjang, di Ranai juga ada, Pulau Kemudi di Cemaga, sekitar sini juga ada Pulau Bunga, Pengadah dan Sujung,” ungkap Karianto yang telah tinggal di Pulau Panjang sejak awal Maret lalu.

Satu bulan lebih sudah Ia berada di Pulau Panjang dan akan terus berada di Pulau Panjang hingga November sebelum pindah ke pulau yang lainnya.

“Tahun kemarin disini yang paling banyak bilisnya, biasa selain disini di Sujung juga pernah panen besar, namun disini sejak dahulu sudah terkenal akan banyak bilisnya,” pungkas Karianto.

Ia bersama empat rekannya sejak awal musim bilis kali ini telah mengumpulkan 10 kilo gram bilis kering.

“Selama sebulan lebih ini baru dapat dua tong lebih atau 10 kilo kering, kadang tiap malam kita turun tidak mesti dapat, kadang dapat kadang tidak dapat sama sekali. Tetapi orang lain setiap malam ada saja yang dapat, ini baru awal musim masih belum banyak, nanti bulan enam atau bulan tujuh nanti banyak, biasanya begitu,” ujar Karianto.

Menurutnya, nelayan bilis melilih untuk berpindah-pindah karena menyesuaikan dengan keberadaan kawanan bilis yang selalu berpindah setiap musimnya.

“Sedikitnya 120 pompong nelayan bilis tampak di sini, Nelayan Teluk Buton saja sekitar 80, ditambah nelayan dari daerah lain seperti saya dan rekan yang lain,” ungkap Karianto.

Pulau Panjang banyak menjadi tujuan para nelayan karena selain teduh, terlindung dari gelombang, juga memiliki sumber mata air, serta memiliki daerah tangkap bilis sangat dekat dengan daratan, hanya beberapa meter di pesisir pantai.

“Bilisnya banyak karena pengaruh nelayan sekarang punya cara tangkap berbeda, kalau dulu seberapa banyak saja bilisnya diambil, yang ada diambil semua, seberapa pampu kita panen, sekarang kita tidak begitu, ambil secukupnya saja, karena jika ambil banyak juga percuma bilisnya akan rusak, menumpuk telalu banyak dan keterbatasan waktu saat mengolahnya,” tutur Karianto.

Ia juga menceritakan kenapa dulu para nelayan tidak mengatur jumlah tangkap. Hal itu dilakukan karena cara pengolahan bilis dahulu hanya dijadikan Pedak (permentasi ikan teri) atau warga setempat menyebutnya Pedek.

“Dulu kita hanya tau cara di garam lalu di jemur dan di pedek (permentasi) namun sejak tahu 2016 nelayan beralih ke teknik pengeringan dengan cara direbus, sekarang rebus,” ujarnya.

Karianto usai merebus bilis miliknya di Pulau Panjang, Desa Teluk Buton, Bunguran Utara, Natuna, Selasa 19 April 2022. (Foto : Cherman).

Pengolahan dengan cara tersebut dipilih karena biaya pengolahan dinilai lebih murah jika dijadikan Pedek.

“Karena Pedek harus membutuhkan banyak garam, dan juga hasil jualnya lebih murah. Sedangkan untuk bilis rebus setelah kering itu lebih mahal, jadi kalau dapat 2 atau 4 tong (wadah bekas kaleng cat ukuran 25 Kilo) langsung pulang, tidak lebih dari itu karena jaga kualitas”, kata Karianto.

Berada di sebuah gubuk, masing masing nelayan memiliki tim kerja masing masing saat melakukan pengolahan hasil tangkap mereka.

“Ada petugas rebus, dan ada yang nangkap, paling lambat 2 jam harus sudah direbus, kalau tidak hasilnya nanti tidak bagus”, imbuhnya.

Untuk perbandingan harga, Ia mengatakan saat ini harga Pedek sekitar 7000 per kilonya, sedangkan bilis kering mencapai 45 ribu hingga 50 ribu rupiah perkilonya.

“Jika kita bandingkan dapat 2 tong dijadikan pedek sekitar 50 kilo, kalau bilis kering menjadi 10 kilo namun harganya jauh lebih mahal. Pedek ada biaya garam, kalau bilis rebus kita tidak ada beban biaya garam, merebus juga gunakan air laut, jadi sudah asin, kalaupun pakai sedikit saja,” paparnya.

Pengolahan dengan cara merebus saat ini juga tidak semuanya memilih berada di daratan pulau, ada juga dengan cara membangun sebuah pondok di tengah laut sebagai tempat pengolahan yang dibantu para istri – istri mereka agar pengolahan bisa dilakukan lebih cepat.

Puluhan hingga ratusan lampu perahu setiap malam terlihat menghiasi perairan pulau panjang dan tidak terlihat bagan seperti daerah lain karena kesepakatan nelayan setempat untuk tetap mengunakan cara tradisional saat melakukan panen bilis.

“Kalau bagan tidak boleh dekat, mereka minimal 3 mil, jadi yang boleh hanya pompong kecil seperti kami dengan ukuran setengah hingga satu ton saja”, kata Karianto.

“Saat ini saya gunakan pompong milik bos, kalau dulu pompong saya sendiri, sekarang kerjasama bos, saat ini sementara kita tinggal berdua, kemaren berlima, yang lain ingin lebaran di kampung”, ujar Karianto.

Selain Karinto tampak juga nelayan asal Kelarik, Desa Tanjung dan Teluk Buton masih bertahan di Pulau Panjang jelang lebaran.

Meskipun berpindah – pindah, Karianto mengatakan Ia tetap memilih berprofesi sebagai Nelayan Bilis karena dibandingkan kerja buruh bangunan jauh lebih besar penghasilan menjadi Nelayan Bilis.

“Saya sempat kerja jadi buruh bangunan, meskipun harga bilis dari dulu hingga sekarang masih sama, tetapi stabil, yang menentukan hanya cuaca dan daerah juga, namun boleh dibilang stabil, yang paling penting kerjanya tidak seberat kerja buruh bangunan”, kata Karianto.

Jika cuaca cerah menurut Karianto hanya membutuhkan 4 hingga 5 jam proses pengeringan telah selesai dilakukan dengan cara di jemur.

“Mengeringkan bilis setelah di rebus jika panas terik 4 jam sudah kering dan itu tahan disimpan hingga 3 sampai dengan 4 bulan”, ujar Karianto.

Menurutnya dengan cara di oven memang lebih membantu, namun panas matahari lebih cepat kering.

“Kedua cara tersebut bisa dilakukan jika memiliki modal. Saya sering membuang hasil tangkap, setiap tahun pasti terjadi, sering dibuang jika sudah di rebus tiba – tiba cuaca buruk tidak bisa di jemur, busuk, terus di buang”, kata Karianto.

Saat ini menurut Karianto kendala ada pada pengepul dengan sekala besar yang belum ada di Natuna.

“Saat ini belum ada penampung besar, masih bos sekala kecil, meskipun begitu kita alhamdullilah tidak terdampak dengan COVID – 19, tidak berpengaruh baik harga maupun penampung tetap stabil”, kata Karianto.

Berada di Pulau Panjang, tidak menjadikan Karianto bosan karena selain pulaunya indah juga selaku ramai oleh para pengunjung.

“Tidak begitu sepi, banyak nelayan dari daerah lain dan ada saja pengunjung yang datang disini. Yangbpaling penting Pulau Panjnag ini unggul dan terkenal dari dulu bilisnya banyak”, ujarnya. (KP).


Laporan : Redaktur