Payalaman Ajukan Revitalisasi Kantor Desa Jadi Prioritas Utama

oleh -232 views
Acok, Kepala Desa Payalaman, Kecamatan Kute Siantan

ANAMBAS (KP) – Kepala Desa Payalaman, Kecamatan Kute Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri, Acok menyebutkan sedikitnya ada empat usulan yang mereka sampaikan dalam musrenbang tahun 2020 lalu dan tidak terealisasikan.

Empat usulan tersebut kata Acok pertama revitalisasi desa, kemudian pembangunan gudang es, pembuatan taman, semenisasi jalan menuju tempat pembuangan sampah di Gunung Arak.

“Yang terealisasi belum ada dari empat usulan kita tahun 2020 itu. Nah tahun 2021 ini kita usulkan lagi, bahkan sudah kita buat perencanaan, ada gambar dan segala macam. Dari empat yang kita ajukan tahun 2020-2021 itu, prioritasnya yaitu kantor desa,” sebutnya kepada koranperbatasan.com, Selasa, 09 Maret 2021, di Pelabuhan Desa Payalaman.

Menurut Acok, revitalisasi kantor desa diajukan sebagai prioritas utama karena bangunannya sudah terlalu lama. Bangunannya sudah ada sejak masih bergabung dengan Kabupaten Natuna.

“Dari tahun 2005 di bangun belum diperbaiki. Jadi kalau lihat dari kondisi bangunan tiang-tiang cornya sudah pada putus semua. Kemudian dari tahun 2020 saya perbaiki kebetulan saat itu ada bantuan dari Kementerian Dalam Negeri terkait program gerbang dutas sebesar Rp 50 juta,” ujarnya.

Keberadaan kantor desa itu, kata Acok terus diperbaiki dengan anggaran seadanya tanpa campur tangan pemerintah daerah. Karena tidak ada satupun usulan yang mereka ajukan diterima.

“Kita perbaiki semampu dan sebisa tidak menggunakan APBD, karena belum ada bantuan yang terealisasi sampai saat ini. Tahun 2020 tidak ada terealisasi satupun yang kami ajukan di musrenbang, katanya sedang refocusing anggaran,” terangnya.



Sejelan dengan itu, Acok memastikan tetap terus mengusulkan apa yang telah menjadi kesepakatan bersama masyarakat didaerahnya.

“Tahun ini masih perencanaan mungkin nanti 2022-2023 tapi kita tidak tahu kapan terealisasikan, karena ini ranahnya kabupaten. Kalau kita menggunakan dana desa dari PMK 220 juga tidak memberikan kewenangan menggunakan dana desa. Terus mengenai perbaikan kantor itu juga menjadi ranahnya kabupaten, karena anggaran desa memang tidak mampu,” terangnya.

Sebagai Kepala Desa dengan jumlah penduduk sekitar 1.355 jiwa yang tersebar di 10 RT dan 2 RW, Acok berharap usulan mereka bisa direalisasikan. Karena daerahnya belum memiliki sumber pendapatan utama selain dari kue APBD.

“Kita punya 13 pegawai, kita berharap apa yang menjadi usulan dari masyarakat ini pemerintah bisa merealisasikannya. Kalau kita bicara dana desa yang Rp 984 juta itu, hanya cukup buat operasional seperti PAUD, Posyandu, Desa Siaga, termasuk BLT 50 persen,” jelasnya.

Kata Acok, empat usulan itu bisa saja di bangun menggunakan dana desa, hanya saja hasilnya tidak bisa maksimal. Misalnya pembangunan jalan menuju ke TPA untuk tempat pembuangan sampah.

“Kalau kita pakai dana desa katakanlah 200 juta, 5 tahun pun belum tentu selesai. Belum lagi batu miring, belum tempat sampahnya, makanya kita usulkan ke kabupaten supaya bersinambung. Supaya masyarakat bisa merasakan manfaatnya, kita ingin pembangunan ini tepatguna dan berdayaguna. Jadi sekala prioritas itu lah yang kita ajukan,” pungkasnya.

Acok menegaskan, kenapa revitalisasi kantor desa masuk katagori penting, karena bangunan yang ada benar-benar sudah tidak layak.

“Saya punya dokumentasinya, itu tiang-tiang enam persegi semuanya sudah pada  keropos dan patah. Atapnya sudah tua dan terbongkar, air hujan jatuh tanpa hambatan, bahaya terkena aliran listrik. Makanya kita butuh kantor yang memadai, supaya nyaman bekerja, biar kualitasnya jadi meningkat,” tegasnya.

Jadi lanjut Acok, jika ruangan kerja tidak nyaman dan tidak aman bagaimana mungkin kita bisa bekerja dengan baik.

“Nah saat ini kita sedang diskusikan di Payalaman ini jadi pusat ibu kota kecamatan, seperti korwil pendidikan memakai Posyandu. Kalau masih diatas program Posyandu stunting tidak akan tercapai. Orang disini masih percaya mitos, karena disitukan dekat dengan kuburan, jadi kalau ada orang meninggal tidak boleh bawa anak kecil, takut kesurupan,” tuturnya.

Dengan kita pindahkan ke bawah, lanjut Acok beberapa bulan ini peningkatan ibu-ibu untuk membawa anaknya ke Posyandu jauh lebih meningkat dari sebelumnya. “Karena disini ibu-ibu yang tidak bisa bawa motor juga bisa hadir ke Posyandu, memang sudah kita sosialisasikan. Jadi pembangunan ini kalau kita menggunakan dana desa tidak akan maksimal,” imbuhnya.

Acok menerangkan, saat ini mereka merasa bersyukur berkat adanya bantuan dari pihak swasta.  “Bersyukur tahun ini dari program CSR perusahaan Conoco kita dapat renovasi Pendopo Desa dari CSR Premier, dulu kita berujan kalau hari hujan, sekarang alhamdulillah sudah ada AC, dan WC. Kemudian dari CSR Medco kita dapat 20 lampu solar, nah semuanya dari perusahaan,” tutupnya. (KP).



Laporan : Azmi Aneka Putra



Memuat...