Susi Pudjiastuti Jadikan Dua Kapal Tangkapan Illegal Fishing Monumen Sejarah

oleh -145 views
Kapal-Ikan-Asing-asal-Cina-pelaku-illegal-fishing-dijadikan-monumen-sejarah-oleh-Menteri-Kelautan-dan-Perikanan-Susi-Pudjiastuti

NATUNA (KP),- Dua buah Kapal Ikan Asing (KIA) asal Cina pelaku illegal fishing dijadikan monumen sejarah oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, di Selat Lampa, Natuna, Senin 07 Oktober 2019.

“Ini akan saya jadikan monumen bersejarah bahwa kita benar-benar berdaulat di laut,” tegas Susi dalam sambutannya saat acara peresmian oprerasional SKPT Selat Lampa dan penenggelaman kapal.

Dijelaskan Susi Pudjiastuti, selain dua kapal asal Cina, menyusul kapal-kapal dari negara lain pelaku pencurian ikan akan bernasib serupa. Terlihat telah ditarik ke bibir pantai berjarak kurang lebih 200 meter dari pelabuhan SKPT Selat Lampa dua buah kapal bobot ratusan ton dengan posisi sebagian telah tersangkut di pasir.

“Ini bisa kita lihat bersama, dua kapal besi asal Cina dan akan kita tarik lagi kapal dari negara Vietnam untuk dijejerkan disini, ini akan jadi monumen nasioanal, biar anak cucu kita tau dan jadikan pelajaran, kalau perlu jadikan musium,” terangnya.

Susi Pudjiastuti berharap dengan maraknya penenggelaman dilakukan selama ini akan menyadarkan para pencuri ikan tidak lagi melakukan hal yang sama, khususnya di laut Natuna. “Saya pikir jika negara tetangga atau negara mana saja, janganlah curi ikan lagi, jika ingin ikan Natuna, maka datang ke Natuna dan beli, kita sudah ada SKPT,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Susi Pudjiastuti juga mengingatkan kepada nelayan lokal agar tidak lagi menggunakan cara terlarang dalam menangkap ikan, harus ramah lingkungan agar dapat berkelanjutan.

“Saya minta tidak ada lagi bom ikan, potasium, ini PR kita semua. Jika ini masih terjadi saya akan sikat dengan turun langsung ke lapangan. Karena 1 kg potasium bisa hancurkan 6 meter persegi terumbu karang, ini harus segera dihentikan. Kalau ini masih terjadi saya tutup ekspor ikan hidup, tolong Lanal, Polairut pantau ini, jika cara penangkapan diatur dengan baik, maka ikan akan semakin banyak,” pintanya.

Menurutnya, Presiden telah berkomitmen dengan membentuk Satgas 115, didalamnya  semua unsur terlibat, baik Polair, Angkatam Laut, Kejaksaan, Bakamla dan KKP sendiri. “Sekarang nelayan asing berkurang, malah nelayan kita yang ga bener, tolong pengusaha ikan hidup, kegiatan penangkapan harus ramah ligkungan,” tegas Susi Pudjiastuti.

Untuk Natuna kata Susi Pudjiastuti Pemerintah Pusat telah benar-benar membangun, terbukti selain sektor perikanan, pariwista serta didampingi dengan pembangunan sektor pertahanan dan keamanan oleh TNI. “Itu dibangun seiring dan berdapingan, tujuannya tidak lain hanya agar kita semakin berdaulat,” ungkapnya.

Sejalan dengan itu, Susi Pudjiastuti yakin jika potensi Natuna dikembangkan dan dikelola dengan baik maka masyarakat akan menjadi semakin makmur. “Jika semua berkomitmen, kedepan saya yakin cukup kapal kecil saja nelayan kita bisa makmur, kita tidak perlu kapal besar, jika ikan telah banyak,” ujarnya.

Sebagai Menteri, Susi Pudjiastuti mengingatkan kembali, jadikan monumen kapal pencuri ikan tersebut sebagai pengingat akan simbol kedaulatan Negara dan pelestarian laut Natuna. Selain itu, Ia juga mengingatkan semua yang hadir untuk selalu mengingat akan pentingnya menjaga laut, sambil menujuk ke arah kapal tangkapan asal cina yang telah dijadikan monumen.

“Pesan saya, tetap komitmen jaga Natuna. Natuna sangat penting, itu kapal bertengger di sini untuk diingat, inilah yang curi ikan kita, ini menjadi pengingat kita semua, sehingga kedepan seluruh aparatur penegakan hukum tegas dan keras, tidak ada yang lebih penting dari pada integritas,” tuturnya.

Lebih jauh lagi, Susi Pudjiastuti kembali mengingatkan bahwa perlua adanya semangat bersama agar Indonesia semakin berdaulat atas lautnya sendiri. “Saya ingin kapal itu bertengger disitu sebagai monument nasional, titik sejarah bahwa Indonesia bisa berdaulat, kalau mereka mau ikan, datang ke kita dan belilah,” tegasnya. (KP).


Laporan : Cherman