Tradisi di Bulan Ramadhan yang Terlupakan?

Terbit: oleh -7 Dilihat

“Bang, antar kue ke rumah mak Mi”

“Iya mak,”

Saya bergegas menuju ke sana.

“Mak mi, ada titipan kue dari mak,”

“Pasti enak kue kusoi buatan mak ni. Tunggu sebentar ya,”

Tak lama kemudian mak Mi menghampiri saya di ruang tamu.

“Ini kue dari mak Mi untuk mak,”

“Terima kasih mak Mi,”

Begitulah yang saya lakukan setiap harinya pada bulan Ramadhan sewaktu masih usia anak-anak. Tak hanya mak mi, setiap menjelang berbuka puasa saya juga diminta oleh emak untuk mengantar kue kepada sanak saudara dan para tetangga. Setiap saya pulang ke rumah, tidak pernah wadah yang disediakan emak untuk membawa kue itu kembali dalam keadaan kosong.

Jika dibilang ini sebuah tradisi menukar kue, menurut saya ada benarnya. Namun dibalik tradisi itu, saya menilai dijadikan sebab oleh orang-orang tua dulu supaya anak mengenal silaturahmi dan tumbuh rasa ingin berbagi.

Penilaian itu muncul karena waktu itu tidak hanya dilakukan oleh emak, tetapi juga semua orang tua yang berada di kampung halaman saya. Hal ini jelas menggambarkan tujuannya tak lain untuk mendidik anak agar memiliki akhlak yang baik dan peduli terhadap sesama.

***

Seiring berjalan waktu, banyak warga mulai membuka jasa penitipan kue di bulan Ramadhan untuk dijual. Jasa penitipan ini melebihi dari hari-hari biasanya, yang hanya menjual kue pada pagi hari. Semenjak itu pula, banyak dari orang-orang tua sudah tak lagi membuat kue, melainkan lebih memilih untuk membeli. Kecuali pada minggu pertama dan hari terakhir di bulan Ramadhan.

“Mak tak buat kue hari ini,” tanya saya di minggu kedua bulan Ramadhan berikutnya.

“Tak bang, kita beli saja. Orang-orang pun sudah pakai beli,” kata emak.

Untuk membuktikan ucapan emak, saya berjalan-jalan mengunjungi sanak saudara.

“Mak Mi buat kue apa hari ini,”

“Mak Mi tak buat, mak Mi beli saja,”

Berpindah ke rumah mak su.

“Mak su buat kue apa hari ini,”

“Mak su tak buat apa-apa, mak su beli nanti. Mak buat tak,”

“Mak pun tak buat mak su,”

Ternyata benar yang dikatakan emak waktu itu, sanak saudara juga tak lagi membuat kue. Sama halnya dengan para tetatangga. Tak lagi tampak anak dari para tetangga yang mengantar kue dari rumah ke rumah seperti yang saya lakukan.

Untuk diketahui, waktu itu jika anak tetangga sudah mengantar kue duluan ke rumah saya, maka saya tak lagi mengantar ke rumah yang sama (tetangga). Sebab sudah pasti telah bertukar kue.

***

Perlu ditekankan, tenggelamnya tradisi tersebut bukan berarti terputus silaturahmi dan hilangnya kepudulian terhadap sesama. Hanya saja, tulisan ini saya buat untuk sekedar mengenang suasana masa lalu. (*).


  • Penulis : Johan Narjo
  • Alumni SDN 009 Sedanau, Natuna Tahun 2016
  • Jauh sebelum saya bersekolah, dulunya populer dengan sebutan SD INPRES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *