Kritik Karya Sastra Film Soegija

Terbit: oleh -17 Dilihat
Maria Octaria.

Nama : Maria Octaria

NIM  : 2003010011

Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas : Universitas Maritim Raja Ali Haji


Indonesia juga memiliki film yang bertemakan rohani, salah satunya Soegija. Film bergenre kolosal ini mengisahkan perjalanan Albertus Soegijapranata, Uskup pribumi pertama di Indonesia yang diangkat oleh Vatikan.

Perang Asia Pasifik tahun 1940-1950 menjadi latar dari film ini, dimana menggambarkan perjuangan Romo Soegija (diperankan oleh Nirwan Dewanto) dalam mengangkat keagamaan dalam perspektif nasionalis yang humanis.

Garin Nugroho sebagai sutradara, menggambarkan perpisahan dari setiap karakter yang diakibatkan situasi peperangan. Kemudian, Romo Soegija mengambil peran untuk menyatukan hal-hal yang terpecah akibat perang tersebut.

Pandangan Romo Soegija bahwa kemanusiaan itu tidak memandang latar budaya terbalut indah dengan suasana Kota Yogyakarta sebagai latar tempat syuting film ini. Selain itu, musik dan visual yang ditampilkan dalam film ini juga mendukung suasana sehingga penonton benar-benar merasakan berada di tahun 1940-1950.

Saat menyiapkan naskah, sutradara Garin Nugroho menggunakan memoar Soegija Buku Harian Pejuang Kemanusiaan yang ditulis oleh Gregorius Budi Subanar pada 2012 sebagai referensi.

Berlatar tahun 1940-1949, film ini menceritakan seorang pejuang dari sudut pandang yang cukup asing bagi perfilman Indonesia. Kita sering disuguhi kisah-kisah patriotik tokoh-tokoh sentral seperti Soekarno, Kartini atau Jenderal Seodirman. Namun kali ini kita menyaksikan kisah seorang pejuang yang belum banyak diketahui orang.

Kisah ini menceritakan tentang SJ Albertus Soegijapranata, uskup pribumi Indonesia pertama yang berkedudukan di Semarang. Usaha Soegija untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia akan kita hadirkan.

Di tengah peperangan pun menampilkan aspek humanistik yang tak lekang oleh waktu dan perbedaan yang masih sangat kental. Karakter Soegija dibangun sebagai pribadi yang selalu mendahulukan kepentingan rakyat, mengusahakan banyak hal untuk mencapai kemandirian, dan selalu dapat mengendalikan setiap emosi.

Dapat juga dikatakan bahwa ia melakukan silent diplomacy dalam setiap gerak-geriknya, hal ini terlihat ketika ia meminta Vatikan untuk mengakui kedaulatan Indonesia, namun juga ketika ia mengirimkan surat kepada Sutan Syahrir yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri untuk menetapkan menjadi pemerintah daerah. Semarang untuk meredakan situasi.

“Kemanusiaan adalah satu meskipun berbeda asal dan keragaman, berbeda bahasa dan adat istiadat, kemajuan dan gaya hidup. Semua satu keluarga besar. Sebuah keluarga besar di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian kekerasan, tidak menulis lirik berlumuran darah. Tidak ada lagi keraguan, dendam dan permusuhan”

Seperti yang kita ketahui bahwa selama ini yang sering di film kan dalam film kolosal atau peperangan hanyalah tokoh yang terkenal seperti Soekarno,Soeharo, Bj Habibie, dan beberapa pahlawan lainnya. Nah di film kali ini sutradara Garin Nugroho ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada tokoh pahlawan lain yang turut dalam peperangan tahun 1940-1950 dalam membela rakyat.

Film ini sangat bagus dan sangat menginspirasi bagi masyarakat sekarang bahwa perbedaan bukan lah suatu masalah namun sebagai kekuatan dalam mempertahankan kemerdekaan. (*).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *