Potensi dan Produksi Sagu di Natuna Menurut Purnawirawan Polri

oleh -626 views
Purnawirawan Polri, AKBP Wisnu Edhi Sadono, saat menceritakan peluang pengembangan industri sagu Natuna di Kedai Kopi Ayong Jalan Hangtuah Ranai, Bunguran Timur Kabupaten Natuna, Kamis 08 Juli 2021.

NATUNA – Siang itu, Kamis, 08 Juli 2021, hujan begitu deras, airnya turun tanpa ragu membasahi setiap yang tidak tertutupi oleh atap Kedai Kopi Ayong, tempat dimana duduk sosok Purnawirawan Polri, AKBP Wisnu Edhi Sadono, yang pernah menjabat Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakpolres) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau tahun 2019-2021.

Lelaki yang pernah dipercaya sebagai Trainer atau Pelatih HAM (2005-2009) Program Kerjasama Polri dengan IOM (International Organization for Migration) itu, tidak sendiri. Ia duduk semeja dengan beberapa kuli tinta, menikmati kopi panas sambil berbagi cerita, membahas tentang banyaknya potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang terbiarkan begitu saja.

Tersisa beberapa pohon sagu tumbuh di tengah-tengah pemukiman warga Kelurahan Ranai Kota, bukti nyata bahwa Kabupaten Natuna tidak hanya dikelilingi lautan juga dikelilingi hutan sagu.

Menurut mantan Kapolsek Teluk Bintan Res Bintan (2011-2013), salah satu potensi yang belum tersentuh dan tidak seberapa diminati, namun memiliki peluang industri besar di Natuna dari sektor perkebunan adalah sagu.

Karena sekitar 50% potensi sagu dunia ada di Indonesia, dan sekitar 90% potensi sagu Indonesia ada di Papua, termasuk Papua Barat. Karena itu Indonesia mempunyai peluang amat besar untuk menjadi pelopor dalam modernisasi industri pengolahan sagu, dan Kabupaten Natuna menurutnya juga memiliki peluang yang sama.

Sosok Purnawirawan Polri yang pernah menjabat Kasubbag Humas Polres Tanjungpinang pada tahun 2013 itu, mengaku sangat tertarik dengan perkebunan sagu yang ada di Natuna sejak pertama kali bertugas. Karena wilayah distribusi luasan perkebunan sagu di Natuna tersebar hampir di seluruh kecamatan.

Lelaki yang akrab disapa Wisnu, oleh awak media setempat itu, melihat perlakuan sagu di Natuna berbeda dengan di daerah-daerah lain. Di Natuna, sagu dianggap seperti tidak memiliki nilai jual, bahkan tidak terurus dengan baik dan diperlakukan sama seperti pohon hutan yang tumbuh dengan sendirinya dan mati termakan usia.

Potret, salah satu hutan perkebunan sagu di Kabupaten Natuna dimanfaatkan sebagai tempat melepas lelah oleh warga sekitar yang memiliki hobby memancing ikan air tawar.

Padahal kata Wisnu, sagu lebih unggul dari padi untuk memberi makan dunia. Sagu dalam satu hektar dapat menghasilkan 20-40 ton pati, jika dijumlahkkan dengan luas areal sagu sebesar 5 juta hektar akan menghasilkan 100-200 juta ton.



Sedangkan padi membutuhkan 12 juta hektar untuk bisa menghasilkan 30 juta ton, sementara sagu bisa menghasilkan 30 juta ton pati hanya dalam 1 juta hektar. Kebun sagu dengan luasan 1 juta hektar mampu memberi makan sekitar 200 juta jiwa, jika dalam 5 juta hektar sagu dapat memberi makan 1 milyar jiwa. Sagu dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan di dunia yang berjumlah 868 juta jiwa yang dilaporkan oleh FAO.

Sambil menikmati hisapan rokoknya, Purnawirawan Polri yang pernah menjabat sebagai Parik-2 Itbidbin Itwasda Polda Kepri itu menjelaskan ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari produksi sagu. Pemanfataan sagu bukan hanya sekedar dijadikan pati. Menurutnya ada banyak bentuk produk turunan sagu lain seperti glukosa, dextrin, protein sel tunggal, bubur kayu, dan ampas.

Pemanfaatan pati sagu sendiri dapat dijadikan beras analog, industri makanan, dan bahan baku industri. Kemudian glukosa yang dihasilkan oleh pemanfaatan pati dapat dijadikan ethanol dan fruktosa dalam industri makanan dan minuman, selain itu glukosa juga dapat dijadikan asam organik untuk industri kimia, farmasi dan energi.

Salah satu bukti nyata hasil produksi sagu di Kabupaten Natuna yang telah dioleh menjadi sagu butir oleh warga dengan peralatan sederhana dan dijual dengan harga murah.

Sagu juga bisa menjadi dextrin yang dimanfaatkan dalam industri kayu, kosmetik, farmasi, pestisida. Protein sel tunggal dihasilkan oleh sagu untuk industry makanan. Pemanfaatan sagu berupa bubur kayu dan ampas masing-masing bisa dimanfaatkan untuk industri kertas dan bahan bakar serta pembuatan pupuk, biogas, dan industri makanan ternak.

“Sagu bisa juga diolah menjadi tepung, kemudian dari tepung sagu ini nantinya bisa dioleh lagi menjadi berbagai jenis makanan,” ungkap Wisnu.

Sayangnya kata Purnawirawan Polri yang juga pernah menjabat Kapolsek Balai Karimun Res Karimun itu, potensi sagu di Natuna belum terkelola dengan baik. Selain itu, dinas teknis juga sepertinya tidak memasukan sagu dalam prioritas hasil perkebunan. Sehingga jumlah kesiapan produksi sagu secara menyeluruh tidak bisa dihitung dengan pasti, membuat investor ragu-ragu membuka pabrik pengolahan sagu di Natuna.

“Pernah ada yang tanya ke saya, cuma karena kita tidak punya data pasti sehingga kurang menarik bagi investor. Saya bilang disini pohon sagu tumbuh sendiri, untuk pulau bunguran besar saja hampir di setiap desa dan kelurahan, bahkan di tengah-tengah kotanya ada pohon sagu,” terang Wisnu.

Tabel Mando, salah satu jenis makanan khas Natuna yang terbuat dari bahan sagu dan sangat banyak diminati warga setempat bahkan sering dijadikan makanan sehari-hari pada musim tertentu.

Waktu terus berlalu, hujan pun semakin deras, bahkan kopi di gelas pun ikut bertambah. Sosok yang pernah menjabat Kasubbagrenmin Roops Polda Kepri itu, kembali bercerita, bahkan semakin mendalaminya.

Dihadapan beberapa wartawan saat itu, Ia berharap adanya ivestasi besar-besaran untuk pengembangan pertanian sagu di Natuna. Karena pertanian sagu dimatanya sangat potensial jika dapat dikelola dengan baik, seperti menata jarak antar sagu dan membuat jalur panen untuk memudahkan pemanenan.

“Tentunya kita berharap ada yang bisa mendatangkan investor atau perusahaan mendirikan pabrik sagu di Natuna, karena manfaatnya jelas sekali, bukan hanya sagunya bisa dijual, tetapi masyarakat juga bisa bekerja di pabrik tersebut,” pungkas Wisnu.

Wisnu memastikan, sagu di Natuna merupakan tanaman yang memiliki potensi besar dan perlu diperhatikan. Swasembada pangan dan pemenuhan makanan bisa diwujudkan di Natuna, jika potensi sagu dapat dimanfaatkan dengan baik.

Kernas, salah satu jenis makanan ciri khas Natuna yang siap saji dan mudah didapatkan dibuat menggunakan bahan sagu memiliki rasa tersendiri dan laris di beli.

“Untuk jangka panjang dalam memenuhi produksi sagu ini, memang perlu manajemen pengelolaan hutan/kebun keberlanjutan panen, makanya perlu dukungan pemerintah terhadap sagu melalui regulasi mulai dari on farm dan off farm,” cetusnya.

Mengakhiri ceritanya, Purnawirawan Polri yang mengaku Purna Bhakti tanggal 01 April 2021 lalu itu, memohon doa, karena saat ini dirinya sedang mengikuti program PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat) Universitas Bhayangkara, di DPC PERADI Jakarta Barat.

Pengrajin Sagu Desa Sebadai Hulu

Beberapa waktu lalu, koranperbatasan.com pernah menemui salah seorang warga di Desa Sebadai Hulu, Kecamatan Bunguran Timur Laut bernama Riduan. Ia mengaku sudah puluhan tahun menjadi pengrajin sagu. Katanya sagu mempunyai keunikan, bisa diolah menjadi berbagai makanan khas daerah, khususnya Natuna.

“Sagu bisa kita olah menjadi makanan khas daerah seperti tabel mando, kernas, dan kuah tiga. Tanpa sagu tentunya tidak lengkap,” kata Riduan menjawab koranperbatasan.com dikediamannya, Rabu, 30 Desember 2020.

Riduan, salah seorang pengrajin sagu yang tinggal di Desa Sebadai Hulu, Kecamatan Bunguran Timur Laut terlihat sedang mengolah pohon sagu yang telah di potong dan dibersihkan.

Untuk menghasilkan sagu yang siap diolah tentunya harus melewati beberapa proses cukup panjang dan memakan waktu lama. Berawal dari penebangan pohon sagu, sampai dengan pengupasan kulit luar untuk mendapatkan bagian dalam pohon.

“Setelah di ambil bagian dalam pohon, selanjutnya di parut halus, disaringkan menggunakan air. Air dari hasil saringan diwadahkan hingga bagian bawah menjadi beku dan menghasilkan sagu mentah/sagu basah,” ujar Riduan.

Setelah menghasilkan sagu mentah, tahap selanjutnya di tapis menggunakan pengayak, di goyang-goyang atau di bolak-balik, lalu dimasukan dalam kawah dan dikeringkan menggunakan bara api, hinga menghasilkan sagu butir.

“Untuk 1 karung (ukuran 50 kg) sagu mentah/sagu basah, proses pengeringan menjadi sagu butir memakan waktu lebih kurang 3 hari,” pungkas Riduan.

Lakse, juga merupakan salah satu jenis makanan khas Natuna yang terbuat dari bahan sagu yang diminati oleh warga sekitar bahkan sering ditemukan pada sebuah acara sukuran warga.

Riduan menjelaskan, harga jual sagu mentah dihitung satu gantang Rp5 ribu, sementara sagu butir satu gantang Rp10 ribu. “Bagi yang berminat bisa menghubungi melalui saluran telepon ke nomor 082284203504,” tutupnya.

Pengrajin Sagu Desa Ceruk

Pantastis jumlah APBD Natuna bukan rahasia lagi, salah satu daerah perbatasan dengan julukan kabupaten terkaya se-Provinsi Kepri ini, rupanya masih memiliki banyak kekurangan. Tantangan berat, perekonomian dan pembangunan di negeri dengan julukan laut sakti rantau bertuah, sampai detik ini masih belum terjawab.

Salah satu bukti nyata diperoleh koranperbatasan.com adalah belum tersedianya sarana dan prasarana memadai untuk menggenjot perputaran ekonomi masyarakat kecil.

Rozanah, pengrajin sagu di Desa Ceruk Kecamatan Bunguran Timur Laut ketika diminta keterangan oleh wartawan koranperbatasan.com beberapa tahun lalu saat melakukan aktifitas pengolahan sagu.

“Puluhan tahun kerja malok sagu, dan motong karet. Kalau hari hujan malok sagu dan kalau panas motong karet. Ini semenjak menikah dengan suami, karena ingin membantu suami buruh bangunan,“ ujar Rozanah, pengrajin sagu di Desa Ceruk Kecamatan Bunguran Timur Laut.

Kata Rozanah, usahanya dimulai dengan cara membeli batang sagu milik warga setempat. Ia memalok sagu dengan peralatan sederhana, sebelum di olah menjadi sagu siap saji. Selain membeli pohon sagu, tempat yang digunakannya untuk bekerja juga masih sewa.

“Sebelum menjadi sagu butir, kita harus kerja malok. Batang sagu di olah terlebih dahulu dengan alat-alat yang sangat sederhana. Batang sagu saya beli dengan harga Rp35 ribu perbatang. Tetapi kalau beli 3 batang hanya Rp100 ribu,” pungkasnya.

Sedangkan biaya sewa tempat untuk pembuatan sagu butir, dihitung perhari di bayar dengan sagu butir sebanyak dua gantang.

“Kalau jual mentahnya satu karung yang 25 kilo Rp150 ribu, karena kita kerja bertiga maka hasil di bagi. Jadi hasil kerja sagu ini hanya cukup untuk bertahan hidup, dan biaya anak-anak sekolah saja,” ungkapnya.

Wisnu Edhi Sadono dan Pemred koranperbatasan.com poto bersama sambil mengacungkan jari jempol dalam suasana hujan deras di Kedai Kopi Ayong usai bercerita tentang sagu di Natuna.

Rozanah berharap ada solusi dari pemerintah terhadap usaha yang sudah puluhan tahun digelutinya. Sampai detik ini, dirinya mengaku tidak pernah mengajukan bantuan modal usaha kepada pemerintah.

“Kendalanya modal, kalau tidak ada modal tidak bisa buat apa-apa, saya belum pernah ngajukan proposal minjam UKM. Harapan kepada bupati yang sudah menang, betul-betul membantu masyarakat,” tutupnya. (KP).


Laporan : Amran