Ekonomi Terpuruk, Kesulitan Terasa, Jumlah Orang Kaya Malah Meningkat

oleh -615 views
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Natuna, Marzuki, SH.

NATUNA – Sepanjang masa pandemi Covid-19 kebanyakan orang menyebut hampir semua sektor ekonomi terpuruk. Bahkan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah mengalami penurunan.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Natuna, Marzuki, SH, dengan tegas mengungkapkan, saat ini upaya pemerintah untuk memperoleh data sesungguhnya tentang orang-orang yang dikategorikan miskin tidak lah mudah. Karena roda perputaran nasib di masa pandemi terus terjadi.

“Hari ini menurut saya sulit mendata orang miskin. Karena orang bisa miskin dengan keadaan, begitu juga sebaliknya. Katakanlah awalnya pedagang kategori tidak miskin, ketika usahanya dibatasi mereka bisa saja jatuh miskin, belum tentu juga mereka mampu membayar bermacam-macam tagihan rutinnya seperti listrik,” ungkap Marzuki, kepada koranperbatasan.com di rumah dinasnya belum lama ini.

Menurutnya, pemerintah memang harus jeli melirik kearah perputaran roda tersebut, agar lahir solusi tepat. Karena setiap orang bisa saja berontak, ketika ruang geraknya dibatasi.

“Mereka bisa saja berpikir dari pada anak-anak istrinya tidak makan, maka mereka akan langgar peraturan itu. Begitu juga dengan aparat yang menjaga peraturan itu, bisa saja mereka kelelahan, terus sama-sama emosi, akhirnya bentrok,” ujar Marzuki.

Marzuki, SH Anggota DPRD Natuna

Kata Marzuki, situasi sulit di masa pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir tentunya akan melahirkan berbagai persepsi. Namun semua itu tidak ada yang dapat disalahkan.

“Bisa saja satgas berpikir orang tidak mau ikut aturan, terus masyarakat merasa mereka mau cari makan,” pungkasnya.



Anehnya jumlah orang-orang kaya di Indonesia sepanjang masa pandemi malah semakin bertambah. Perusahaan investasi Credit Suisse baru-baru ini menyebut meski ekonomi anjlok akibat terdampak pandemi, namun jumlah orang kaya di berbagai negara justru mengalami kenaikan.

Menariknya orang-orang kaya di Indonesia juga termasuk yang mengalami peningkatan kekayaannya. Dikutip dari situs resmi Credit Suisse dan Financial Times, jumlah orang di Indonesia dengan kekayaan di atas 1 juta US Dollar atau kurang lebih Rp 14,49 miliar ada 172.000 orang.

Jumlah ini bertambah 62,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy). Faktor  yang menyebabkan jumlah orang kaya di Indonesia semakin bertambah meski pandemi Covid-19 melanda menurut Credit Suisse, karena kenaikan harga aset di dorong suku bunga rendah. Imbasnya mendorong harga aset di pasar keuangan.

Selain pada sektor keuangan, harga aset fisik seperti properti masih mencatat kenaikan meski lajunya melambat.

Sebagaimana dilansir dari artikel yang telah tayang di inews.id dengan judul “8 Negara dengan Pertumbuhan Orang Kaya Terbanyak Selama Pandemi Covid-19”,  Jumat, 27 Agustus 2021 menyebutkan kekayaan kolektif 650 miliarder Amerika melonjak 1,2 triliun dolar Amerika Serikat (AS) selama pandemi Covid-19.

Sebagian besar dari mereka tidak terpengaruh oleh pandemi. Laporan Kekayaan Global dari Credit Suisse menyebut, terlepas dari dampak pandemi terhadap terpuruknya ekonomi dan meningkatnya pengangguran, total kekayaan rumah tangga global tumbuh 7,4 persen mencapai 418,3 triliun dolar AS.

Antara periode 2019 hingga 2020, lebih dari 5 juta orang bergabung dengan klub jutawan global. Pada akhir 2020, ada lebih dari 56 juta orang memiliki kekayaan 1 juta dolar AS (sekitar 1,4 triliun) atau lebih di seluruh dunia dibanding tahun sebelumnya yang hanya 50,9 juta orang.

Penambahan jumlah orang kaya terbanyak pada periode tersebut terjadi di AS, di mana 1,73 juta orang masuk dalam klub jutawan global di tengah kondisi sulit pandemi. Sementara Jerman memiliki pertumbuhan populasi orang kaya terbanyak kedua dengan 633.000 orang, sedangkan Australia di posisi ketiga dengan populasi orang kaya tumbuh 392.000 orang.

Adapun negara yang mengalami penurunan terbesar dalam popullasi orang kaya, yakni Brasil dan India, masing-masing menyusut 108.000 dan 66.000 orang. Credit Suisse menyatakan, AS memiliki populasi orang kaya sebanyak 21,95 juta orang pada tahun lalu, yang merupakan jumlah tertinggi di dunia. Secara signifikan juga lebih banyak dari China yang berada di urutan kedua dengan 5,28 juta orang.

Marzuki mengakui hal tersebut, karena tidak semua aktifitas masyarakat dapat di hantam badai pandemi Covid-19.

“Tentu masih ada untungnya ketika kita berada di Kabupaten Natuna. Karena sebagian besar masyarakat kita adalah nelayan. Artinya di laut tidak akan ada kerumunan, sehingga aktifitas melaut tetap terus bisa dilakukan oleh para nelayan, dan bisa jadi harga ikan tetap stabil,” tuturnya.

Namun lanjut Marzuki, pemerintah tetap saja harus mencarikan solusi yang terbaik terutama bagi masyarakat yang dikarantina. Karena jumlah anggaran untuk penanganan Covid-19 cukup besar, diperkirakannya sekitar Rp 30 miliar.

“Contoh begini, saya dikarantina karena positif, tetapi anak istri saya tidak. Sementara saya adalah tulang punggung kelauarga. Nah, pemerintah harus bisa membantu tidak hanya yang dikarantina saja, tetapi bantuan juga diberikan kepada keluarganya yang tinggal di rumah,” cetusnya.

Hari ini kata Marzuki, memang program dijalankan bagaimana Covid-19 bisa ditangani dan ekonomi tetap terjagakan, karena itu adalah keinginan pemerintah. Tetapi ketika semua lini dibatasi dalam waktu yang panjang dampaknya sangat dikuatirkan. (KP).


Laporan : Johan