Sudah Ditinjau Bupati, Jembatan Setungku ke Tanjung Sebauk Belum Juga Terealisasi

oleh -775 views
Saimun-Ketua-Badan-Pengawas-Desa-Sedanau-Timur-menujukan-kondisi-jembatan

SEDANAU TIMUR (KP),- Siang itu, Jum’at 15 Mei 2020, aktifitas di Kontor Desa Sedanau Timur, Kecamatan Bunguran Batubi, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri tampak sibuk. Suasana yang penuh dengan aktifitas pemerintahan itu, membuat koranperbatasan.com memutuskan untuk bertemu langsung dengan Tarmizi Ahmad, selaku Kepala Desa Sedanau Timur.

Sebab beberapa hari sebelumnya, koranperbatasan.com sudah mendapat izin temu janji konfirmasi. Saat ditemui di ruang dinasnya, Tarmizi terlihat sedang berdiskusi dengan salah satu staffnya. “Silakan masuk, pak wartawan,” kata Tarmizi kepada koranperbatasan.com.

Saat berada dalam ruangan, Tarmizi kemudian meminta staff yang ada di ruangannya memanggil Saimun selaku Ketua Badan Pengawas Desa (BPD) untuk dapat memberikan penjelasan kepada koranperbatasan.com. “Tolong panggilkan Pak BPD, bilang ada wartawan,” ujar Tarmizi kepada staffnya.

 

Tak lama kemudian, Saimun pun tiba. Dihadapan Kadesnya Ketua BPD itu, menyebutkan ada satu rencana pembangunan yang harus mereka selesaikan. Pembangunan itu, kata Saimun menjadi tuntutan masyarakat terhadap kinerja mereka. “Masyarakat ingin jembatan penghubung antara Setungku dengan Tanjung Sebauk ini disiapkan,” kata Saimun, memulai ceritanya, terkait tuntutan masyarakat Desa Sedanau Timur.

Keluh kesah yang disampaikan masyarakat itu, kata Saimun benar-benar menjadi tantangan berat bagi mereka selaku pemerintah desa. Sebab untuk dapat menyelesaikan pembangunan yang menjadi tuntutan masyarakat itu, memerlukan biaya cukup besar.  “Ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Panjang jembatan itu, sekitar 800 meter. Memang sudah kita bangun menggunakan kayu sekitar 130 meter, dari Dana Desa (DD). Sisanya masih ada sekitar 670 meter,” sebutnya.



Menurut dua pimpinan tertinggi, di tingkat desa dalam ruangan yang sederhana itu, jembatan penghubung Setungku dengan Tanjung Sebauk merupakan akses keluar masuk orang dan barang. Sehingga keberdaaan jembatan penghubung itu, menjadi sangat penting.

“Memang sepengetahuan kami sebagai pemerintah desa, itu kunci utama antara Desa Sedanau Timur dengan Setungku. Disitukan ada banyak kebutuhan, baik siang maupun malam. Sudah belasan tahun kondisi jembatannya seperti itu,” terang Saimun, meminta koranperbatasan.com setelah wawancara, ikut bersamanya melihat langsung kondisi jembatan. “Setelah ini kita sama-sama kesana,” pintanya.

 

Kata Saimun, apapun kejadian di Setungku hanya bisa ditempuh dengan cepat termasuk urusan dari desa menuju Setungku, adalah menggunakan jembatan tersebut. “Untuk yang cepat sekarang ini, memang jembatan itu. Walaupun dalam keadaan patah, dan ambruk, tetap kami lintasi. Contoh ada warga sakit, ada kematian, anak sekolah, termasuk warga ingin berobat, tetap menggunakan jembatan itu, karena tidak ada akses lain. Yang saya bilang belasan kilo itu, sebenarnya tidak layak dilewati. Kondisinya pak wartawan bisa lihat sendiri,” pungkas Saimun.

Tampak memprihatinkan, wajah Kades dan Ketua BPD saat itu, terlihat agak sedikit tegang. Kinginan kuat untuk dapat menjawab tantangan masyarakat terkait jembatan penghubung itu, benar-benar menjadi pujaan. Sebab puluhan tahun keinginan masyarakat itu belum terealisasikan.

“Dulu kita bangun pakai kayu dari dana desa, hasilnya bagus. Jadi yang ada sekarang ini terbuat dari kayu. Lamanya kurang lebih, sudah puluhan tahun. Kadang-kadang pas ada orang lewat jembatannya patah. Kemarin kita swadaya tenaga masyarakat untuk merehap yang rusak, sistem kerjanya bergotong royong,” kata Saimun menjelaskan.

Memenuhi keinginan masyarakatnya, Saimun memastikan bahwa disetiap Musrenbagdes Jembatan  Setungku menuju Tanjung Sebauk tetap menjadi yang prioritas. Selain itu, pihaknya juga sudah berjuang hingga ke tingkat provinsi, sayangnya belum membuahkan hasil.

“Bupati sendiri sudah pernah meninjau. Beliau mengatakan kita pioritaskan jembatan ini, dan sudah dihitung oleh Dinas Perkim sekitar 15 milyar. Waktu itu, Camatnya Pak Nurpata sendiri hadir mendampingi Pak Bupati. Bupati juga sudah menjelaskan bahwa jembatan itu sangat darurat. Malah waktu itu, saya membawa Pak Bupati ketengah jembatan beliau tidak berani. Namun pulang dari kunjungan itu, sampai saat ini belum ada tindaklanjutnya. Kami pantau tahun 2020, alasan dana itu tergeser ke daerah lain, kita pakai dana DAK,” cetusnya, menceritakan sedikit perjuangan yang telah dilakukan agar jembatan tersebut di bangun.

Mantan Kades dulu, lanjut Saimun, bersama Camat Hasanuddin sudah pernah memperjuangkan keinginan masyarakat itu sampai ke provinsi. “Waktu itu kami langsung ketemu sama Kepala PU-nya. Memang ditanggapi dengan baik. Kami kemudian menyodorkan proposal beserta poto kondisi jembatan. Tapi proyeknya tidak muncul. Padahal dia mengaku sangat prihatin. Nah, kesalahannya dimana, kami tidak tahu. Apakah kami ini kurang pemantauan, atau memang hanya kasih angin segar saja sama kami?,” katanya mengakhiri, kemudian meminta koranperbatasan.com menuju lokasi.

Tiba di lokasi, saat itu cuaca agak sedikit redup. Tengah perjalanan koranperbatasan.com terpaksa harus menghentikan kenderaan. Selain belum terbiasa, juga karena kondisi jembatan ada yang sudah ambruk. Tak banyak komentar, saat itu kamera pun menari, cahanya berhasil merekam beberapa jembatan terpotong. (KP).


 Laporan : Johan


 


Memuat...