Jasril Jamal Akui Pengembangan Hasil Tangkapan Nelayan Anambas Belum Maksimal

oleh -297 views
Jasril Jamal, Wakil Ketua Komisi II DPRD Anambas

ANAMBAS (KP) – Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kepuluan Anambas (Anambas), Provinsi Kepri, Jasril Jamal dengan tegas memastikan pengembangan sektor perikanan di Anambas sampai detik ini belum maksimal.

“Kalau saya lihat pengembangan sektor perikanan di Anambas belum maksimal apa lagi dalam kondisi pandemi hari ini ketika saya coba ikut nelayan ke laut begitu susah, kadang para nelayan pernah tidak dapat sama sekali,” ujarnya kepada koranperbatasan.com diruang dinasnya Kamis, 01 April 2021.

Menurut Jasril pada usia kurang lebih 15 tahun Anambas menjadi kabupaten seharusnya perkembangan sektor perikanan dari tahun ke tahun sudah mulai terlihat. Karena sebagian besar wilayah Kepulauan Anambas adalah lautan yang kaya akan sumber daya ikan.

“Kalau berbicara ikan saya katakan di Anambas cukup banyak, jadi kita memang sudah harus memiliki penampungan khusus untuk hasil tangkapan ikan nelayan. Mungkin pemerintah bisa siapkan pabrik olahan menjadi ikan kaleng dan sebagainya,” sebut Jasril.

Kata Jasril, saat ini masyarakat nelayan Anambas kebanyakan menjual hasil tangkapannya dengan cara tradisioanl seperti ikan asap jenis tongkol dan ikan salai lada garam.

“Saya pikir itu perlu juga kita bantu melalui paket kemasan dalam bentuk yang bagus. Maksudnya agar tahan lama untuk kita pasarkan ke seluruh Indonesia dulu, nanti jika sudah berkembang dan memiliki banyak peminat bisa saja kita ekspor keluar negeri,” terangnya.



Politisi Partai PAN itu melihat ada banyak jenis ikan yang diperoleh dari hasil tangkapan masyarakat nelayan tradisional Anambas. Tinggal bagaimana kesiapan pemerintah terhadap hasil tangkapan tersebut.

“Ikan kita luar biasa, saya lihat tongkol paling banyak. Salah satu contoh hasil tangkapan tongkol perhari jika sudah musimnya mereka para nelayan bisa dapat 50-100 kilo. Saya pernah ikut nelayan Palmatak dan Kute Siantan turun ke laut bersama 80-100 buah pompong khusus mencari ikan tongkol saja,” pungkasnya.

Selain menyiapkan pabrik pengolahan dan penampungan ikan, menurut Jasril pemerintah juga harus memikirkan kesiapan alat tangkap dan harga bahan bakar minyak yang menjadi kebutuhan dasar nelayan.

“Jadi dalam mendukung sektor perikanan mari kita bersama-sama memajukan potensi daerah terdepan ini seperti memikirkan kesiapan minyak solarnya. Nanti kita akan koordinasi dengan Perusda gimana agar PAD dari sektort ini bisa kita dapatkan,” imbuhnya.

Salah satu solusi kata Jasril adalah mengaktifkan Perusahaan Daerah (Perusda). Dalam hal ini Perusda menyiapkan pabrik penampungan dan pengolahan hasil tangkapan nelayan, kemudian pemerintah menyiapkan fasilitas penujang kegiatan tersebut.

“Nelayan kita jalan terus, cuma pengembangannya yang belum jalan, makanya Perusda harus berdiri dulu. Biar mudah produksi jangan kita mempersulit masyarakat. Apa lagi harga ikan saat ini jatuh,” tuturnya.

Jasril mengaku optimis bisa mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika sektor perikanan bisa dikelola dengan baik.

“Insyaallah, saya yakin dan percaya akan menambah PAD kalau terkelola dengan baik melalui Perusda. Hasil tangkapan nelayan dijual dengan Perusda, nanti Perusda oleh ikan itu, terus pemerintah siapkan fasilitasnya. Artinya pemerintah melalui Perusda yang akan menjual keluar, masyarakat nelayan cukup menjual ke Perusda,” jelasnya.

Sebagai wakil rakyat, Jasril berharap niat baik dalam pengembangan sektor perikanan di Anambas harus tertanam disetiap pemikiran instansi terkait. Perjuangan pengembangan sektor perikanan harus dilakukan secara berjamaah.

“Kita memang harus berani, pemerintah harus berkoordisi dengan DPRD, sampaikan bahwa kami punya program ingin bangun ini untuk penampungan ikan atau tempat pengalengan ikan. Akan lebih lagi jika Bupati dan DPRD sama-sama jemput bola. Kita siapkan proposalnya setelah itu, sama-sama kita pergi jemput bola di pusat,” harapnya. (KP).


Laporan : Azmi Aneka Putra