Mulai Hilang Penutur ‘Bum’ di Bunguran Barat Lama?

Terbit: oleh -19 Dilihat

“Bum” satu kata yang umumnya sering terdengar dan diucap masyarakat Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, terutama yang berada di Bunguran Barat lama pada masa itu. Bahkan ketika seumuran anak-anak yang masa itu duduk dibangku Sekolah Dasar di Pulau Sedanau, saya sendiri masih mendengar ucapan Bum.

Singkat cerita yang saya angkat dari perjalanan hidup di Pulau Sedanau. Seiring berjalan waktu awal tahun 2007 saya mulai memasuki jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Pada tahun ini pula, ucapan Bum menurut saya perlahan mulai hilang penutur meski masih ada sejumlah orang-orang tua yang mempertahankannya.

Banyak yang bilang bahwa Bum merupakan bahasa daerah Kabupaten Natuna yang berarti pelabuhan. Seperti yang disampaikan bapak Riduan tetangga saya. Waktu itu saya sudah berada dijenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

“Uqang tue dulok sebut Bum, anak kini aqi lah kelabe sebut pelabuhan (Orang tua dahulu bilang bum, anak zaman sekarang sudah bilang pelabuhan),” ucapnya pada tahun 2012 lalu.

Tahun 2014 saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang berada di Ranai. Sejak tahun ini saya mulai jarang pulang ke Pulau Sedanau, kecuali pada momen tertentu seperti acara keluarga, menyambut bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Setiap momen itu saya selalu berada di Pulau Sedanau. Ntah karena jarang pulang atau memang sudah hilang penutur, baik orang tua maupun anak muda umumnya sudah menggantikannya dengan tuturan pelabuhan.

***

Mengingat masa silam, Selasa, 4 Oktober 2022 siang cuaca tampak sedikit mendung. Tiga cangkir kopi hangat dihidangkan bapak Murdifin pemilik salah satu warung kopi di Ranai. Perbincangan antara saya, Heril, Yusuf dan Murdifin dimulai.

Heril, Yusuf dan Murdifin juga merupakan warga yang berasal dari Bunguran Barat lama waktu itu. Heril berasal dari Teluk Labuh, sedangkan Yusuf dari Semedang.

“Bang Heril, pernah dengar bahasa Bum?,” saya mengawali.

“Pernah,” jawab Heril.

“Benarkah Bum itu artinya pelabuhan,” Saya kembali bertanya.

“Benar, karena nyang (buyut) kita dulu bilang pelabuhan itu Bum,” kata Heril.

“Pak Yusuf bagaimana?,” tanya saya lagi.

“Iya benar, memang orang tua kita dulu bilang pelabuhan itu Bum. Cuma sekarang sudah tidak lagi menggunakan kata Bum. Mungkin karena zaman modern, proyek-proyekpun disebut pelabuhan, maka sebutan pelabuhan itu mulai melekat. Seingat saya ngetopnya bahasa Bum itu tahun 2002 ke bawah,” tambahnya.

“Ya betul yang dikatakan pak Yusuf. Sekarang umumnya sudah mulai menggunakan bahasa pelabuhan, jarang ada orang-orang yang menggunakan bahasa Bum,” sambung Murdifi berasal dari Balai. (*).


Penulis : Johan Narjo

Tempat tanggal lahir : Sedanau, 23 Maret 1995


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *