Kritik Sastra Novel Sang Pemimpi yang Ditulis Andrea Hirata

Terbit: oleh -9 Dilihat
Rosida Br Sihombing.

Nama : Rosida Br Sihombing

Nim    : 2003010015

Kelas  : M 01

Prodi  : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Maritim Raja Ali Haji


Kritik sastra objektif atau kritik sastra dengan pendekatan objektif menjadi aspek yang utuh terhadap suatu karya. Hal ini memberi dua pandangan yang menarik dari segi heteroskosmik dan kontemplasi.Heteroskosmik menilai setiap karya merupakan dunia yang unik, koheren, dan otonom. Melalui sudut pandang kontemplasi, setiap karya adalah objek mandiri yang direnungkan tanpa adanya keterkaitan dengan mimetic dan pragmatik demi kepentingannya sendiri.

Kritik sastra objektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Diperjelas oleh Hasanudin (Abidin 2010 : 75) “pendekatan tujuan merupakan pendekatan yang mengutamakan penyelidikan karya sastra berdasarkan kenyataan teks sastra itu sendiri”. Artinya, dalam kritik sastra objektif tidak mengutamakan unsur ekstrinsik seperti latar belakang penulis, ide cerita, nilai hidup, dan lain-lain. Tetapi fokus pada analisis karya secara objektif sesuai dengan unsur intrinsik. Unsur intrinsik yang disertakan didalamnya adalah tema, amanat, tokoh serta penokohan, alur, latar, dan gaya bahasa.

Sinopsis

Sang Pemimpi merupakan buku ke-2 dari Andrea Hirata yang menceritakan tentang masa SMA tiga orang pemuda yang bernama Ikal, Arai dan Jimbron. Ketiga remaja itu berasal dari Belitong dan melanjutkan sekolah di Manggar, SMA Negeri pertama di Manggar. Arai, Jimbron, dan Ikal bekerja paruh waktu sebagai kuli di pasar ikan untuk membiayai sekolahnya.

Tokoh Arai dalam novel tersebut digambarkan sebagai sosok yang paling cerdas di antara kedua temannya, selalu mengutip kata-kata inspiratif dari berbagai sumber, misalnya “tak semua yang bisa dihitung bisa diperhitungkan dan tak semua yang diperhitungkan bisa dihitung.” Sedangkan Ikal yang sangat mengidolakan H. Roma Irama akan mengutip kalimat dari lirik lagu dari raja dangdut tersebut seperti “Darah muda adalah darahnya para remaja.” Kemudian Jimbron yang sangat menyukai kuda akan mengeluarkan kalimat yang tak jauh dari bahasan tentang kuda.

Arai merupakan saudara jauh dari Ikal yang telah menjadi yatim piatu sejak dudu di kelas 3 SD. Ia sangat tabah menjalani kehidupannya. Bahkan ketika Ikal dan ayahnya merasa sedih dengan keadaannya, Arai malah menghibur Ikal dengan mainan buatannya. Jimbron adalah sahabat setia mereka berdua, yang sangat paham seluk-beluk tentang kuda. Ketiga remaja tersebut sering dimarahi Pak Mustar karena ulah konyol mereka.

Pak Mustar digambarkan sebagai sosok yang sangat bersahaja, disiplin, dan tegas. Ia dapat juga disebut sebagai pahlawan bagi anak-anak di Belitong. Berkat Pak Mustar, Arai dan teman-temannya tak perlu menempuh jarak sejauh ratusan kilometer untuk menuju ke sekolah negeri. Pak Mustar menjadi seorang pemarah ketika anaknya tidak dapat masuk ke SMA yang susah payah ia bangun hanya karena nilai ujian kurang dari 0,25 dari batas minimal.

Profil Andrea Hirata

Andrea Hirata Seman Said Harun adalah sastrawan kelahiran Belitong, 24 Oktober 1967. Ia merupakan anak ke-5 dari pasangan Seman Said Harun Hirata dan Masturah. Mengutip dari situs Ensiklopedia Kemdikbud, riwayat pendidikan Andrea Hirata tercatat telah menempuh kuliah dengan jurusan Ekonomi di Universitas Indonesia dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam Universiy, United Kingdom.

Tesis yang ditulisnya di bidang ekonomi telekomunikasi kini telah di adaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan terbit menjadi buku acuan teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Selain menulis Novel ‘Sang Pemimpi,’ sebelumnya Andrea Hirata telah merilis satu novel berjudul ‘Laskar Pelangi’ di 2005 lalu pada 2006-2007 novel tersebut menjadi best seller. Novel ini berhasil dicetak ulang setelah seminggu terbit dan dalam waktu tujuh bulan mengalami cetak ulang yang ke-3. Menurut penulisnya, novel ini merupakan sebuah memori yang dikemas dengan sastra dengan tambahan latar belakang sosiokultural.

Analisis novel Sang Pemimpi ini menggunakan pendekatan objektif

Tema

Novel ini, Andrea Hirata mengangkat tema perjuangan serta kegigihan dalam mengarungi kehidupan dan meraih impian, demi masa depan yang lebih baik.

Tokoh dan Penokohan

  • Ikal : Seorang anak yang baik hati, cerdas, memiliki optimistis yang tinggi, pekerja keras, dan pantang menyerah.
  • Arai : Seorang yang sangat optimis, cerdas, mampu melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang positif, pekerja keras, dan pantang menyerah. Arai adalah sosok yang spontan dan jenaka, ia seolah percaya bahwa tidak ada yang dapat membuat semangatnya patah, ia sosok yang penuh inspirasi dan rajin.
  • Jimbron adalah sosok berhati tulus. Kepolosan dan ketulusannya menjadi sumber alasan mengapa Ikal dan Arai sangat simpati serta mengasihinya.
  • Seman Said Harun (ayah Ikal) : Ialah sosok yang sangat pendiam namun penuh kasih sayang, sabar, dan bijaksana.
  • A Masturah (ibu Ikal) : Sosok yang murah hati, penuh kasih sayang, rajin, dan cerewet.
  • Pak Mustar (Wakil Kepala Sekolah dan Pendiri SMA Negeri Bukan Main): Sosok yang penyayang namun terkenal keras dan galak ketika berhadapan dengan siswa yang melanggar aturan.
  • Pak Balia (Kepala Sekolah dan Pendiri SMA Negeri Bukan Main) : Sosok tampan yang jujur, cerdas, kreatif, konsisten dalam menerapkan suatu aturan, dan selalu menghargai pendapat siswanya.
  • Nurmala (Gadis pujaan Arai) : Sosok yang cantik, cerdas, acuh, serta memiliki harga diri yang tinggi.
  • Laksmi (Gadis pujaan Jimbron) : Sosok yang rajin beribadah namun pemurung karena masa lalunya yang kelam.
  • Taikong Hamim : Tokoh agama yang sangat ditakuti, memiliki sifat yang keras dalam menerapkan aturan.
  • Bang Zaitun : Pimpinan orkes melayu yang ramah, humoris, dan pribadi yang menyenangkan.
  • Mak Cik Maryamah : Tetangga Ikal yang walaupun hidup dalam keadaan miskin, namun selalu tau cara berterima kasih kepada orang lain.
  • Nurmi : Anak Mak Cik Maryamah yang sangat patuh terhadap perintah ibunya.
  • Pendeta Geovanny : Seorang ayah angkat Jimbron, sosok yang baik hati dan lemah lembut.
  • Nyonya Lam Nyet Pho : Ketua preman pasar ikan yang terkenal bengis, sok berkuasa, tak kenal ampun, dan sosok yang tak mau kalah.
  • Mertua Nyonya Deborah Wong : Nenek berumur hampir 100 tahun yang terkenal mudah marah.
  • Mualim Kapal : Seorang yang baik hati dan sering menolong Ikal dan Arai.
  • Mei-Mei : Anak kecil yang belum lancar berbicara, cerewet, menggemaskan, ceria, aktif, pintar, dan tak mengenal rasa takut.
  • Profesor : Sosok yang cerdas, penuh humor, dan baik hati.
  • Capo : Sederhana, penuh semangat, dan pekerja keras.
  • Odji Darodji: Mandor Ikal saat bekerja di kantor pos, terkenal baik hati, penuh perhatian, dan peduli dengan orang lain.

Alur

Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur campuran, namun didominasi oleh alur maju. Alur maju digunakan pengarang saat menceritakan kenakalan tiga orang tokoh utama dalam novel tersebut, yakni saat dikejar oleh Pak Mustar. Kemudian, untuk alur mundur digunakan saat pengarang menceritakan awal mula Ikal bertemu dengan Arai, saat pengarang menceritakan kisah hidup Jimbron dan Laksmi, penyebab gagapnya Jimbron, dan penyebab murungnya Laksmi.

Latar Tempat  

Di sekolah, gudang peti es, rumah Ikal, los kontrakan, pabrik cincau, gubuk arai, tengah lapangan dekat rumah Nurmala, rumah Bang Zaitun, Bogor, Terminal Tanjung Priok, UI Depok, Bioskop, Terminal Bus Bogor, dan di kapal

Latar Waktu

Senin pagi, Hari Minggu, suatu pagi buta, sore hari, 15 Agustus 1988, usai sholat isya, pukul 12 malam, pagi yang indah, usai sholat maghrib, lewat tengah malam.

Latar Suasana  

Suasana tegang, panik, terharu, gugup, jengkel, ketakutan, penyesalan, gaduh, marah, lega, kaget, dan bahagia.

Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini umumnya menggunakan metafora, majas hiperbola, personifikasi, repetisi (gaya bahasa pengulangan), perumpamaan, majas ironi, dan alegori.

Sudut Pandang

Dalam novel Sang Pemimpi ini, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama, yang berarti bahwa pengarang juga mempunyai posisi sebagai pelaku cerita. Pelaku merupakan pencerita yang serba tahu, termasuk apapun yang hadir di benak atau perasaan para tokoh, baik tokoh utama maupun tokoh lainnya. Dapat dilihat dari setiap bagian novel bahwa tokoh “Aku” mendominasi cerita ini.

Amanat

Adapun pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam novel ini didominasi oleh nilai-nilai kehidupan yang kaya akan kebijaksanaan, nilai moral, perjuangan, kegigihan, dan semangat tanpa kenal menyerah. Andrea berusaha menyampaikan bahwa kesederhanaan, kekurangan, kesulitan yang dihadapi dalam hidup bukanlah alasan untuk kita berhenti bermimpi dan menyerah begitu saja. Keadaan yang serba kekurangan juga bukan alasan kita tak dapat bahagia, dalam kekurangan dan kesulitan itulah kita diajarkan untuk saling berbagi, saling mengasihi, dan saling membersamai. Ketika kita telah berdamai dengan kenyataan yang sulit, maka segala rasa pesimis akan sirna begitu saja, tekad akan semakin kuat, keyakinan semakin besar, dan usaha untuk menggapai impian pun semakin maksimal dilakukan. Ingatlah salah satu kutipan dari novel ini yang berbunyi, “Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi”. (*).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *