Viral Hotel Bintang Lima Saat Genangan Air Resahkan Masyarakat Pengguna Jalan

Terbit: oleh -14 Dilihat
Potret salah satu mobil melintas genangan air Jalan Raya Sepempang, depan Adiwana Jelita Sejuba, Minggu, 11 Desember 2022 malam

NATUNA – Minggu malam, 11 Desember 2022, tembok bagian depan hotel mewah bintang lima, yang diresmikan Wakil Bupati Natuna, Rodhial Huda, beberapa waktu lalu, kini terpaksa dijebol. Penjebolan pagar tembok dilakukan langsung oleh staf hotel, setelah mendengar keluhan masyarakat pengguna jalan.

Menurut masyarakat setempat, genangan air dengan ketinggian melebihi lutut orang dewasa itu, baru kali ini terjadi di Jalan Raya Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

“Selama ini tidak pernah banjir di situ, karena ada sungai mengalirkan air dari gunung, walaupun hujan lebat. Jadi baru kali ini terjadi, tingginya melebihi lutut, hampir 1 meter. Menurut kawan saya, dalam lantai mobil saja masuk. Tergenangnya cukup lama, mulai dari jam 6 sore. Air mulai surut setelah pagar hotel dijebol,” ungkap Aprizal, warga Desa Sepempang, melalui panggilan telepon, menjawab koranperbatasan.com, Minggu, 11 Desember 2022 malam.

Masyarakat pengguna jalan tampak gelisah, karena tidak bisa melintasi jalan dan terpaksa harus menunggu genangan air di depan Adiwana Jelita Sejuba surut.

Tak heran jika masyarakat menduga penyebab utamanya adalah aliran anak sungai mengecil oleh konstruksi bangunan Adiwana Hotels & Resorts, bernuansa pantai paling ikonik, pertama dan terbaru di Kabupaten Natuna, bernama Adiwana Jelita Sejuba.

“Ada anak sungai di situ. Itu sungai aktif, sekering-keringnya musim kemarau, airnya tetap ada. Sungai itu membelah kawasan Jelita Sejuba, pas ditengah-tengahnya. Kan ada gorong-gorong di bawah tanjakan itu. Kita tidak tau dalamnya seperti apa,” cetus Aprizal.

Kata Aprizal, genangan air dibagian depan hotel mewah yang dibangun tembok penghalang pandangan mata terhadap pantai, pada area seluas 2.5 hektare, menawarkan pemandangan menakjubkan, berupa panorama mentari terbit itu, terjadi sejak sore. Genangan air yang tinggi itu, membuat masyarakat pengguna jalan terpaksa harus menunda perjalannya, baik dari Sepempang menuju Tanjung, maupun dari Tanjung ke Sepempang.

“Orang itu, membangun waktu musim kemarau, jadi tidak tau kondisi musim hujan. Karena di atas sungai sudah diberi lantai. Posisi sungai di bawah lewat lantai itu, tentu berpengaruh. Mungkin ada yang tersendat di bawah sana, jadi air meluap ke atas. Seharusnya air terjun bebas langsung ke laut. Memang kita tidak tau dalamnya seperti apa. Makanya saya ajak anggota dewan sidak,” ujar Aprizal.

Aprizal, masyarakat Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, yang merasa terganggu akibat jalan tergenang air.

Aprizal menduga konstruksi bangunan Adiwana Hotels & Resorts Adiwana Jelita Sejuba Natuna terhadap anak sungai, penuh rekayasa dan mengabaikan dampak lingkungan sekitar. Alhasil area setempat tergenang air, karena sungai yang ada tidak lagi mampu menampung debit air, pada musim tertentu.

“Makanya tadi saya langsung pertanyakan dinas lingkungan hidup, ada lapor tak? dikaji atau tak dampak lingkungannya?. Saya rasa ada yang diabaikan mereka, terutama terhadap anak sungai itu. Kerena di dalam Jelita Sejuba itu, ada anak sungai. Anak sungai itu langsung ke laut, membelah kawasan Jelita Sejuba. Saya takut di dalam itu, dimodifikasi, direkayasa pengalihan sungainya. Tapi kita tidak tau didalamnya seperti apa,” beber Aprizal.

Aprizal berharap pihak terkait segera mengevaluasi konstruksi bangunan yang diduganya sebagai penyebab terjadinya genangan air malam itu.

“Yang jelas, dan pastinya itu dievaluasi dulu, sampai ke masalah perizinannya, karena di situ ada aliran sungai, bagaimana air sungai itu, bisa plong sampai ke laut. Tak usah ditutup, jadi itu yang perlu ditinjau dulu. Memang kita merasa sangat terganggu oleh genangan air karena pembangunan itu,” tutupnya.

Genangan air akibat curah hujan tinggi, meluapnya air Sungai Air Mali yang berhasil menyelimuti badan jalan raya terlihat mulau surut, setelah tembok pagar Adiwana Jelita Sejuba dijebol.

Terpisah, Ketua Komisi II DPRD Natuna, Marzuki, SH, membenarkan ada masyarakat merasa tergangu terkait yang terjadi. Sayangnya politisi Partai Gerindra itu, tidak dapat turun langsung meninjau lokasi kejadian banjir, dikarenakan ada urusan penting yang harus diselesaikan.

“Saya tidak turun ke lokasi kejadian, tapi anggota komisi ada yang turun. Info keresahan masyarakat Sepempang, kita peroleh dari Group WhatsApp Forum Berita Natuna. Katakan dilokasi Jelita Sejuba terjadi banjir. Kalau menurut kawan-kawan dulu tidak pernah terjadi, berarti banjir ini akibat pembangunan di situ. Tapi harus kita pastikan dulu, kalau sebelumnya ketika hujan lebat juga banjir, berarti bukan karena bangunan itu,” terang Marzuki, kepada koranperbatasan.com melalui penggilan telepon, Minggu, 11 Desember 2022 malam.

Sebagai wakil rakyat, Marzuki memastikan akan memanggil manajemen Adiwana Jelita Sejuba Natuna, untuk diminta pertanggungjawaban, jika benar banjir terjadi akibat konstruksi bangunan yang tidak berdasarkan Anilasis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

“Kalau kerena bangunan itu, kita sebagai perwakilan masyarakat, akan panggil pihak manajemen. Pertama mencarikan solusi, kedua kita akan bertanya tentang kelengkapan-kelengkapan pembangunan resort tersebut. Kelihatannya, memang akibat pembangunan itu, karena setelah pagar dijebol, air langsung mengering, sebelumnya air tergenang menutup badan jalan,” tegas Marzuki.

Marzuki, SH, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dari Partai Gerindra.

Marzuki menjelaskan, pemanggilan Manajemen Adiwana Jelita Sejuba, dilakukan guna membantu mencarikan solusi terkait yang terjadi, dalam rangka mendukung berkembangnya ivestasi di Natuna.

“Kita sebetulnya ingin investasi tetap ada. Kita sangat welcom investasi. Apa lagi mereka memperkerjakan anak-anak daerah. Tapi masaalah yang terjadi, juga harus dicarikan solusi, sebelum itu berkembang pesat. Karena posisi jalan, berada ditengah-tengahnya, bagian kiri kanan jalan sudah dibangun hotel,” jelas Marzuki.

Sejauh ini, Marzuki mengaku tidak tahu seperti apa kesiapan dokumen dan konstruksi bangunan hotel mewah bintang lima bernama Adiwana Jelita Sejuba, yang menghimpit bagian kiri kanan jalan raya dan sungai kecil tersebut.

“Memang masuk bidang di komisi kita. Cuma, regulasinya seperti apa, tidak tahu, makanya kita akan panggil dinas teknis dan pihak manajemen. Artinya, pemerintah yang tahu regulasinya. Baik dari pihak manajemen, mapun pemerintah belum ada menyampaikan ke kita. Seharusnya pemeritah sampaikan, disini ada pembangunan resort, rencananya begini-begini, pengembangannya seperti ini,” tegas Marzuki.

Marzuki memastikan, pernyataan tegas ini disampaikannya agar investasi nakal tidak berkembang pesat di Natuna.

“Kita memang ingin Natuna berkembang, terutama disektor pariwisata. Kita mendorong apapun bentuk investasi, termasuk hadirnya beberapa resort atau investasi di bidang pariwisata. Tentu akan kita dorong, karena membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Natuna. Akan tetapi, kita juga ingin kehadiran beberapa resort, investasi di bidang wisata ini, jangan sampai mengganggu kelancaran aktivitas masyarakat. Artinya tidak bertantangan dengan aturan yang berlaku,” beber Marzuki.

Sementara Sekda Natuna, Boy Wijanarko Varianto, yang sempat turun menyaksikan langsung peristiwa terjadi, mengatakan ada penyumbatan pada aliran parit yang semakin kecil. Sehingga tidak mampu menampung debit air hujan yang deras mengalir dari atas.

“Tadi pagar Jelita Sejuba sudah dijebol oleh pihak manajemen. Katanya mereka akan membuat titik baru, agar kedepan tidak terjadi banjir lagi,” terang Boy Wijanarko, menjawab koranperbatasan.com melalui panggilan telepon, Minggu, 11 Desember 2022 malam.

Lima buah lubang bekas jebolan pada dinding pagar Adiwana Jelita Sejuba untuk mengaliri air agar tidak lagi tergenang di jalan.

Boy Wijanarko, menceritakan dirinya bergegas menuju lokasi banjir yang sempat menjadi buah bibir masyarakat itu, usai mengerjakan sholat pardu Isya’ berjamaah di Masjid Agung Natuna.

“Selesai dari Masjid Agung, kita langsung ke lokasi. Tiba dilokasi bertemu dengan pihak Manajemen Jelita Sejuba dan langsung berdiskusi, win win solution. Tadi pihak manajemen sepakat akan membuat saluran baru, sehingga aliran air bisa langsung ke laut,” ujar Boy.

Resor Manager Adiwana Jelita Sejuba Natuna, Darwin Mandoni, ketika diminta keterangan, melalui pesan WhatsApp, Minggu, 11 Desember 2022 malam, membenarkan yang terjadi.

“Ya benar, itu disebabkan drainase yang ada terlalu kecil, sehingga tidak sanggup mengalirkan debit air hujan yang sangat besar dan cukup lama. Drainase yang ada sebelumnya kecil dan dinpengaruhi sendimen yang datang dari atas. Jadi semakin kecil saluran airnya,” ujar Darwin.

Menurut Darwin, untuk mempercepat aliran air yang menyelimuti badan jalan, pihaknya terpaksa harus membuat beberapa lubang saluran dengan memecahkan tembok pagar, agar aliran air bisa lebih cepat mengalir dan tidak mengganggu pengguna jalan.

“Tadi dari pemerintah setempat sudah survey lokasi. Memang saluran air itu, terlalu kecil, sehingga tidak mampu menampung, kalau curah hujannya besar dan lama,” tutur Darwin.

Sisa luapan air Sungai Air Mali akibat curah hujan tinggi yang berhasil menerobos dan merusak taman bagian depan Adiwana Jelita Sejuba. 

Langkah selanjutnya, kata Darwin, setelah berhasil menjebol sedikitnya lima lubang pada tembok pagar, pihaknya akan membuat gorong-gorong baru yang lebih besar dan langsung menuju ke laut.

“Kami yang menjebol sekitar lima lubang, agar air bisa surut lebih cepat. Untuk selanjutnya, kita belum tau. Tapi dari kami Adiwana akan membuat penampungan air atau gorong-gorong baru diseberang jalan. Bila air meluap ke jalan dapat langsung disalurkan ke laut. Sehingga tidak mengganggu pengguna jalan dan terutama operational kami,” jelas Darwin.

Sebagai Resor Manager, Darwin berharap saluran air dapat segera diperbesar, karena posisi drainase yang ada berada pada posisi terendah. Semua air baik dari arah hutan, dan jalan dari arah Sepempang, maupun Tanjung mengalir deras ke drainase tersebut.

“Gak ada jembatan bang di situ, hanya ada gorong-gorong atau drainase. Solusinya untuk jangka panjang harus memperbesar drainase tersebut. Untuk jangka pendek dari Adiwana akan membuat penampungan baru, atau drainase. Apabila terjadi luapan air dari saluran air tersebut, bisa dialirkan segera dan tidak menimbulkan sampai tergenang lama,” ungkap Darwin.

Darwin sepertinya tidak tau, atau memang tidak mau tau, jika Adiwana Jelita Sejuba terbelah oleh sebuah sungai kecil bernama Sungai Air Mali. Sungai tersebut berada tepat di kaki tegul atau tanjakan. Meski sungai kecil, namun air dari gunung aktif mengalir ke laut, masyarakat setempat menyebutnya air jinak.

Meski dangkal, namun sangat berfungsi bagi perjalanan air gunung menuju laut. Pada waktu tertentu air dari gunung itu, turun membawa material berupa tanah dan batu. Saat ini penampakan wajah Sungai Air Mali samar-samar, tertutup pesatnya pembangunan. (KP).


Laporan : Amran


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *