Nelayan Lokal Vs Kapal Ikan Asing di Natuna

oleh -338 views
Puluhan kapal nelayan ditambatkan di Pelabuhan Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Rabu (25/12/2019). Hukum adat laut Aceh telah menetapkan pantangan dan larangan melaut pada hari peringatan tsunami 26 Desember untuk mengenang dan memperingati peristiwa tsunami di Aceh.

JAKARTA (KP) – Simpanan kekayaan perikanan yang melimpah, membuat perairan di Natuna seringkali dimasuki nelayan-nelayan asing. Intensitasnya, bahkan diketahui terus meningkat sejak Desember 2019.

Maraknya kapal asing yang memasuki perairan Indonesia terjadi saat nelayan lokal tidak melaut karena ombak tinggi. Kapal-kapal penangkap ikan itu bahkan dikawal kapal penjaga dari negara asing tersebut.

Dikutip dari Harian Kompas, 12 Januari 2020, kapal ikan asing biasanya akan masuk ke zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara bersamaan dengan datangnya musim angin utara pada akhir November hingga Januari.

Salah seorang nelayan Natuna, Rudi, pada periode itu tinggi gelombang bisa mencapai lebih dari 6 meter. Hal ini memang menakutkan bagi sebagian nelayan yang kapalnya rata-rata berbobot kecil.

“Ada juga sebagian yang tetap berani melaut. Gelombangnya memang lebih tinggi dari tiang kapal, tetapi untuk yang sudah biasanya seperti kami ini, ya, sambil menyanyi saja biar tak takut,” kata Rudi.

Namun, gelombang tinggi saat musim angin utara bukanlah yang paling menakutkan. Hal itu ada sejak leluhur nelayan Natuna pertama kali melaut.

Satu-satunya hal yang bisa membuat nelayan kembali ke darat sebelum waktunya adalah tali jangkar yang putus saat lari karena dikejar kapal asing pencuri ikan.



Kapal nelayan di Natuna rata-rata berukuran antara 3 grosston (gt) sampai 5 gt. Alat tangkapnya tradisional berupa pancing.

Hanya dengan perlengkapan itu mereka sanggup bertahan satu hingga dua minggu untuk menangkap ikan karang yang bernilai tinggi, yaitu kakap merah, anguli, kerapu, dan sunu.

Sedangkan kapal asing dari Vietnam maupun China yang mencuri ikan di Laut Natuna Utara rata-rata berukuran antara 30 gt sampai 100 gt, dan bahkan juga lebih.

Mereka menangkap ikan berkelompok menggunakan pukat harimau. Satu kelompok pencuri biasanya terdiri dari lebih kurang 20 kapal asing.

“Kalau malam, tekong (nahkoda) tak bisa tidur tenang. Pasti was-was karena harus selalu siap potong tali jangkar untuk lari kalau ada kapal pukat yang mendekat,” ujar Rudi.

Pukat harimau mengeruk kekayaan laut sampai ke dasar. Sedikit saja nelayan lokal terlambat untuk menghindar, jangkar mereka bisa tersangkut lalu terseret entah sampai mana kapal pukat itu berlayar.

Di perairan yang berjarak 60 mil dari Pulau Laut, kata Rudi, terumbu karang sudah hancur terkena pukat harimau dan tinggal menyisakan lumpur.

Hal ini menjadi pukulan telak bagi nelayan lokal yang sehari-hari menangkap ikan karang. Butuh waktu lama agar habitat ikan karang itu bisa kembali seperti semula.

Sebelumnya diberitakan, Herman, Ketua Nalayan Kabupaten Natuna kepada Kompas.com mengatakan, kapal ikan asing kerap masuk menangkap ikan di perairan Natuna, tepatnya di titik koordinat 108 hingga 109 atau sebelah utara hingga timur pulau Laut.

“Rata-rata KIA asal Vietnam dan China, masuknya ke sana (titik koordinat 108 hingga 109 atau sebelah utara hingga timur pulau Laut),” kata Herman Selasa (31/12/2019) lalu.

Sebelumnya, lanjut Herman tidak saja di sebelah timur dan utara pulau Laut yang merupakan pulau terluar yang masuk dalam Kabupaten Natuna, sebelah selatan juga kerap masuk kapal ikan asing.

Hanya saja untuk selatan saat ini kapal ikan asing tersebut sudah mulai takut dan saat ini merajalela masuk di sebalah utara dan timur pulau Laut.

 

Nelayan Natuna diusir coast guard China

“Koordinat 108 hingga 109 memang bersinggungan langsung dengan laut Tiongkok, bahkan coast guard dari Tiongkok tidak segan-segan mengusir nelayan Natuna atau nelayan Indonesia lainnya agar tidak mencari ikan di sana,” jelasnya.

Parahnya lagi, Lanjut Herman terkadang nelayan asing dari Vietnam dan China kerap melakukan arogansi apabila melihat nelayan Natuna. Sebab dari segi kapal, antara KIA Vietnam dan China jauh lebih besar dari kapal nelayan Natuna.

“KIA Vietnam dan Tiongkok rata-rata di atas 30 GT, sementara Natuna hanya 7 sampai 10 GT itu pun jarang-jarang, karena kebanyakan kapal Natuna kecil-kecil, sehingga kalau ditabrak atau disenggol, kapal Natuna bisa terbalik dan tenggelam,” paparnya.

Herman mengatakan, mereka para nelayan Natuna berharap aparat terkait serius menjaga perbatasan laut Indonesia, terutama yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. “Kalau bisa 24 Jam, karena saat ini tidak satu dua lagi, terkadang sampai lima bahkan lebih,” ungkapnya.

 

 

 


Sumber: KOMPAS.COM/Kontributor Batam, Hadi Maulana | Editor: Aprillia Ika


 


Memuat...