Hampir 80 Persen Nelayan Natuna Sudah Memiliki Kartu Kusuka

oleh -308 views

NATUNA – Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan, Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Dedy Damhudy, S.Pi,M.Si mengatakan Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (Kusuka) diberikan kepada seluruh nelayan sebagai identitas yang berlaku sah secara nasional.

Menurut Dedy, Kartu Kusuka itu tidak hanya untuk nelayan tangkap saja, akan tetapi seluruh bidang perikanan seperti budidaya, pengolahan maupun pemasaran.

“Nelayan butuh pengakuan dari negara oleh karena itu Kartu Kusuka ini merupakan identitas yang sah secara nasional. Dari Kartu Kusuka itu nanti kita kembangkan pembinaan-pembinaan seperti  menggiatkan mereka untuk menabung, sebab dikeluarkan dalam bentuk seperti Kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) melalui Bank Nasional Indonesia (BNI,” katanya menjawab koranperbatasan.com di ruang dinasnya, Senin 21 Juni 2021.

Selain untuk menabung lanjut Dedy, Kartu Kusuka juga bisa digunakan sebagai alat transaksi bagi nelayan. Misalnya penjualan ikan yang dilakukan secara sistem online.

“Jika mereka tidak mau atau merasa belum siap untuk menabung, itu ada masa jangka waktunya, artinya mereka tidak meneruskan sebagai Kartu ATM melainkan hanya cukup sebagai kartu identitas,” terangnya.

Kartu Kusuka juga menjadi dasar jika terdapat program-program bantuan yang berasal dari pemerintah pusat maupun daerah di bidang perikanan.

“Program-program yang ada di pemerintah kepada nelayan, misalnya bantuan sosial dalam rangka pemulihan ekonomi pada masa pandemi ini wajib memiliki Kartu Kusuka tidak hanya sekedar Kartu Tanda Penduduk (KTP),” imbuhnya.



Ia juga munuturkan, proses pembuatan Kartu Kusuka cukup memakan waktu karena diperuntukan seluruh nelayan yang ada di Indonesia. Adapun kendala yang mempengaruhi saat menginput seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada KTP double.

“Itu akan diverifikasi lagi di pusat, tugas kita hanya menginput tetapi juga bisa melihat kebenaran datanya. Boleh dikatakan 3 (tiga) bulanan baru selesai. Sistem inputnya seluruh Indonesia dan perlu proses lagi karena juga bekerjasama dengan pihak BNI. Kita juga menjalin kerjasama yang baik dengan pihak Disdukcapil sehingga data yang masuk itu akurat,” tuturnya.

Sebagai solusi lamanya proses keluar Kartu Kusuka, ketika data itu berhasil diinput maka bisa mendapatkan Kartu E-Kusuka.

“Kita bisa print Kartu E-Kusuka untuk mereka, dan itu berlaku sah sampai nanti menerima Kartu Kusuka yang sebenarnya,” pungkasnya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan, Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Dedy Damhudy, S.Pi,M.Si

Kata Dedy, khusus untuk Kabupaten Natuna, hampir 80% dari nelayan sudah memiliki Kartu Kusuka, dan akan terus diupayakan agar seluruh nelayan memiliki kartu itu.

“Kita berharap seluruh nelayan di Kabupaten Natuna bisa memiliki Kartu Kusuka. Dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh nelayan khususnya untuk belajar menabung. Karena memang hidup menabung akan memberi dampak di masa depan nelayan dan keluarga”, harapnya.

Sejalan degan itu, Kepala Sesi Perlindungan Nelayan di Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Srie Dewi Indriani, S.Pi menjelaskan Kartu Kusuka berlaku selama 5 (lima) tahun dimulai sejak tanggal diinputnya data.

Ia mengakui bahwa data yang diinput itu sesuai dengan KTP. Dulunya pada Tahun 2018, 2019, dan 2020 itu pihak Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP) belum bekerjasama dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sehingga harus verifikasi manual.

“Tetapi untuk tahun 2021 sudah kerjasama otomatis admin yang menginput di semua kabupaten kota otomatis bisa tarik data langsung dari Disdukcapil”, terangnya.

Kemudian lanjut Srie, Kartu E-Kusuka sebagai bukti identik menunjukan bahwa yang bersangkutan sudah masuk dalam Database KKP. “Bukti aslinya Kartu Kusuka mana, masih menunggu konfirmasi dari pusat. Sampai ke pihak bank baru diserahkan ke kita”, katanya.

Menurut Srie, terdapat dua kemudahan yang diberikan oleh pihak bank yaitu pertama, pada saat pembukaan rekening itu sebesar Rp 20.000,-. Nanti selebihnya tergantung yang bersangkutan mau menabung berapa.

“Yang kedua, ketika dari pusat sudah mencetak beberapa bulan namun belum sampai ditujuan. Selama jangka waktu berjalan pihak bank memberikan ketentuan pengaktifan Kartu Kusuka selama 2 (dua) tahun jika ingin difungsikan sebagai Kartu ATM. Tetapi tidak diaktifkan juga boleh, kartunya tetap ok, namun tidak difungsikan sebagai Kartu ATM,” imbuhnya.

Lebih jauh Srie menuturkan, terdapat kendala yang dihadapi yaitu biaya untuk turun ke lapangan mengantar Kartu Kusuka yang telah diterima Dinas Perikanan itu terbatas. Sehingga langkah awal yang diambil ialah membuat rekapitulasi sebagai pemberitahuan ke pihak kecematan bahwa nama-nama  yang tercantum sudah ada Kartu Kusukanya.

“Dan kita mengasih kelonggaran bisa menggunakan surat kuasa bagi nelayan yang mau mengambil ke Dinas Perikanan. Misalnya kecamatan serasan, boleh dikuasakan kesiapapun diatas materai”, tuturnya.

Adapun langkah lain yang diambil, jika nantinya terdapat staf-staf Dinas Perikanan yang pergi ke kecamatan maka Kartu Itu akan dibawa.

“Nanti pengambilannya hanya menunjukan KTP yang asli dan dicocokan NIK nya, kalau berbeda tidak akan dikasih. Karena ini bentuknya kartu ATM jadi kita takut disalahgunakan,” sebutnya.

Sebagai penutup, Srie meluruskan bahwa Kartu Kusuka yang baru dikeluarkan belum terdapat nilai transaksi didalamnya.

“Perlu diluruskan informasi kepada nelayan bahwa kartu tersebut masih kosong karena belum ada nilai transaksi uang,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan – Hairil