Hadisun: Tampil di Panggung Hanya Seni Sebagian Kecil Dari Kebudayaan

oleh -169 views
Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Hadisun, S.Ag

NATUNA – Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Hadisun, S.Ag menyebutkan kesenian merupakan salah satu cabang kecil dari kebudayaan.

“Kalau untuk yang tampil di panggung itu hanya seni saja. Jadi ketika orang memandang bahwa, kebudayaan itu adalah kesenian berupa tari menari, nyanyi, mendu, jepen, hadrah, salah besar. Karena itu hanya segelintir kecil dari kebudayaan,” sebutnya kepada koranperbatasan.com diruang kerjanya, Kamis, 02 September 2021.

Hadisun menjelaskan, kebudayaan terbagi menjadi dua perkara. Pertama, cabang warisan kebudayaan bersifat kebendaan. Kedua, warisan budaya tak benda, dimana terdapat sepuluh cabang didalamnya termasuk kesenian.

“Banyak yang harus kita lestarikan, sekarang simpang punah di kampung-kampung, tidak terurus lagi,” katanya.

Menurut Hadisun, berkaitan pelestarian kesenian dalam kontek hubungan pendidikan, tentu terdapat dinas yang membidangi yaitu dinas pendidikan. Dulu, ketika bidang kebudayaan masih bergabung dengan dinas pendidikan tahun 2012 sampai dengan 2016 akhir, ada namanya kurikulum muatan lokal.

“Sekarang dari tahun 2017 sampai hari ini, bidang kebudayaan pindah ke dinas pariwisata. Dinas pendidikan tinggal pendidikan saja. Mungkin di tahun 2022 nanti kebudayaan pindah lagi ke pendidikan, namanya dinas pendidikan dan kebudayaan. Urusan itu saja sudah bolak balik,” cetusya.

Jadi kata Hadisun, untuk teknis di lembaga pendidikan, itu memang sekolah. Sanggar-sanggar yang terdapat di sekolah, langsung di bawah binaan kepala sekolah, yang  mana tetap kembali ke dinas pendidikan.



“Kita tidak mungkin masuk ke wilayah itu. Kalau pun kita masuk dalam kontek kurukulum muatan lokal,” terangnya.

Namun, yang menjadi urusan dari pada bidang kebudayaan, hubungannya dengan anak-anak dan sanggar. Secara umum, di sanggar sendiri melibat anak-anak. Seperti di Sedanua ada Sanggar Mulia, itu melibatkan anak-anak sekolah.

Contoh lagi di SMA itu lanjut Hadisun, ada Sanggar Tebing Kike. Memang sanggar milik sekolah, tapi sifatnya secara terbuka. Jadi tetap kita bina sanggarnya, bukan masuk kependidikannya. Sehat sanggarnya anak-anak bercimbung di situ, begitulah bentuk hubungannya,” tegas Hadisun.

Misalnya kata Hadisun, sekolah minta hadir untuk memberikan pencerahan mengenai kesenian, maka akan datang. Namun, pembinaan rutinitas di sekolah, tidak masuk diwilayah itu. Tetapi dalam kontek hubungan kedinasan tetap saling berkoordinasi.

“Kalau di bilang dari sekolah-sekolah tidak dilibatkan salah juga. Contoh di Tanjung, kita pakai anak-anak MTs, SMA. Baik sanggar dari sekolah langsung dan guru-gurunya, maupun secara umum, memang tidak semuanya, dan untuk tampil pun harus diseleksi,” tuturnya.

Kemudian lanjutnya, untuk volume pementasan juga tergantung pembiayaan dari pemerintah daerah. Jika anggaran itu memungkinkan, seminggu sekalipun bisa ditampilkan. Biasa dalam setahun untuk acara besarnya mungkin ada dua kali di buat. Di Hari Jadi Kota Ranai dan Ulang Tahun Kabupaten Natuna.

Selain itu yang bulanan, sering diadakan di pantai dan sudah ada sejak tahun 2017, 2018, dan 2019 berupa bioskop keliling. Nonton film karakter budaya itu melibatkan anak-anak semua.

“Memang mungkin belum optimal, tergantung lagi pembiayaan pemda, kalau saya bilang pemda tak peduli tidak juga, tetapi tidak optimal. Dua tahun ini tidak berjalan,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan