Makanan Kuah Tige Pesan Moral Kehidupan Masyarakat Natuna Tempo Dulu

oleh -442 views
Kuah Tige salah satu jenis makanan khas Natuna yang telah ada sejak zaman dahulu.

NATUNA – Kuah Tige merupakan makanan khas Natuna yang telah ada sejak zaman dahulu. Makanan unik ini disebut sebagai Kuah Tige karena sajiannya terdiri dari tiga jenis makanan yang digabung dalam satu piring, yaitu sagu butir, singkong rebus dan kelapa kukur yang kemudian diguyur dengan kuah gulai ikan.

“Tradisi ini mungkin tidak dijumpai oleh anak-anak kita zaman kini hari. Anak-anak kita mungkin sudah tidak kenal lagi dengan makanan khas daerah yang satu ini. Padahal Kuah Tige ini makan tradisi orang tua kita dulu,” sebut Camat Bunguran Timur, Hamid Asnan, S.Pd, MA kepada koranperbatasan.com Kamis, 29 Juli 2021.

Dalam pesan singkat yang dikirim Camat Bunguran Timur melalui WhatsApp kepada redaksi koranperbatasan.com menyebutkan kebiasaan ini merupakan salah satu upaya orang tua kita untuk berhemat beras. Karena pada waktu itu, kita masih kecil dan beras memang sulit didapatkan.

“Saat itu kalaupun ada harganya cukup mahal. Kisaran harga Rp 150 – 200 ribu perkilonya. Angka segitu pada zamannya cukup tinggi dan hanya orang-orang tertentu saja yang mungkin dengan mudah dapat membeli,” ungkapnya.

Menurut Hamid Asnan, bagi mereka para orang tua yang hidup dalam serba tidak punya tentunya akan kesulitan untuk dapat membeli sekilo beras. Tetapi para orang tua saat itu terbilang sangat hebat.

Camat Bunguran Timur, Hamid Asnan, dan Bupati Natuna Wan Siswandi bersama beberapa warga terlihat sedang menikmati makanan Kuah Tige di salah satu kegiatan.

“Mensiasati keterbatasan beras maka dibuatlah cara-cara bagaimana membuat anak-anaknya bisa makan dan sekedar merasa kenyang. Muncullah ide makan Kuah Tige, yang merupakan campuran sagu butir, kelapa kukur dan sedikit nasi,” pungkasnya.

Sebagai penyedap rasa lanjut Hamid Asnan makan tersebut ditambah dengan lauk berupa rebusan bening ikan karang atau ikan simbek (ikan tongkol-red) dengan bumbu yang sangat sederhana yaitu, campuran garam, serai, kunyit di tumbuk (digiling-red) dan asam kandis sebagai penghilang rasa anyir.



“Menu makan seperti ini pada waktu itu sudah sangat mewah bagi kita-kita orang kampung yang susah. Cara makan pun sangat beretika, semua duduk di lantai mengelilingi makanan yang dihidangkan oleh orang tua kita, dengan sangat telaten dan terlatih emak membagikan nasi sedikit-sedikit kepada anak-anak,” tuturnya.

Memori 45 tahun silam ini kata Hamid Asnan jika diingat benar-benar menyedihkan karena untuk memenuhi makan minum sang anak orang tua zaman itu rela tidak menerima jatah nasi.

“Mak dan ayah tidak dpat jatah nasi, semua terbagi habis kepada anak-anaknya. Suatu pengorbanan yang luar biasa. Dalam menikmati makan istimewa itu tidak jarang diselingi dengan tradisi menghirup air kuah nasi campuran,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan