Tak Punya Cukup Anggaran, Cagar Budaya di Natuna “Terbiarkan”

oleh -399 views
Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Hadisun, S.Ag

NATUNA – Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Hadisun, S.Ag menyebutkan tidak ada kecukupan anggaran yang diberikan kepada pihaknya untuk dapat melakukan riset cagar budaya di Kampung Segeram.

Katanya, pengembangan sekaligus pembuktian fakta sejarah situs cagar budaya Kampung Segeram, yang terletak di wilayah Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, memerlukan sebuah riset dan membutuhkan biaya tidak sedikit, karena harus mendatangkan para ahli sejarah, makam, tradisi, dan lain-lainnya.

Pernyataan tersebut disampaikannya menjawab koranperbatasan.com, Kamis, 02 September 2021 kemarin, terkait adanya aksi nyata yang dilakukan oleh Sekolah Tinggi Angama Islam (STAI) Natuna beberapa waktu lalu.

“Khusus dari pemerintahan sampai saat ini, tidak ada kecukupan biaya untuk melaksanakan kegiatan itu,” sebut Hadisun di ruang kerjanya.

Menurutnya, kondisi anggaran untuk Bidang Kebudayaan, di Dinas Pariwista dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, ibarat seperti rumah tangga yang mau makan pun tak cukup.

“Saya sebenarnya tidak mau buka masaalah anggaran, bukan masaalah klasik, tetapi tanpa anggaran kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Tim STAI Natuna saat melakukan penijauan salah satu makan yang diyakini memilki nila sejarh tinggi di Kampung Segeram beberapa waktu lalu bersama tokoh masyarakat setempat.

Hadisun menjelaskan, dalam melaksanakan riset, tidak cukup dengan biaya 20, 30, bahkan 200 juta. Karena harus mendatangkan tenaga ahli dari Jakarta, Sumatra Barat, para arkeolog-arkeolog dan tentunya juga akan melibatkan tenaga lokal.



“Memang kemarin STAI Natuna mengadakan riset di sana, cuma tidak ada koordinasi dan mengajak, tapi kalau mereka ajak, mungkin ada dari kita siap mendampingi,” pungkasnya.

Diakui Hadisun, pihaknya tidak mengetahui bahwa, STAI Natuna akan mengadakan riset di Situs Kampung Segeram. Mereka baru mengetahui hal tersebut setelah melihat postingan dari media sosial.

“Artinya memang dinas harus melakukan riset tersendiri, untuk itu kami memerlukan biaya,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Hadisun juga sempat menjelaskan keberadaan makam di Tanjung Batang, Kecamatan Pulau Tiga. Anggaran untuk situs tersebut sudah pernah diajukan, tetapi terbentur adanya refocusing anggaran di masa pandemi Covid-19.

“Sehingga tidak bisa dilaksanakan. Jadi ada 5 makam, 3 dari 5 makam itu sudah diindentifikasi, memang  memerlukan riset, makam itu unik dan bukan tipe makam sembarangan,” ungkapnya.

Menurut para sejerawan lanjut Hadisun, makam tersebut ada kaitannya juga dengan makam-makam yang ada di Kampung Segeram. Dimana dalam perjalanan Engku Fatimah, salah satu penelitian terdahulu sebelum sampai ke Segeram terlebih dahulu singgah di Tanjung Batang.

“Bisa jadi emang itu ada kaitan erat dengan Engku Fatimah, tapikan perlu riset. Riset itu memang bukan kajian abal-abal. Ahli sejarahnya kita datangkan, paling tidak dari Tanjungpinang, atau Malaysia terkait sejarah-sejarah Kerajaan Riau-Lingga,” terangnya.

Dalam hal ini, mereka memastikan sudah berniat untuk dapat bertemu langsung dengan H. Umar Natuna, membicarakan bagaimana terjalin kerjasama antara Bidang Kebudayaan dan STAI Natuna.

“Kita memang ingin ada penulisan tentang warisan budaya, kajian itu harus ada naskah akademisnya. Naskah akademis itu kita minta bantu dari pihak STAI Natuna, tetapi jika tidak ada anggaran, tidak bisa jalan juga,” cetusnya.

Hadisun menilai tidak mungkin STAI Natuna bekerja tanpa biaya, pasti ada biaya yang harus dikeluarkan. Jika sudah menjalin kerjasama, tidak mungkin juga dinas terkait tidak mengeluarkan biaya untuk hal tersebut.

“Ketika STAI Natuna membuat naskah akademis, tentu ada hitungannya. Mereka punya institusi khusus, akademis. Memang untuk itu sah-sah saja, mereka tidak koordinasi ke kita. Mungkin nanti kami yang lanjut ke situ, setelah anggaran ada, santai sedikit tak apa. Kita pun ada juga diundang dalam kegiatan STAI, jadi tidak canggung lagi sebenarnya dengan pihak STAI,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan