Pembatasan Jam Operasional Usaha Mikro Kecil Menengah Akan Dievaluasi Kembali

oleh -419 views
Potret kondisi Pantai Piwang, Ranai Kabupaten Natuna beberapa tahun lalu dan saat ini kembali menjadi pusat keramaian dan tempat UMKM membuka stand usaha

NATUNA – Wakil Bupati Kabupaten Natuna, Rodhial Huda menjelaskan penerapan pembatasan jam operasional bagi pelaku usaha mikro di daerah melanjutkan surat edaran Presiden RI dan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia bukan hanya di Natuna saja.

Disamping itu, kata Rodhial kebanyakan orang-orang yang datang berkunjung di tempat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada malam hari bukan karena ingin menikmati makan malam, tetapi berkumpul-kumpul hingga larut malam.

“Jika semua setiap jam 9 malam tutup, saya yakin pasti orang yang ingin makan itu akan bergerak sebelum jam 9 malam, makan sampai jam 11/12 malam itu siapa juga,” kata Rodhial kepada koranperbatasan.com dikediamannya belum lama ini.

Rodhial mencontohkan di Pantai Piwang Ranai, terdapat jejeran orang membuka tempat usaha dan menjual berbagai jenis makanan, namun kenyataannya ada banyak pengunjung datang pada pukul 9 malam keatas karena ingin nongkrong, duduk minum kopi.

“Sebenarnya tidak mempengaruhi, misalnya dia bilang jam 9 tutup, tentu pengunjungnya akan datang membeli dan pulang sebelum jam 9, siapa yang mau makan sebelum jam 9 sudah beli untuk dibawa pulang, cuma kan banyak yang cari celah untuk tidak mematuhi prokes, larinya kependapatan,” ungkapnya.

Wakil Bupati Natuna, Rodhial Huda dan salah satu wartawan koranperbatasan.com poto salam komando usai wawancara

Menurut Rodhial, mungkin setelah 50% program vaksinisasi, Pemda Natuna akan mengadakan rapat evaluasi meninjau kembali pemberlakuan aturan jam malam bagi pelaku usaha.

“Saya akui memang banyak yang protes, tidak hanya jam malam saja, orang nikah, hiburan orgen juga mengeluh tidak bisa main, memang Polisi sama Satpol-PP razia terus, razia dilakukan karena tingkat kesadaran untuk mematuhi itu kurang, sehingga sulit memutuskan mata rantai Covid-19,” pungkasnya.



Rodhial mengaku belum dapat memutuskan hal tersebut dalam satu bulan ini karena sekarang setiap daerah sedang focus mensukseskan program vaksinasi nasional.

“Saat ini fokus itu semua, sementara hal ini tetap berjalan biasa tanpa formula, misalnya kita mau buka penjualan ke luar negeri belum bisa, sekarang Kalimantan saja sudah membatasi gerakan orang,” ujarnya.

Kata Rodhial, himbaun-himbauan yang disampaikan dalam masa pandemi bertujuan memperkuat ketahanan pangan sendiri, agar arus keluar masuk orang dan barang tetap dapat berjalan.

“Kita takut seandainya terjadi lockdown, semuanya tertutup tidak ada yang bisa bergerak, makanya kita antisipasi jangan sampai putus barang, jadi itu yang perlu dijaga terlebih dahulu,” terangnya. (KP).


Laporan : Johan – Hairil