NATUNA – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum memulai pelaksanaan Asesmen Sumatif Akhir (ASAS) Semester Ganjil tahun pelajaran 2025/2026 pada Senin, 1 Desember 2025. Kegiatan yang akan berlangsung hingga 8 Desember ini diikuti oleh 482 siswa yang terbagi dalam dua shift, yaitu 240 siswa di pagi hari dan 242 siswa di siang hari.
Kepala Madrasah, Hj. Siti Asmah, S.Pd.I., menegaskan bahwa asesmen ini tidak sekadar menjadi alat evaluasi akhir, melainkan sebuah strategi pembelajaran yang disengaja untuk membangun karakter dan kemampuan literasi peserta didik.
“Kami perlu mengukur sampai di mana pemahaman serta kreativitas anak didik dalam satu semester, apakah tercapai atau tidak sasaran yang dituju. Kalau memang tidak tercapai, kita harus remedial sesuai dengan program pemerintah,” jelas Siti saat diwawancarai di ruang majelis guru.
Siti menyoroti kekhawatiran mendalam terhadap menurunnya minat baca siswa di tengah gempuran konten digital instan. Menurutnya, pola asesmen yang bertumpu pada soal pilihan ganda justru ikut berkontribusi pada masalah ini.
“Kita buat soal itu objektif semua untuk melatih anak yang tidak mau belajar. Jawaban sudah ada di situ, A, B, atau C. Dengan adanya pilihan seperti itu jelas membuat anak kurang kreatif, kemudian kurang motivasi untuk membaca buku,” paparnya.
Sebagai respons, seluruh dewan guru sepakat untuk mengurangi porsi soal objektif dan meningkatkan bobot soal esai atau uraian
“Alangkah ruginya program pemerintah yang sudah menganjurkan supaya anak-anak agar rajin membaca buku untuk menambah wawasan. Untuk apa ada pustaka dan buku kalau anak-anak hanya melihat di YouTube saja? Kalau di YouTube ini enggak membaca, cuma melihat dan mendengar. Kalau orang zaman dulu yakin bahwa membaca itu jendela dunia. Jadi, sekarang kita alihkan kepada soal-soal yang menjurus untuk membangkitkan lagi semangat membaca,” tuturnya.
Implementasi kebijakan ini diwujudkan melalui desain soal yang tidak banyak, tetapi bermakna. Soal esai diberikan bobot nilai yang signifikan lebih tinggi dibandingkan soal objektif.
“Kita buat misalnya ada 10 soal esai dengan nilainya 50. Jadi anak-anak harus baca lagi cara menguraikannya supaya dia nanti semakin bisa dan pintar. Kita melatih mindset-nya untuk berpikir,” jelas Siti.
Pendekatan ini, lanjutnya, dirancang untuk merangsang analisis dan ekspresi pemikiran siswa, sekaligus mengukur kedalaman pemahaman mereka, tidak sekadar hafalan.
Sebagai sekolah swasta, Siti mengakui bahwa tantangan dana terutama untuk biaya operasional seperti fotokopi soal, selalu ada. Namun hal itu diatasi dengan efisiensi dan pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara tepat sesuai juknis.
“Alhamdulillah kami ada bantuan dari pemerintah, dana BOS kita gunakan sesuai dengan juknis yang ada. Dengan adanya sedikit soal tadi, tidak begitu banyak memakan biaya,” ungkapnya.
Siti kembali menegaskan meskipun ada keterbatasan, tekad untuk menjaga mutu tak pernah surut.
“Kami tetap akan tunjukkan bahwa kami bisa dan mampu untuk setara dengan pendidikan yang lain serta untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan itu sendiri,” tegas Siti.
Di akhir wawancara, Siti menyampaikan harapan universal seorang pendidik yaitu melihat anak didiknya meraih kesuksesan.
“Seorang pendidik atau guru dan orang tua, tidak pernah mengharapkan prestasi anak itu jatuh. Yang kita harapkan anak menjadi sukses, besar pengetahuannya, tinggi prestasinya, dan makin berisi ilmunya,” ujarnya.
Namun, kesuksesan akademik harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Ia mengibaratkan siswa seperti padi yang semakin berisi maka semakin tunduk yang berarti penuh hormat dan rasa patuh.
Melalui ASAS yang dirancang dengan hati ini, MI Darul Ulum tidak hanya mengejar angka, tetapi berkomitmen menumbuhkan generasi yang cerdas, kritis, dan berakhlak mulia. (KP).
Laporan : Nisa Andini
Editor : Dhitto










