Izniadi: Secara Historis Perkebunan Natuna Penghasil Kelapa, Cengkeh, dan Karet

Terbit: oleh -1865 Dilihat
Izniadi, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

NATUNA – Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Izniadi memastikan ada banyak program yang harus dijalankan pada tahun 2024 ini. Program tersebut disejalankan dengan program pemerintah secara umum.

Kata Izniadi program-program kerja tersebut tentunya disejalankan juga dengan keberadaan Dinas Tipe A, dimana untuk satu jabatan Kepala Bidang (Kabid) memiliki beberapa bidang dibawahnya.

“Disini meliputi kepala bidang tanaman pangan yaitu tanaman pangan horticultural, bidang ketahanan pangan, bidang perkebunan, bidang peternakan, bidang sarana prasarana, dan penyuluhan. Jadi ini yang harus kami kerjakan dengan baik untuk menjalankan program pemerintah secara umum dan secara khusus. Salah satunya peningkatan sarana,” kata Izniadi kepada koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Senin, 20 Mei 2024.

Peningkatan tersebut mengarah pada upaya bagaimana produksi pangan di Natuna bisa cukup. Mulai dari stok, hingga distribusi, bahkan keamanan pangannya harus tetap terus terjaga dengan baik. Semua itu menjadi bagian dari perencanaan program yang berkaitan dengan peningkatan pangan.

“Saya bilang nanti bagaimana sarana kebutuhan petani dapat kita penuhi untuk membantu petani dalam proses meningkatkan produksi pertanian, baik perkebunan tanaman-tanaman horticultural,” ujar Izniadi.

Menurut Izniadi, secara umum berdasarkan anggaran, pihaknya akan mencoba menyiapkan beberapa sarana yang memang benar-benar menjadi kebutuhan para petani seperti peningkatan penyediaan pupuk.

“Memang pupuk menjadi triggernya pertanian, sementara pupuk mahal, tidak cukup. Memang kita mendapat kuota pupuk subsidi, tapi belum mencukupi dari kuota yang terlihat. Kemudian ada juga kebutuhan sarana yang lainnya, seperti obat-obatan, termasuk kesiapan persediaan pengolahan tanah,” terangnya.

Kata Izniadi, program-program yang dimaksud sudah berjalan, hanya saja belum maksimal. Oleh karena itu, pihaknya sangat membutuhkan tenaga penyuluhan untuk melakukan proses peningkatan pertanian, dan produksi pertanian perkebunan.

Potret cengkeh milik masyarakat disalah satu kecamatan di Natuna yang di jemur (dikeringkan).

“Kita tidak bicara kendala, tapi tantangan kedepan. Pertama kualitas sumberdaya manusia, ketersedian kecukupan penyuluh, mengetahui potensi penyuluh. Kadang-kadang yang menjadi polemik adalah ketersediaan kecukupan potensi. Jadi kita harus cukupi penyuluhnya, ketika nanti diarahkan ke area luas, kita butuh penyuluh yang banyak. Kita beri efisiensinya, kita butuh kompetensinya, maka harus ada timbangan antara jumlah dengan kompetensi,” ungkapnya.

Izniadi menegaskan, percuma banyak tapi tidak punya kompetensi, karena kesiapan yang paling baik dalam pengembangan adalah keseimbangan. Tujuanya agar bisa mengcover apa-apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat petani.

“Kendala pertanian itu semua pada sarana produksi. Sarana produksi penyediaan pupuk, dan obat-obatan, termasuk pembenihan, dan pengelolaan lahan. Tugas kami memang di situ. Mulai dari pengelolaan lahan sampai panen, kebanyakan kita tidak punya integrasi dengan pihak perdagangan. Bukan berarti pihak dinas perdaganganya, tapi masyarakat pedagangnya, bagaimana mengkomunikasikan produksi dengan kebutuhan,” tegasnya.

Izniadi menceritakan, dulunya secara historis saat Natuna masih dikenal sebagai Pulau Tujuh, untuk sektor perkebunan yang paling menonjol adalah penghasil cengkeh, kelapa, dan karet.

“Mulai dikembangkan tahun 90-an, ada tercantum dari istana. Memang kita coba menanam untuk menjawab kebutuhan waktu itu. Seiiring waktu terjadi masalah harga, karet alam tersaingi oleh karet sintetis sehingga harganya selalu tidak punya kepastian. Tapi yang jelas itu cengkeh, secara umum harganya naik, sejarahnya dari dulu ada kenaikan, namun tidak signifikan. Hari ini harganya 100-110 ribu per kilo tidak imbang dengan biaya produksinya secara umum,” terangnya.

Kalau kelapa, lanjut Izniadi kebutuhan secara internal masih kurang, namun bisa tercover, hanya saja ketika hendak dibawa keluar jumlahnya masih sedikit. Bahkan terjadi penyusutan dikarenakan dua hal yaitu luas area tanah kebun kelapa, dengan luas area tanah kebun cengkeh.

“Secara histori hampir semua kecamatan ada cengkehnya. Awal-awal tahun 70-an paling hebat di Serasan. Dulu Serasan terkenal kualitas cengkehnya, mungkin karena daerahnya subur dan baru, kemudian orang merawat kebunnya dengan baik. Sekarang masaalahnya perawatan, dan pengaruh harga antara biaya produksi dengan operasionalnya tidak imbang,” paparnya.

Menurut Izniadi, saat ini kosentrasi pengembangan sektor pertanian berada di Kecamatan Bunguran Tengah, dan Bunguran Batubi. Meskipun dibeberapa kecamatan lain seperti Bunguran Timur Laut, dan Bunguran Utara juga terpantau memiliki potensi.

“Kalau di pulau itu Serasan. Kalau selemam tahun 90-an memang terkenal buka-bukaan lahan baru. Tahun 95-96 Selema itu dibuka secara massif, memang tanahnya cukup subur, jadi harus kita review ulang. Kami memang butuh masukan dari para petani. Bukannya apa, secara umum kalau kita lihat di Natuna ketika pelaksanaan Musrenbang jarang diusulkan, yang sering diusulkan infrastruktur,” pungkas Izniadi. (KP).


Laporan : Dhitto

Editor : Cherman


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *