Nur Ija Tak Mengira Hasil Panen Semangka Perdananya Mengesankan

Terbit: oleh -2059 Dilihat
Nur Ija saat diminta keterangan oleh wartawan koranperbatasan.com, Minggu, 05 Mei 2024, di Pantai Sujung, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut.

NATUNA – Nur Ija tak mengira hasil panen semangka perdananya memuaskan. Meski baru coba-coba menanam satu kantong bibit yang diperolehnya dari membeli di toko-toko bibit terdekat beberap bulan lalu, ternyata hasil panennya mendapatkan uang jutaan rupiah.

Kata Nur Ija, bibit semangka yang ditanamnya selama delapan bulan, pada hamparan tanah seluas lebih kurang 200 meter tersebut telah memberikan keuntungan sekitar Rp5 juta.

“Belum lama sih bang, sekitar bulan delapan tahun lalu. Kemarin masih percobaan dekat desa kami di Selemam. Ini yang kedua, sudah melihat hasil pertama, kami baru berani nyoba banyak. Kemarin kami cuma nanam satu bungkus, hasilnya kalau sejumlah uang sekitar lima jutaan. Kata suami itu belum berhasil betul, maklumlah baru mencoba,” kata Nur Ija kepada koranperbatasan.com, Minggu, 05 Mei 2024, di Pantai Sujung, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut.

Melihat hasil panen sebelumnya, Nur Ija pun memberanikan diri menanam dalam jumlah yang lumayan banyak. Kali ini, ada sekitar tiga kantong bibit semangka telah selesai ditanamnya, dan tinggal menunggu masa panen.

“Tak ada yang lain, cuma semangka aja, kita coba tanam tiga bungkus. Tanam tiga bungkus tapi hidupnya sekitar dua bungkus lebih lah. Kalau semangka ini dari semai sampai panen sekitar 75 hari, hampir tiga bulan lah,” ujarnya.

Menurut Nur Ija, jika tidak ada halangan dalam satu tahun para petani semangka bisa melakukan panen sebanyak tiga kali. Jumlah panen bervariasi, tergantung berapa banyak benih yang di tanam.

Potret kebun semangka Nur Ija saat ditinjau oleh wartawan koranperbatasan.com, Minggu, 05 Mei 2024, di Pantai Sujung, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut.

“Kalau semangka sekitar tiga kali panen, cuma kita tidak rutin, bisa-bisa dua kali. Tengok cuaca juga, soalnya semangka kalau hujan terlalu, agak susah, walaupun air kebutuhanya. Tapi kalau hujan berlebihan dia nggak mau. Hasilnya tergantung, kalau nanamnya banyak, panennya juga lumayan,” ungkapnya.

Nur Ija menceritkan saat ini tantangan bagi dirinya adalah ketersedian air, dan pupuk, serta bibit. Tanaman diolah seadanya, air untuk menyiram tanaman diperolehnya dari sumur. Sementara pupuk dan obat-obatan belum dimilikinya.

“Kalau kami kendalanya obat-obatan, sama pupuk, karena susah didapat dan harganya juga mahal. Bibit kami beli di Pasar Ranai, dekat toko-toko banyak jual bibit semangka. Terus masa persemaian agak kekurangan air, kami ngambil airnya dari sumur pakai tenaga, tidak pakai sanyo,” beber Nur Ija.

Nur Ija mengaku tetap semangat, meski ada banyak kendala yang dihadapinya dalam bercocok tanam. Dalam hal ini, Nur Ija berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat memainkan perannya, memotivasi para petani agar menjadi lebih giat lagi.

“Bantuan dari dinas pertanian memang belum ada. Kalau soal keinginan, bantulah para petani pupuk, obat-obatan, dan bibit. Memang tidak berharap apa-apa, cuma kan bentuk kepedulianya sama masyarakat yang berniat mau bertani. Kami memang nggak ada bantuan dari siapa-siapa, ini asli usaha kami sendiri,” pungkasnya.

Lebih jauh, Nur Ija memastikan tidak terlalu sulit menjual hasil panen semangka miliknya. Selain sudah ada pembeli yang memesan, hasil panen juga diantarnya ketempat penjualan buah.

“Kalau kami sih tergantung pembelinya, kadang-kadang kami antar ke tempat orang penjualan buah dekat Ranai. Kadang-kadang ada orang datang ngambil, dan ada juga yang mesan langsung di sini,” terangnya. (KP).


Laporan : Iskandar

Editor : Dhitto


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *