Asal Usul Terjadinya Desa Tebang di Palmatak Kabupaten Kepulauan Anambas

oleh -717 views
Batu sejarah asal muasal Desa Tebang

SEKITAR 1,5 abad lalu dibagian wilayah Pulau Matak saat ini Desa Tebang hiduplah satu keluarga besar yang terdiri dari Datuk Haji (ayah), Sri Melur (ibu) Kundur (anak laki-laki) Putri Lembayung (anak perempuan), Datuk Maninjau (paman) dan Datuk Paman (paman) di Tanjung Hantu.

Pada suatu hari ada segerombolan lanun yang berada di Pulau Pangiran saat ini Pulau Belibak hendak pergi ke Tanjung Hantu dengan tujuan untuk menguasai Tanjung Hatu sekaligus melamar anak Datuk Haji bernama Putri Lembayung.

Sekelompok lanun tersebut langsung datang ke Tanjung Hantu menggunakan jelu atau sekoci. Saat perjalanan menuju ke Tanjung Hantu, dari ketinggian Datuk Maninjau melihat Jelu Lanun menuju ke Tanjung Hantu. Datuk Maninjau kemudian memberitahukan kepada Datuk Haji mengenai kedatangan lanun tersebut.

Setelah Jelu Lanun tiba di Pantai Tanjung Hantu langsung disambut oleh Datuk Haji ayah Putri Lembayung. Ketua lanun langsung menemui Datuk Haji untuk melamar putrinya Putri Lembayung. Dengan kehawatiran yang tinggi dan perbedaan peradaban kehidupan Datuk Haji tidak setuju putrinya dilamar oleh lanun tersebut.

Ketua lanun sangat berharap kepada Datuk Haji agar lamarannya diterima sampai-sampai dia akan memberikan Pulau Pangiran (Belibak) sebagai mas kawinnya, namun Datuk Haji dan istrinya Sri Melur tetap saja tidak menerimanya.

Keputusan akhir dari pihak lanun melakukan saimbara tentang lamarannya yaitu dengan menebang batu di Tanjung Hatu. Jika batu tersebut berhasil di tebang mereka,  maka Putri Lemabayung akan menjadi milik lanun, sekaligus Tanjung Hantu akan dikuasai mereka. Namun jika tidak berhasil mereka menebang batu tersebut Tanjung Hantu tetap dibawah kekuasaan Datuk Haji begitu juga Putri Lembayung tidak jadi di pinang oleh lanun.

Proses penebangan batu tersebut disaksikan oleh dua belah pihak, langsung saja lanun mengayunkan pedangnya untuk menebang batu tersebut. Satu kali tebang sudah hampir putus, tapi untuk melanjutkankan membalas alur tebangan tersebut tiba-tiba terdengan suara binatang tokek, rupanya lanon tersebut takut terhadap binantang tokek dan memutuskan untuk membatalkan saimbara penebangan batu.



Jadi oleh karena lanun membatalkan saimbara penebangan batu tersebut maka Putri Lembayung tidak jadi dipianang oleh lanun dan status Tanjung Hatu juga tidak jadi dikuasai oleh mereka.

Sebelum lanun itu pergi dari Tanjung Hantu  dia berkata (berserapah ) ”aku tidak jadi meminang Putri Lembayung, dan Tanjung Hantu aku rubah menjadi Tanjung Tebang Musuh” selain berkata-kata dengan marah dia menyumpah keluarga Datuk Haji akibat sumpahnya tersebut  Putri Melur menjadi batu dengan posisi telungkup.

Batu tersebut saat ini berada di dalam air tidak jauh dari Batu Tebang Musuh sebelah selatan. Dan Datuk Haji menjadi sebuah sumur air saat ini menjadi sumber air bersih bagi masyarakat Tebang dan air tersebut tidak pernah kering walaupun musim kemarau.

Datuk Kundur pamannya Putri Lembayung menjadi gunung yang terbentang di atas Desa Tebang saat ini tempat bercocok tanam masyarakat Tebang dan Datuk Maninjau juga menjadi gunung yang saat ini berada dikawasan Desa Candi begitu juga dengan Datuk Paman menjadi gunung yang berada di Bukit Gunung Kundur antara Candi dan Tebang saat ini.

Sedangkan Putri Lembayung sendiri sampai saat ini tidak bisa diketahui bahasa daerah Tebang menyebut ”gaib” tidak berbentuk batu, sumber air, jalan, tanjung atau lainnya jadi mistirius” cuma kawasan Lembayung sendiri dari perbatasan Candi – Tebang sampai ke kawasan Tanjung Tebang Musush itu disebut kawasan Lembayung.

Selanjutnya sebelum pulang setelah lanun tersebut menyumpah keluarga Datuk Haji dia juga meletakan sumpah (berjanji) kepada dia sendiri dan anak “sebelum bersatunya Pulau Mantang Kecil dan Mantang Besar mereka tidak akan pernah ke Tanjung Hantu lagi (Desa Tebang )” Pulau Mantang Kecil dan Mantang Besar berada di depan Pulau Pangiran sebagai alur perahu lanun.

Dan sekarang ini posisi Batu Tebang Musuh sangat strategis dapat dilihat dari berbagai arah dari laut atupun dari darat dan akan dijadikan temapat wisata sebagai icon Desa Tebang yang memeiliki unsur sejarah yang dapat dipertahankan selama-lamanya. Karena berbedanya suatu wilayah dilihat dari unsure sejarahnya dan asal usul dari wilayah itu sendiri.

Alur cerita ini diambil dari berbagai sumber yang disatukan dan disusun dengan mengacu kepada cerita-cerita orang-orang tua di Desa Tebang jika terdapat kekurangan mohon untuk dikoreksi sekiranya ada yang lebih akurat mengetahuinya. Karena berbedanya suatu wilayah dilihat dari unsure sejarahnya dan asal usul dari wilayah itu sendiri. (KP).


Penilis : Yusli Ys (Putra Desa Tebang)


Sumber : Aminah binti Ibrahim, H. Abdurahman Bin Mansyur, M. Yunus bin Hamzah, dan Hasanah binti Muhamad Ali



Laporan : Azmi Aneka Putra



Memuat...