Natuna Kawasan Ekonomi Khusus Perikanan Diharapkan Tidak Sekedar Wacana

oleh -451 views
Potret senja di perairam laut Kecamatan Pulau Tiga Barat, Natuna

NATUNA (KP) – Wakil Bupati Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Rodhial Huda mendukung percepatan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus Perikanan (KEK Perikanan) yang diwacanakan oleh Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP) RI.

Kata Rodhial, jika wacana tersebut mengungtungkan bagi perkembangan sektor perikanan di Natuna pihaknya akan berupaya mendesak pemerintah mempercepat wacana tersebut.

“Wacana itu kalau menguntungkan kita mendesa pemerintah pusat mempercepatnya, memang itu ada kajian-kajian, apa bentuk KEK-nya, dimana lokasinya, tapi yang terpenting sudah ada angin segar,” kata Rodhial menjawab koranperbatasan.com dikediamannya, Selasa 15 Juni 2021.

Menurut Rodhial, wacana tersebut menjadi hal utama dalam menggenjot perputaran perekonomian dari sektor perikanan, karena Natuna sudah terbukti memiliki potensi perikanan besar.

“Tapi tidak hanya kita berperan, bagaimana provinsi, bagaimana pusat bagaimana pula para nelayannya, konsep semua yang dipakai, jika nanti kita banyak ikan dimana pula mau kita jual ikan tersebut, nah itu harus ada kajiannya, atau ikan itu kita jual mentah saja,” ujarnya.

Kajian lain lanjut Rodhial, jika ingin mendapatkan nilai tambah dengan harga jual mahal bisa saja ikan yang dimiliki dijual dalam kondisi daging terpisah dari tulangnya.



“Jadi harus ada sentuhan industri rumah tangga, industri kecil menengah, industri kemasan, karena kita orang Natuna satu ekor ikan satu orang yang dapat duit, kalau diluar negeri satu ekor ikan itu 5-6 orang dapat duit,” pungkasnya.

Penilaian tersebut disampikan Rodhial mengingat nelayan menjual kemudian pihak kedua membeli lalu membersihkannya, selanjutnya orang ketiga yang membeli ikan tersebut kembali menjulanya dengan cara memisahkan daging dan tulang sehingga memperoleh hasil jual tinggi.

“Daging untuk dijual, tulang untuk industri pangan, obat-obatan, nanti yang membeli dagingnya olah menjadi seperti bakso dan sosis, setelah jadi sosis mereka kemudian memasukannya ke supermarket, makanya dari satu ekor ikan itu 5-6 orang mendapatkan nilah tambah, kalau kita disini dari nelayan beli langsung makan, selesai,” cetusnya.

Selama ini lanjut Rodhial, hasil tangkapan ikan yang sebenarnya masih bernilai ekonomi dimana tulang dan kulitnya bisa dikelola menjadi produk lain, kebanyakan dibuang begitu saja.

“Nah, KEK itu tempat mengelolanya supaya menjadi produk-produk turunan. Seperti rumput laut jika kita langsung jual hanya beberapa rupiah saja perkilo, tapi jika kita keringkan dijadikan karagenan harganya sudah lain, jadi memang harus ada pabrik karagenan, itu lah perlunya KEK industri-industri itu,” terangnya.

Sebelumnya Sekretaris Dinas Perikanan Natuna, Sofiandi menjelaskan wacana KEK yang dicangkan oleh KKP ada dua tempat pertama di Natuna, kedua di Sabang. Wacana tersebut sudah ditindaklanjuti oleh Kemenlu.

“Kemudian dari Kementerian Perekonomian, kawasan Natuna ini mau dijadikan kawasan ekonomi khusus, ini pun khusus sektor perikanan, sekarang sedang dikerjakan oleh kementerian,” kata Sofiandi kepada koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Selasa 08 Juni 2021.

Sofiandi memastikan sebelum wacana tersebut datang dari kementerian, Natuna jauh-jauh hari telah mewacanakan hal tersebut karena sangat penting untuk kemajuan ekonomi.

“Tapi pas belum selesai kita merancang, tau-tau menteri sudah ngomong duluan, artinya dalam istilah kayuh bersambut, kita punya keinginan tak taunya menteri yang ngomong, kalau kita yang ngomong mungkin responnya agak lambat, ini menteri yang ngomong apa gak kaget, senangnya minta ampun,” pungkasnya.

Kata Sofiandi, Natuna merespon posirif wacana tersebut, meskipun tidak serta merta bisa terwujud, karena wacana tersebut lintas kementerian dan lembaga.

“Prinsipnya bagi Natuna senang sekali dan kita memang berharap seperti itu, jadi ada suatu dukungan yang besar untuk memanfaatkan sektor perikanan ini demi kemajuan perekonomian Natuna, kalau tidak kita akan ketinggalan terus, karena selama ini ikan-ikan yang tertangkap itu ekspornya bukan atas nama Natuna, tempat sarana pendukung untuk ekspor itu belum ada,” ujarnya.

Nanti lanjut Sofiandi, jika Natuna sudah menjadi kawasan ekonomi khusus sektor perikanan diyakini bisa maju dan sekarang semua pihak sedang bekerja untuk mewujudkannya.

“Jadi kita di Pemda sudah kompak dari sektor perikanan, diperencanaan mereka dorong, Bappedanya itu juga kerja kerja menyambut respon dari pada Pak Menteri waktu berkunjung ke Natuna,” tuturnya.

Sofiandi berharap wacana tersebut segera terwujud, sebab ada banyak efek dominonya, bahkan bisa memancing berkembangnya sektor-sektor lain.

“Natuna tentunya akan cepat berkembang, mudah-mudahan wacana ini tidak hanya dibicarakan, tapi memang akan terjadi, untuk jangka pendek ini kita sudah melihat respon kementerian, bahkan baru-baru ini ada acara di Kemendagri arahnya menuju kesana, memang sudah ada tanda-tanda,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan – Hairil