Pengembangan Pariwisata Natuna Tergantung Aksesibilitas Amenitas dan Atraksi

oleh -619 views
Wawancara-Kepala-Dinas-Pariwisata-Kabupaten-Natuna-Provinsi-Kepulauan-Riau-H.-Hardinansyah-SE-M.Si

NATUNA (KP),- Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, H. Hardinansyah, SE, M.Si mengatakan Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraksi (3A) merupakan faktor utama yang biasa digunakan dalam pembangunan destinasi pariwisata.

Menurutnya, para investor baik domestik maupun non domestik yang ingin melakukan investasi di suatu daerah baik dalam jangka pendek atau jangka panjang, tentunya akan terpengaruh oleh faktor tersebut.

“Mereka kan profit oriented. Artinya orientasi mereka adalah keuntungan. Sementera akses dari ke Natuna sedikit, kemudian mahal, tentu jadi kendala. Kedua atraksi seperti seni budaya juga belum memadai. Ketiga kesiapan amunitas sarana prasarana pendukung seperti hotel dan restauran. Nah, ketika aksesibilitas sulit, saya pikir amunitas pun tidak akan berkembang,” kata Hardinansyah menjawab koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Selasa 22 Juli 2020.

Makanya lanjut Hardinansyah, kami mencoba melihat peluang yang ada di Serasan, karena aksesibilitasnya laut, dekat dan murah. “Nah, kebetulan ada investor ingin mengembangkan Karang Aji. Jadi mereka sudah mulai mengembangkan, karena dari Temajuk ke Serasan, cuma memerlukan waktu sekitar 2 jam. Meskipun kita bisa menggunakan pesawat dalam waktu 1 jam, tetapi kan mahal,” terangnya.

Kepala-Dinas-Pariwisata-Kabupaten-Natuna-Provinsi-Kepulauan-Riau-H.-Hardinansyah-SE-M.Si

Tempat-tempat wisata yang dikembangkan kata Hardinansyah tentunya tidak dibenarkan keluar dari aturan-aturan pemerintah. “Ya kalau pemerintah itu kan dari aspek regulasinya. Ada aturan boleh tidaknya, kemudian perizinan segala macamnya. Nanti tentu akan ada kontribusi dari objek-objek daya tarik wisata itu, ke PAD. Yang paling penting, ketika investor masuk mengembang suatu destinasi, mereka tentu memerlukan tenaga kerja. Kita berharap ekonomi lokal ikut tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Hal tersebut menurutnya, berbeda dengan objek wisata seperti Jelita Sejuba dan Alif Stone Park. “Nah, itu murni swasta masuk ke sini sendiri. Kalau Jelita Sejuba dan Alif Stone saya pikir tanahnya sudah lama jadi milik pengembang. Tapi kalau ingin tahu lebih pasti, bisa konfirmasi ke badan pertanahan. Kami Dinas Pariwisata dari awal mempromosikan supaya wisatawan datang. Tujuan dan target kita adalah jumlah kunjungan wisata,” pungkasnya.

Sementara pengembangan objek wisata Karang Aji kata Hardinansyah murni dilakukan oleh investor. “Kalau di Karang Aji itu murni investor. Jadi, untuk retribusi pariwisata masih terbilang kecil. Tahun lalu kita hanya sekitar Rp2,4 miliar dari hotel dan restauran saja. Tetapi yang memungut itu bukan kami. Itu dari dinas perpajakan dan retribusi daerah. Jadi untuk pajak retribusi hotel dan restoran saya pikir sudah ada aturannya, tetapi bukan kita yang membuat,” ungkapnya. (KP).




Laporan : Sandi / Yani


 


Memuat...