Kritik Sastra pada Puisi Tempuling

Terbit: oleh -10 Dilihat
Muhammad Rezi Andesta

Tempuling

Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai

sehabis badai

Seorang bocah menemukannya

sehabis sekolah

: Tuhan

Siapa lagi yang kini telah menyerah!

Tak terlihat tanda-tanda

Tak tercium anyir nasib

Tak tercatat luka musim

Kecuali tangis ombak

Pekik elang

yang jauh dan ngilu

di antara cuaca

dan gemuruh karang

Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai

sehabis badai

 

Seorang bocah menatapnya

penuh gelisah

 

: Tuhan

Diakah kini yang telah menyerah?

telah kalah?

 

: Tuhan

Dia memang telah berbisik

 

Pindahkan pancang

sebelum pasang

 

Hatiku memang telah terusik

ketika sehelai waru

guru

lesap

lewat tingkap

tersuruk

di antara tungku

menunggu gelap

 

Sebatang tempuling tersadai di bibir pantai

sehabis badai

Seorang bocah merasakan pelupuk nya

telah basah

 

: Tuhan

Bawalah seorang menemukan nya

menguburkan nya di antara pantai

memberikan nya satu tanda

dan jangan biarkan arus

membawanya jauh ke lubuk dalam

yang akupun tak tahu

di mana akan kutuliskan

rinduku

[1982/1996/2000]

Puisi ‘Tempuling’ merupakan salah satu puisi karya Rida K Liamsi yang memiliki nama asli Ismail Kadir, beliau lahir di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau pada 17 juli 1943. Beliau adalah sastrawan dan budayawan melayu yang terkenal dari dulu hingga sekarang. Nama beliau dikenal melalui karya-karya nya berupa puisi yang dipublikasikan di berbagai surat kabar.

Melalui puisi ‘Tempuling’ penulis menceritakan perjuangan nelayan dalam menangkap ikan.

Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai

Sehabis badai

Larik di atas memiliki isyarat bahwa seorang nelayan yang kalah bukan ikan, melainkan oleh kedahsyatan alam (badai). Dalam puisi ini juga terdapat kata yang jarang digunakan oleh penulis lainnya yaitu ‘gigi’, biasanya seorang penulis mengekspresikan sebuah laut atau pantai menggunakan kata ‘bibir’, ‘pinggir’ ataupun ‘pasir’.

Pemilihan kata ‘gigi’ dalam puisi ini, memiliki makna yang sangat dalam dimana gigi dalam analogi mulut, secara metaforis memiliki makna sebuah mulut mahaluas yang bernama laut. Jadi, laut adalah mulut alam yang mahaluas, dan pinggiran pantai sebagai gigi yang tidak menyisakan apa–apa. Dengan begitu, tempuling yang tersadai di gigi pantai memiliki makna sisa muntahan mulut alam yang bernama laut.

Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai

Sehabis badai

Didalam dua larik awal ini seperti menunjukkan bahwa sebelum ‘sehabis badai’ ada kisah lain yang dahsyat, yaitu seorang nelayan yang berjuang menyelamatkan diri dari keganasan ombak-badai-mulut alam yang bernama laut.

Hatiku memang telah terusik

Ketika sehelai waru

Gugur

Lesap

Lewat tingkap

Tersuruk

Diantara tungku

Menunggu gelap

Makna yang terkandung dalam larik di atas adalah keluarga harus menyiapkan mentalnya untuk peristiwa atau keadaan yang akan terjadi pada nelayan saat menangkap ikan di laut.

: Tuhan

Bawalah seorang menemukan nya

menguburkan nya di antara pantai

memberikan nya satu tanda

dan jangan biarkan arus

membawanya jauh ke lubuk dalam

yang akupun tak tahu

di mana akan kutuliskan

rinduku

Dalam larik di atas terdapat makna bahwa kenanglah masa lalu yang kita miliki bersama keluarga, sahabat di dalam hati. Jangan melupakan kenangan kita bersama mereka.

Sungguh indah pesan yang terkandung dalam puisi ‘Tempuling’ karya Rida K Liamsi. Puisi yang sangat bagus, hanya saja kata yang digunakan memang sulit dipahami dan seorang pembaca harus berulang kali membacanya untuk mengetahui makna atau pesan yang ingin disampaikan penulis.

Kesimpulan

Dari puisi “Tempuling” yang berarti tombak pendek ini, penulis memberikan cerita tentang bagaimana dahsyatnya ketika alam bergemuruh layaknya laut yang mendatangkan ombak kuat, air pasang, badai dan lainnya. Puisi ini memberikan amanat kepada kita agar siap dan selalu waspada ketika berasa di laut lepas, selain itu puisi ini memberikan gambaran bagaimana sulitnya para nelayan untuk memenuhi kebutuhan sanak saudaranya. (*).


Biodata Penulis

  • Nama : Muhammad Rezi Andesta
  • NIM : 2003010006
  • Kelas : M01 PBSI
  • Mata Kuliah : Kritik Sastra
  • Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
  • Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
  • Universitas Maritim Raja Ali Haji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *