OPINISALAM PERBATASAN

MARI BANGUN LITERASI MELALUI BERITA

×

MARI BANGUN LITERASI MELALUI BERITA

Sebarkan artikel ini
Rizky Nurul Suhendra

PADA Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999, Tentang Pers, Bab I, Ketentuan Umum, Pasal 1, Poin 1, berbunyi, “Pers adalah suatu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar , serta data dan grafik maupun dalam bentuk  lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.”

Pada Poin 5 berbunyi, “organisasi pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.” Poin 6 berbunyi, “Pers nasional adalah pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers Indonesia.”Pers nasional mempunyai fungsi tersendiri. Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999, Bab II, Asas, Fungsi, Hak, Kewajiban dan Peranan Pers, Pasal 3, Poin 1 yang berbunyi, “Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.”

Pada bunyi pasal tersebut bahwasannya pers  berfungsi sebagai media pendidikan. Dari fungsi itu berarti melalui pers nasional juga untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Redaksi yang ditulis oleh pers harus berpendidikan agar pembaca tidak membacanya tanpa ada isi ataupun ilmu yang didapat.

Pada bahasa jurnalistik memiliki karakteristik tersendiri yaitu, singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas. Karakteristik pada bahasa jurnalistik tersebut harus ditekuni oleh seorang jurnalis agar isi redaksi yang dibaca bisa dipahami oleh semua orang. Selain mempertimbangkan bahasa pada berita, seorang jurnalis juga harus mempertimbangkan si pembaca karena tidak semua orang memiliki pengetahuan yang sama. Maka dari itu, karakteristik bahasa jurnalistik terdapat padat, lancar dan jelas.

Pada karakter bahasa jurnalistik singkat, padat dan menarik bisa dijadikan sebagai pemancing agar rakyat Indonesia pelan-pelan menjadi hobi membaca. Semakin rajinnya para pelajar membaca berita semakin kuat jiwa nya yang terus ingin membaca dan semakin terbentuk pula keahlian dia dalam beretorika. Saat ini kebiasaan membaca para anak muda Indonesia sudah menurun. Pada isi redaksi berita juga bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran sekolah. Berita tersebut bisa digunakan sebagai bahan diskusi dan terciptanya generasi bangsa yang kritis dalam menilai suatu permasalahan.

Baca Juga:  HUT PGRI ke-80, Maryadi Tekankan Solidaritas Guru dan Pemerataan Prestasi hingga Wilayah Terluar

Peran pers dalam menciptakan suatu teks berita bisa membantu dalam mengajarkan pembelajaran bahasa Indonesia. Isi redaksi berita tentu mengikuti anjuran pada  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Saat ini sudah menjadi kebiasaan para penerus bangsa yang sering menggunakan kata-kata yang tidak baku pada Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Karena hal tersebut para penerus bangsa akan terbentuk cintanya pada bahasa Indonesia melalui jiwa kebiasaan membaca.

Tidak hanya dalam bentuk redaksi, berita yang diambil juga berpengaruh dalam penilaian pembaca. Berita yang diambil tentu harus berbobot agar tidak menyimpang dalam peran pers dalam pendidikan. Bisa kita lihat saat ini berita yang ada pada media online banyak sekali berita hoax di tampilkan pada media.

Dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, Co-Founder Provetic, Shafiq Pontoh mengatakan jenis hoax yang paling sering sering diterima adalah masalah sosial politik, yaitu sekitar 91,8 persen, masalah SARA sebanyak 88,6 persen, kesehatan 41,2 persen, makanan dan minum 32,6 persen, penipuan keuangan 24,5 persen, iptek 23,7 persen, berita duka 18,8 persen, candaan 17,6 persen, bencana alam 10,3 persen dan lalu lintas 4 persen.

Menurut shafiq Pontoh, hoax akan memberikan dampak negatif bagi si pembaca konten berisi hal negatif, yang bersifat hasut dan fitrah. Hal tersebut akan menuju emosi masyarakat, dan menimbulkan pemikiran negatif yang membuat terjadinya disintegratif bangsa.

Maka dari itu, pentingnya seorang jurnalis memperhatikan kembali setiap berita yang akan mereka publis. Apakah berita tersebut layak dibaca oleh semua orang ataukah tidak. Bahkan  pers juga berperan penting untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Perhatikan kembali karakteristik bahasa jurnalistik, bahasa yang digunakan, dan menghindari berita hoax. (KP).


Penulis: Rizky Nurul Suhendra

Baca Juga:  Mengembalikan Natuna Sebagai Pusat Poros Maritim Dunia Dulu Hingga Kini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *