Kapal Ikan Asing Berkeliaran, Wabup Natuna : Namanya Maling Memang Cerdas

oleh -657 views
Rodhial Huda, Wakil Bupati Natuna

NATUNA (KP) – Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Natuna, Rodhial Huda merspon cepat terkait rumpun ikan berbendera Vietnam yang ditemukan oleh nelayan Anambas di sekitar perairan Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Menurut Rodhial, tidak semua rumpun ikan meski harus dipasang bendera negaranya, benda tersebut kemungkinan disengaja dipasang diperairan, sehingga menjadi perhatian.

“Tetap akan ditelusuri oleh Angkatan Laut kita, apakah itu memang dia punya rumpun, punya rawai lalu dikasih bendera, atau itu sengaja dibuat Vietnam untuk mengganggu kedaulatan negara kita,” kata Rodhial menjawab koranperbatasan.com dikediamannya, Selasa 15 Juni 2021.

Kata Rodhial persoalan Kapal Ikan Asing (KIA) berkeliaran diperairan Laut Natuna Utara memang kerap menjadi pertanyaan nelayan lokal kepada Bakamla. Meraka bertanya jika ditemukan kapal ikan asing diusir atau ditangkap.

“Bakamla tetap bilang ditangkap, cuma kenapa masih ada, karena memang tidak mudah menangkap kapal-kapal tersebut di laut, yang namanya maling memang cerdas, atau mungkin mereka punya intelnya sehingga mereka tahu pergerakan kapal perang kita,” ungkapnya.

Menurut Rodhial, kemajuan teknologi informasi membuat pergerakan petugas terbaca sehingga dengan mudah para nelayan asing tersebut bergegas meninggalkan lokasi saat hendak ditangkap.



“Sekarang ini menangkap maling di darat saja setengah mati, apa lagi maling di laut, karena nelayan asing itu menangkap di area tangkapan masyarakat nelayan lokal, tentu nelayan tradisonal lokal merasa terganggu, jadi kami pemerintah daerah mengambil perhatian ini,” pungkasnya.

Rodhial memastikan pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengatur laut, karena laut menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan pusat. Sejauh ini daerah hanya bisa memperjuangkan nasib nelayan lokal melalui pembelaan atas kepentingan daerah.

“Kami harus bela nelayan tradisional, kalau tangkapan mereka berkurang disebabkan berbagai masalah itu, kan nelayan kurang pendapatan akan bertambah jumlah kemiskinan, sementara salah satu tujuan dari pembangunan adalah mengurangi kemiskinan,” tegasnya.

Terpisah Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Sofiandi mengaku belum mendapatkan bukti akurat terkait rumpun ikan berbendera Vietnam yang ditemukan oleh nelayan Anambas di sekitar perairan Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau,

Kata Sofiandi, saat ini apakah rumpun tersebut masih aktif beroperasi atau hanya sebatas sisa-sisa yang hanyut. Ia memastikan sampai saat ini Dinas Perikanan belum pernah melihat barangnya, sehingga tidak bisa memberikan tanggapan lebih mendetail terkait rumpun tersebut.

“Sampai detik ini tidak ada satu pun nelayan lokal di Natuna memberi laporan ke Dinas Perikanan terkait hal ini,” kata Sofiandi menjawab koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Selasa, 08 Juni 2021.

Terkait adanya aktifitas Kapal Ikan Asing (KIA) berbendera Vietnam yang melakukan penangkapan ikan disekitar perairan Laut Natuna Utara dalam artiaan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dirinya berkeyakinan jika itu benar tentu sudah tertangkap oleh aparat.

“Tidak mungkin mereka bisa berkeliaran karena aparat saat ini sangat intensif melakukan patroli di perbatasan. Kalau saya mau cerita ini bisa sekedar orang meniupkan issu, saya meyakini petugas kita dari TNI-POLRI sudah bekerja, sehingga saya tidak terlalu yakin itu ada. Jikapun ada, saya tidak bisa berkomentar lebih jauh karena itu ada petugasnya,” tegas Sofiandi.

Menurut Sofiandi, dua hal tersebut tidak masuk dalam ranah tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Dinas Perikanan, karena kewenangan laut tidak ada di kabupaten melainkan di provinsi, sehingga dalam hal ini Dinas Perikanan tidak bisa bertindak lebih jauh.

“Memang apa yang berjalan itu terkait dengan perikanan, misalnya KIA menangkap atau mencuri ikan diwilayah kita, tapi Dinas Perikanan tidak punya kewenangan untuk  menangani itu. Jadi kita Dinas Perikanan hanya menangani khusus misalnya pembudidayaan, kesejahteraan para nelayan, serta dukungan dari sarana prasarana. Ketika kita mendengar dan melihat tentunya kita akan berkoordinasi dengan aparat yang berwenang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Natuna, Marzuki, SH, dengan tegas meminta aparat yang berkompeten segera mentelusuri penemuan rumpun ikan berbendera Vietnam oleh nelayan Anambas diperairan Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Sebagai wakil raktyat, Marzuki berharap patroli di Laut Natuna Utara khususnya dapat dilakukan secara terus menerus tidak hanya ketika adanya laporan dari masyarakat nelayan.

“Jangan hanya menunggu laporan nelayan baru turun, karena ini semuanya untuk menjaga kedaulatan negara kita, baik dari sisi melanggar batas negara maupun dari sisi illegal fishing,” ujar Marzuki kepada koranperbatasan.com melalui pesan WhatsApp Minggu, 06 Juni 2021.

Politisi Partai Gerindra itu, mengaku dalam beberapa hari ini dirinya telah banyak menerima keluhan dari masyarakat nelayan lokal terkait keberadaan Kapal Ikan Asing (KIA) khususnya yang berbendera Vietnam.

“Apa lagi pada satu minggu terakhir ini saya sering mendapat laporan dari nelayan tentang keberadaan kapal-kapal ikan berbendera Vietnam banyak disekitar laut Natuna,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut disampikannya kepada redaksi koranperbatasan.com menjawab laporan nelayan lokal dan pemberitaan yang diterbitkan oleh media siber zonasidik.com, berjudul “Heboh, Nelayan Anambas Temukan Rumpun Ikan Bendera Vietnam” terbit Minggu, 06 Juni, 2021.

Sebagaimana diketahui kapal ikan asing kembali marak mencuri ikan disekitar Laut Natuna dan Anambas Provinsi Kepulauan Riau. Kegiatan illegal fishing tersebut sempat didokumentasikan oleh nelayan Anambas.

Salah seorang nelayan Desa Putik, Kecamatan Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, Alfin bersama dua rekannya mengaku sempat mengambil video dan foto menggunakan telepon genggam miliknya.

“Iya betul, saya sendiri yang mengambil video rumpun ikan berbendera Negara Vietnam itu di titik koordinat 5°54°557 N 107°09°200 E atau hanya berapa puluhan Mil dari Pulau Laut, Kabupaten Natuna,” kata Alfin kepada zonasidik.com, Sabtu (5/6/2021).

Tidak hanya rumpun ikan berbendera Negara Vietnam, Alfin dan rekannya juga mendapati adanya aktifitas KIA berbendera Vietnam yang melakukan penangkapan ikan di laut Natuna pada 1 Juni dan 2 Juni 2021.

Alfian juga sempat mengunggah video dan foto kejadian tersebut di media sosial miliknya. Ia menceritakan pada Selasa (1/6/2021) mendapati sekitar 20 KIA melakukan penangkapan ikan di malam hari.

“Saya hitung jumlahnya 20 kapal asing, itupun yang terlihat cukup dekat, belum lagi yang posisi berada jauh dari kita,” jelasnya.

Menurut Ia, dampak maraknya KIA di laut Natuna Utara selain meresahkan dan mengancam keselamatan nelayan juga berdampak pada rusaknya terumbu karang sebagai daerah tangkapan nelayan.

“Terumbu karang banyak hilang dalam Global Positioning System (GPS) kita, itu akibat terumbu karang sudah rusak oleh jaring kapal ikan asing, dan ikan susah didapat karena dampak dari jaring itu, nelayan dari Kijang, Kabupaten Bintan juga mengeluhkan bubu ikan mereka juga sering hilang karena ulah kapal ikan asing,” terangnya.

Terkait rumpun ikan berbendera Vietnam, Alfin menceritakan bahwa rumpun ikan tersebut adalah rumpun ikan yang sampai ke dasar dengan dipasang pemberat. Saat itu, bendera Negara Vietnam yang dipasang di rumpun ikan tersebut dalam kondisi masih baru.

Diketahui, sebagian nelayan Kabupaten Kepulauan Anambas melakukan penangkapan ikan sampai di Laut Natuna Utara dengan pompong mayoritas ukuran 5 Gross Tonnage (GT). (KP).


Laporan : Johan – Hairil