Adaptasi Xenograpsus Testudinatus, Kepiting Tangguh Penghuni “Neraka” Bawah Laut

oleh -533 views
Siedi-Laia

Penulis : Siedi Laia

Jurusan : Budidaya Perairan

Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan


Nim: 190254243001


 

XENOGRAPSUS TESTUDINATUS ialah kepiting yang termasuk dalam famili xenograpsidae. Nama “testudinatus” berasal dari bahasa Latin yang berarti cangkang penyu. Nama tersebut diberikan karena kepiting ini pertama kali ditemukan di Kueishan Tao, yang dalam bahasa Indonesia berarti Pulau Penyu. Ilustrasi hydothermal vents. (Sumber : National Geographic)

Hydrothermal vents adalah sumber mata air panas di dasar laut yang terbentuk karena adanya aktivitas vulkanik. Hydrothermal vents  dapat berbentuk fissure/crevice (celah) atau chimney (cerobong). Hydrothermal vents biasanya terletak di laut dalam, tapi ada juga yang terletak di laut  dangkal seperti di laut  sekitar Pulau Kueishan. Hydrothermal vents di sekitar pulau ini terletak pada kedalaman <30 m.



Berdasarkan karakteristik fisika-kimianya, lingkungan hydrothermal vents tergolong ekstrem bagi makhluk hidup. Karakteristik tersebut antara lain suhu tinggi; kadar sulfida, CO dan logam tinggi; kadar oksigen rendah; dan pH rendah (asam). Suhu cairan hydrothermal vents di sekitar Pulau Kueishan bahkan mencapai 116 derajat Celcius dan pHnya 1,75.

Tidak berlebihan rasanya jika hydrothermal vents dianalogikan sebagai ‘neraka’ bawah laut. Lingkungan hydrothermal vents jelas bukan habitat yang ideal bagi banyak hewan laut. Namun hal itu tidak berlaku bagi Xenograpsus testudinatus. Kepiting ini memiliki berbagai mekanisme adaptasi fisiologi dan tingkah laku sehingga mampu bertahan hidup di sekitar hydrothermal vents.

Penelitian tersebut bertujuan menjelaskan adaptasi reproduksi Xenograpsus testudinatus di lingkungan yang ekstrem. Sampel yang diambil terdiri dari air laut, sedimen, dan sampel biologis, termasuk kepiting  Xenograpsus testudinatus.  Salah satu variabel yang diteliti yakni prediksi sumber makanan kepiting.

Prediksi ini diketahui melalui analisis tanda isotop delta 13 C dan delta 15 N terhadap sampel biologis. Dilakukan juga pengukuran faktor lingkungan pada sampel air dan sedimen. Faktor lingkungan yang diukur meliputi suhu, kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO), pH dan total sulfida terlarut (total dissolved sulfide/TDS).

Untuk mengetahui lebih dalam tentang  Xenograpsus testudinatus mereka melakukan penelitian pada tahun 2019  hasil penelitian Hu dan Timnya pada tahun 2012 menunjukkan bahwa Xenograpsus testudinatus memiliki enzim pencernaan utama dan enzim proteolitik yang memiliki aktivitas tinggi. Karakter ini merupakan adaptasi terhadap ketersediaan makanan yang tidak menentu di alam.

Enzim-enzim ini stabil pada suhu tinggi, kisaran pH yang luas, dan di lingkungan yang terdapat inhibitor anorganik seperti Cu2+, Fe2+, atau Co2+. Sifat-sifat ini menjadikan enzim dapat berfungsi di hydrothermal vents dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, kepiting ini mampu menyimpan sejumlah besar lipid di kelenjar usus bagian tengah (midgut) yang berfungsi sebagai cadangan makanan. (KP).


Kiriman Pembaca koranperbatasan.com Selasa, 17 Desember 2019


 


Memuat...