Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kalsel Triwulan Tiga Melonjak Naik

oleh -45 views
BPS-Kalsel-gelar-siaran-pers-Selasa-05-November-2019

KALSEL (KP),- Sebesar 4,01 persen pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalsel triwulan 3 mengalami kenaikan. Jumlah tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui siaran pers, Selasa 05 November 2019.

Menurut Kepala BPS Kalsel, Ir. Diah Utami, Msc beberapa fenomena itu, pertama luasnya perdagangan dunia juga berdampak pada penurunan keyakinan pelaku industri manufaktur yang ditunjukkan oleh para pelaku industri menahan diri untuk melakukan investasi atau pembilangan berikutnya.

Katanya, peningkatan kinerja karena adanya pembangunan pembangkit dengan daya 150 KV untuk menambah pasokan daya listrik ke Pulau Laut Kotabaru. Estimasi produksi triwulanan kayu bulat yang dipakai sebagai bahan baku industri pengolahan kayu mengalami peningkatan dibanding pembangunan jalan dan jembatan.

Kemudian adanya event di Kalimantan Selatan juga berpengaruh dibeberapa daerah seperti saat Kalimantan Selatan menjadi tuan rumah Hari Olahraga Nasional diadakan festival ekonomi Indonesia di Banjarmasin.

Sementara itu harga minyak dunia turun 6,85 persen, harga akan naik 1,79 persen pada kemudian pertumbuhan ekonomi Tiongkok diprediksi melambat dari 6 persen di tahun 2018 tahun 2019 pertumbuhan ekonomi melambat dari 3,6 persen di tahun 2018.

Menurut Diah Utami, Kalimantan Selatan triwulan 3 tahun 2019 sebesar 47,5 persen. “Kalau kita bandingkan dengan sektor pertambangan adalah 1-3 pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan 2019 atau turun sebesar 16 persen. Pertumbuhan tertinggi yaitu pertanian dan kehutanan. Pertanian sekitar 11,72 persen, industri pengolahan sebesar 9 persen, konstruksi 8,37 persen. Pertumbuhan ekonomi mencapai 3,72 persen, jaminan sosial wajib dan makan minum sekitar 7,7 persen dari 7,34 persen. Triwulan 1 sampai 3 tahun 2018 sebesar 4,01 persen,” terangnya.

Pertumbuhan tertinggi ada dikategori perdagangan besar, melihat nilai PDRB lapangan usaha triwulan 3 tahun 2018 dan 2019 yang tertinggi adalah kategori perdagangan dan koperasi konsumsi.

“Konsumsi pemerintah atau PKP dikatakan bahwa kontraksi TKP didorong utamanya oleh menurunnya belanja pegawai mencapai 5,31 persen, kemudian terjadi kelambatan pada komponen belanja pemerintah baik pada belanja barang dan jasa modal dan belanja bantuan sosial sebagai faktor pengurang pada komponen X mengalami kenaikan,” tuturnya. (KP).


Laporan : Adam Subayu