Makam Tua Digali Situs Kampung Segeram Dirusak Pemkab Diminta Bertindak

oleh -949 views
Pembina Yayasan Abdi Umat (YAU) Kabupaten Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I

NATUNA – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna akan melakukan diskusi publik dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, membahas hasil dari riset aksi yang telah dilakukan di Kampung Segeram, Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, pada tanggal 12-15 Agustus 2021 lalu.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pembina Yayasan Abdi Umat (YAU) Kabupaten Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I, menjawab koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Jum’at, 17 September 2021.

“Waktu itu, riset aksi dalam rangka Milad STAI Natuna yang sifatnya internal. Namun, nanti hasilnya memang akan didiskusikan melibatkan dinas-dinas terkait,” sebut H. Umar Natuna.

Pembina Yayasan Abdi Umat (YAU) Kabupaten Natuna, H. Umar Natuna, S.Ag, M.Pd.I saat mendampingi STAI Natuna melakukan riset di salah satu situs makam keramat Kampung Segeram.

Ia menjelaskan riset yang dilakukan oleh STAI Natuna beberapa waktu lalu bersifat internal, belum melibatkan dinas-dinas atau instansi terkait. Semua itu dilakukan guna mengumpul informasi-informasi penting untuk dijadikan penelitian dan sebagai bahan diskusi bersama tindaklanjut dari penelitian.

“Misalnya sektor pendidikan bisa ajak Dinas Pendidikan, sektor agama dengan Kementerian Agama, dan sektor budaya dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan,” terangnya.

Menurutnya, upaya memperoleh informasi awal yang dianggap penting, tidak mesti harus melibatkan semua pihak, cukup secara internal guna mengetahui apa-apa saja yang dibutuhkan. Semua pihak akan dilibatkan setelah adanya hasil penelitian dan temuan berbagai informasi penting untuk segera dikembangkan.

“Mungkin mereka bisa melanjutkannya, karena pemerintah punya power, punya anggaran, dan kekuasaan. Bisa saja diteliti lebih lanjut, diverifikasi lagi, tidak hanya sampai disini,” ujarnya.



Pembina Yayasan Abdi Umat Kabupaten Natuna, H. Umar Natuna, bersama Tim Riset Aksi STAI Natuna, dan tokoh masyarakat setempat menemukan beberapa makam tanpa batu nisan di hutan luas Kampung Segeram.

Saat ini hasil dari riset sedang disiapkan untuk bahan penerbitan jurnal dan sekaligus bahan diskusi publik. Karena ada banyak hal yang harus ditindaklanjuti oleh pihaknya dari informasi awal yang sudah terkumpul.

“Segeram dulunya punya masa kejayaan, tetapi tidak berdampak sama sekali dengan perkembangan zaman. Ada banyak pertanyaan penelitian yang harus di jawab. Kenapa pemerintah kurang memperhatikannya, padahal dulu punya sejarah masa lalu yang kuat, itu kan pertanyaan-pertanyaan kita,” ungkapnya.

Menurut cerita masyarakat, lanjut H. Umar Natuna, Kampung Segeram adalah awal mula pemerintahan Melayu dan penyebaran agama Islam di Natuna. Pada masanya ada banyak tokoh besar di Kampung Segeram, seperti Demang Megat, Engku Fatimah, Putri Bulan, serta generasi-generasi Demang Megat lainnya.

“Nah! kenapa pemerintah kurang memperhatikan, justru georpark batu itu yang diperhatikan,” cetusnya.

Potret tumpukan beberapa pecahan batu nisan situs makam keramat yang ada di Kampung Segeram ditemukan sudah dalam keadaan terpisah alias rusak

Dalam hal ini, H. Umar Natuna memastikan pihaknya sudah berkerja optimal sesuai kemampuan yang dimiliki. Kemungkinan akan turun kembali kelepangan untuk melengkapi kekurangan data-data. Karena berjalannya proses penulisan jurnal, masih banyak informasi yang harus ditelusuri secara mendalam.

“Memang kerja meneliti harus fokus dan harus terus menerus, tidak bisa sekali, sama dengan pemerintah membuat proyek, sekali proyek belum tentu langsung jadi,” pungkasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, ia berharap pemerintah daerah sudah harus segera mendata dan memverifikasi situs-situs budaya yang ada di Kampung Segeram, sebelum terlambat.

Sebab makam-makam tua yang ada di daerah tersebut sudah banyak di gali oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, sehingga ada banyak batu nisan dari situs makam tua ditemukan sudah tidak dalam keadaan utuh lagi.

“Mungkin dianggap ada harta karun di bawah itu, kalau tidak segera di data dan diverifikasi ulang, tentu jejak itu semakin hilang,” tuturnya.

Salah satu bukti peninggalan situs sejarah berupa makam keramat di Kampung Segeram yang batu nisanya diperkirakan terbuat dari batu karang dan batu hitam.

Ia juga meminta kepedulian dari masyarakat Kampung Segeram, untuk tetap menjaga situs-situs budaya yang ada di daerah tersebut. Ia bahkan dengan tegas menghimbau masyarakat untuk membentengi situs-situs tersebut, jika ada orang atau pihak yang ingin merusaknya.

“Jangan kasih kesempatan, oleh karena itu STAI Natuna akan terus berbuat, mulai dari pengabdian mahasiswa maupun mengabadikan Kampung Segeram dalam jurnal yang akan kita terbitkan nanti. Cuma itu lah upaya-upaya yang bisa kita lakukan, memang masih sangat terbatas, karena kemampuan kita terbatas,” ujarnya.

Ia memastikan kemampuan yang dimiliki pemerintah daerah jauh lebih kuat. Pemerintah daerah memiliki sumber daya orang, anggaran, bahkan kukuasaan. Jika kekuatan pemerintah daerah dikerahkan, bekerjasama dengan STAI Natuna, tentunya akan lebih baik.

Umar Natuna, mengakui memang sudah terjalin kerjasama angtara STAI Natuna dengan Pemerintah Daerah melalui OPD terkait. Seperti Dinas Pendidikan dalam kajian akademik, tentang Perda pendidikan.

“Kemudian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, memang Pak Hadisun juga sudah menghubungi saya, untuk bekerjasama dalam kajian akademik budaya tak benda,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan