Anggaran Terbatas Berdampak Pada Peningkatan Pelayanan Kesehatan di Anambas

Terbit: oleh -4 Dilihat
Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Anambas, Yessy Ariessandy

ANAMBAS – Jumlah penganggaran bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kepulauan Anambas (Anambas) yang terbatas pada tahun 2023 untuk Dinkes Anambas, mempengaruhi pembangunan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Anambas, Yessy Ariessandy. Menurutnya, anggaran Dinkes Anambas di tahun 2023 hanya berkisar Rp100 milyar, termasuk dalam belanja pegawai dan honorer.

“Masalah kesehatan dengan anggaran yang bersumber dari APBD Anambas atau anggaran konvensional tidak akan pernah selesai dalam pembangunan pelayanan kesehatan di daerah ini,” ungkap Yessy dikonfirmasi di ruang kerjanya di Tarempa, Sabtu, 09 Januari 2023.

Yessy menjelaskan, dalam peningkatan pelayanan kesehatan di Anambas, harus ada terobosan atau inovasi terkait anggarannya. Sebagai contoh seperti anggaran dari perusahaan Migas serta bank yang beraktifitas di wilayah Anambas.

Kata Yessy, strategi pembangunan pelayanan kesehatan rumah sakit daerah ini perlu mendapat perhatian serius.

“Memang perlu ekstra dalam kinerja baik itu anggaran dan penguatan sumber daya manusia. Saat ini juga pemerintah sedang menggesa untuk meningkatkan status rumah sakit, salah satunya UPT RSUD Tarempa menjadi Tipe C. Untuk mencapai tipe itu tentunya dibutuhkan perlengkapan yang memadai dan lengkap dalam menangani pasien di rumah sakit,” terang Yessy.

Sebagai Kadinkes PPKB Anambas, Yessy berharap pelayanan kesehatan serta target pencapaian pembangunan kesehatan khususnya di Kepulauan Anambas  pada tahun mendatang lebih optimal. Diketahui, Kepulauan Anambas memiliki tiga rumah sakit yakni RSUD Tarempa, RSUD Palmatak dan RSUD Jemaja, semua rumah sakit itu masih berstatus Tipe D.

Disisi lain, tingginya angka rujukan pasien ke rumah sakit di luar daerah masih terus terjadi. Lantaran keterbatasan sarana dan prasarana dan alat kesehatan, seperti ketersediaan dokter spesialis yang belum ada, yakni dokter spesialis anestesi dan dokter spesialis kandungan. (KP).


Laporan : Azmi Aneka Putra


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *