Sudah Ada Sejak Dulu, Muhtar Achmad: Pendidkan Karakter Harus Dibangun dan Dijaga

oleh -334 views
Drs. Muhtar Achmad, M.Eng Kepala Bakesbapol Natuna, menjawab pertanyaan wartawan koranperbatasan.com terkait masa depan anak.

NATUNA – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah (Bakesbangpol) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Drs. Muhtar Achmad, M.Eng menyebutkan pentingnya pendidikan karakter dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menurut Muhtar, tanpa disadari sejak dulu orang tua sudah mendidik anak-anaknya dengan pendidikan karakter.

“Contoh, orang tua meminta anaknya ke warung membeli barang dengan memberikan uang yang lebih dari harga barang. Setalah dibelikan, kembaliannya di kasih ke orang tua atau tidak, artinya apa, membentuk karakter kejujuran,” sebutnya kepada koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Jum’at, 23 Juli 2021.

Pada masa pandemi Covid-19 kata Muhtar, pendidikan karakter bisa menjadi inovasi bagi orang tua terhadap anak-anaknya. Seperti yang telah diketahui bahwa pendidikan di masa pandemi Covid-19 menjadi tantangan baru. Keberlangsungan dunia pendidikan dengan bantuan teknologi. Guru dan orang tua pasti memiliki manajemen menghadapi kondisi itu.

“Artinya saya yakin dan percaya, dinas pedidikan  pasti sudah memberi arahan. Terutama dari kementerian pendidikan memberi solusinya supaya pendidikan terus berjalan paling tidak jangan sampai seperti keluhan masyarakat,” katanya.

Menanggapi kesulitan orang tua yang tidak memiliki android lanjut Muhtar, itulah tanggungjawab kita bersama. Tergantung orang tua, masyarakat dan guru bagaimana menyiasati itu. Kearipan lokal masing-masing seperti apa, sedangkan kita tidak boleh berkumpul.

“Bisa saja kereatifitas anak-anak itu dibangun melalui hobinya. Begitu juga orang tua, masyarakat dan guru bisa menyiasati itu karna anak-anak tidak bisa kita paksakan,” imbuhnya.



Di masa dini, paling tidak bagaimana mereka bisa membangun karakter, jujur, patuh dengan orang tua, saling membantu sesamanya. Jika karakter itu sudah di tanamkan sambil berjalan pun bisa diajarkan, karena pendidikan tidak hanya membaca dan menulis. Di tengah pandemi Covid-19, bagaimana kita menyiasati atau mengolah memanajemen pendidikan ini.

“Sama halnya orang tua dulu, ketika selesai melaksanakan ibadah Shalat Maghrib, mereka mengajari anak-anaknya belajar mengaji. Bisa jadi anak-anak belum bisa membaca dan menulis, tetapi sudah  mengenal huruf hijaiyah,” pungkasnya.

Dengan 76 tahun indonesia merdeka ini lanjut Muhtar, harapan saya lebih pada pendidikan karakter sambil pendidikan lainnya. Karena pandidikan karakter itu harus dibangun dan dijaga.

“Harus dikembangkan ke anak-anak didik kita. Mengajarkan dan mengerjakan serta menjadi contoh,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan