Bangkitkan Wisata Perbatasan Melalui Komunitas

oleh -375 views
Zain, penggiat wisata Natuna

NATUNA (KP) – Wilayah perbatasan seperti Natuna memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Tidak hanya letaknya strategis yang berbatasan dengan banyak negara, tetapi banyak potensi bisa digarap, salah satunya adalah sektor pariwisata.

“Hal ini ditegaskan oleh Beyond Borders Indonesia, komunitas yang peduli dengan wilayah perbatasan Indonesia saat menyelenggarakan diskusi online “Beyond  Borders Talks On Tourism”  pada hari Rabu 21 April 2021 kemarin,” kata penggiat wisata Natuna, Zain, Kamis, 22 April 2021.

Ia mengungkapkan, dalam diskusi tersebut ditegaskan oleh Dr. Rahtika Diana, Founder Beyond Borders Indonesia yang mengatakan pentingnya networking atau jejaring di era digital dengan wilayah perbatasan Indonesia yang meliputi 50 kabupaten dan kota serta 1800 desa mulai dari sabang hingga merauke.

“Jejaring yang dibangun oleh komunitas Beyond Borders Indonesia ini menjadi wadah bagi masyarakat di wilayah perbatasan,” ujar Zain.

Ia juga mengatakan bahwa Natuna memiliki beragam potensi wisata khususnya sektor wisata bahari.

“Berdasarkan pengalaman yang dicari wisatawan asing dan yachter itu adalah originalitas, keamanan dan kenyamanan. Ketiga faktor ini penting karena menjadi kebutuhan wisatawan, apabila salah satu tidak terpenuhi belum tentu wisatawan asing akan datang, dan Natuna memiliki itu,” ungkapnya.



Namun permasalahan utama khususnya perbatasan seperti Natuna saat ini terkendala pada aksesibilitas.

“Kita bisa banyak belajar dari negara – negara yang berbatasan dengan negara lain, contohnya kepulauan Fiji, French Polinesia atau Hawaii,” sebut Zain.

Ia mencontohkan sejauh ini sebenarnya event nasional yang melibatkan wilayah perbatasan laut Indonesia telah berjalan seperti festival bahari Sail Wonderful dan Sail to Natuna –  Anambas, namun dalam hal ini masih perlu adanya kesiapan masyarakat itu sendiri.

Hal senada juga dikatakan Fitri, perwakilan Komunitas Carventer.id yang menyebutkan perlunya ada gerakan promosi desa – desa di wilayah perbatasan agar dapat perhatian pemerintah pusat.

“Karena itu kami Komunitas Caventer.id telah bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan desa wisata di daerah – daerah termasuk perbatasan,” kata Fitri.

Ia juga mengatakan dari sejumlah desa wisata yang dikembangkan oleh pemerintah saat ini, sangat sedikit sekali berada di wilayah perbatasan.

“Keunikan Natuna dengan melibatkan pertahanan dalam event-event pariwisata juga bisa menjadi daya tarik tersendiri seperti di Korea Utara,” kata Fitri.

Sementara, Budhi Toffie dari Exotike Maluku Tenggara membagikan pengalamannya dalam mengembangkan wisata bahari sejak tahun 2007, hal yang penting untuk diperhatikan terkait wisata yacht atau cruise adalah penanganan Beacukai, Imigrasi dan Karantina (CIQP).

“Pelayanan terkait CIQP menunjukkan kualitas pelayanan kita terhadap wisatawan”, ujarnya.

Selain itu, tidak kalah penting adalah memperkenalkan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki melalui desa wisata.

Diskusi yang melibatkan berbagai komunitas wilayah perbatasan Indonesia tersebut diantaranya Kepulauan Tanimbar, Maluku Barat Daya, Raja Ampat, Kepulauan Aru, Natuna, Gorontalo Utara, Anambas dan NTT. (KP).


Laporan : Cherman