Perihal Anargya Halid

oleh -402 views

BAGAIMANA jika kehadiranmu dianggap pembawa sial dalam keluargamu? Bagaimana jika dirimu diibaratkan batu penghalang bagi keluargamu sendiri? Sakit bukan?

Namaku Anargya Halid. Anargya artinya berharga bahkan tak ternilai harganya namun nama Anargya bagiku hanyalah sekedar nama karena dimata ayah aku tak ada harganya dan tak lebih dari seoonggok sampah.

Bundaku meninggal pada saat ia melahirkan aku dan aku adalah seorang anak yang mengharapkan dekapan hangat kedua orang tua yang bahkan sampai akhir hayat tak pernah kudapatkan.

Panggil saja aku Halid. Halid artinya kuat, jangan panggil aku pembunuh sungguh aku sangat sakit mendengarnya, cukup ayah saja menggunakan panggilan itu kalian jangan.

**

” Dasar bodoh! “

” Tidak tahu diuntung!”



” Kau sudah SMA sekarang! dan selama itu kau belum memberikan prestasi apapun kepadaku! “

” Bersyukur aku masih menerimamu dirumah ini tapi kau sama sekali tak tau diri “

” Apa kau memang tak memiliki rasa malu?! “

Lontaran kasar nan menyakitkan itu terus keluar dari mulut seorang lelaki paruh baya saat putra manisnya memberikan selembar kertas berisi nilai-nilai yang sering orang bilang rapot itu, bahkan ia tidak mau sama sekali menjejakkan kakinya di sekolah putranya lantaran takdir masa lalu yang tak bisa ia terima.

Terbesit rasa ingin menyerah …

Menyerah untuk segala hal yang terkesan tak penting ..

Maaf jika nanti aku pergi ..

Ku rasa ayah tidak akan keberatan ..

Tentu saja tidak, karena selama ini aku hanyalah beban …

Anak itu bahkan tak melawan sama sekali, ia tahu bahwa ia sangatlah bodoh tapi pantaskah ia sebagai anak menerima cercaan menyakitkan itu apalagi dari ayah kandung sendiri? Ia sudah berusaha untuk menjadi anak yang membanggakan kedua orangtuanya namun jika ini memang takdirnya, ia bisa apa?

” Maaf ayah.. ” ia terus menggumamkan permohonan maaf kepada ayahnya

Dulu kelahirannya sangat dinantikan oleh keluarga besar itu. namun saat melahirkan dirinya, ibunya pun turut meregang nyawa. Maka dari itu ia dianggap pembawa sial dan seorang pembunuh oleh ayahnya. Ia sering dipukul oleh ayahnya sejak di bangku sekolah dan ia yang masih kecil saat itu harus menanggung beban yang teramat berat.

“Jangan berani-berani berbicara kepadaku ! ” setelah melontarkan kata-kata menyakitkan itu ia berlalu pergi tanpa peduli ucapannya melukai hati seseorang

Hei!  Siapa yang tidak sakit hati jika diperlakukan seperti itu? Apalagi jika itu adalah orangtua kita sendiri, ayah kita sendiri. Namun sesakit apapun hatinya, ia tak akan bisa membenci lelaki yang merangkap menjadi ayahnya itu. Bagaimanapun sikap mereka, mereka tetaplah orang tua yang harus kita hormati. Karenanya lah yang membuat kita hadir didunia ini

” Bunda .. “

” Aku mau ikut bunda.. “

” Kau tau bunda?..  Jika aku bisa memilih maka aku tidak ingin terlahir didunia ini sehingga kebahagiaan kalian tidak terenggut begitu saja olehku ” ia menatap kepergian ayahnya sendu seakan orang itu adalah orang asing yang takkan tersentuh olehnya

*

Wangi masakan menguar di dalam rumah sederhana itu, seorang lelaki manis sedang bergulat di dapur untuk memasak karena sudah waktunya makan malam. Ia bersyukur, setidaknya ia memiliki keahlian memasak untuk sekedar menumpang di rumah ini.

Hidangan telah tersaji apik di meja makan, beragam masakan yang ia hidangkan. Anggap saja permintaan maafnya kepada sang ayah karena perihal rapot tadi siang. Tidak lama ayah dan ibu serta adik tirinya menuju meja makan dan menduduki kursi yang memang berada disitu

” Pergilah!  Kau membuatku tidak berselera untuk makan ” ucap seorang lelaki yang lebih muda satu tahun darinya yaitu Aidil Luthfi, adik tirinya

Ayahnya menikah tepat setelah setahun bundanya meninggal, ia kira ibu tirinya itu adalah wanita yang bisa ia temukan sosok ibu dalam dirinya namun nihil karena wanita itu memperlakukan ia bak pembantu.

Ia memiliki kakak kandung yang menyayanginya namun ia jarang pulang lantaran benci melihat interaksi antar ayah dan ibu tirinya tersebut. Ia sudah biasa diusir seperti ini, tapi tetap saja ada sedikit rasa sakit dihatinya saat lontaran kata itu terucap dari bibir mereka

” Kenapa masih disitu?! Kau mau kulempar dengan gelas ini huh?! ” Sambungnya lagi

” Maaf tapi bolehkah aku bergabung bersama kalian? Hanya hari ini, kumohon ” ucap Halid memohon berharap keluarganya itu mengizinkan ia bergabung dalam acara makan keluarga yang hangat ini

” Pergilah! atau kuusir kau dari rumah ini! ” ucap ayah dingin tanpa menatap kearahnya

Dengan lesu ia mengangguk dan menggumamkan kata maaf karena mengganggu makan malam itu. Lagi-lagi ia harus memakan makanan sisa itu pun jika ada yang tersisa jikalau tidak ada maka ia akan berpuasa.

Bisa saja ia memasak lagi namun malangnya ia tidak boleh memasak untuk diri sendiri menggunakan bahan yang dibelikan oleh ibu tirinya, artinya jika ingin memasak maka ia harus mengeluarkan uang untuk membeli bahan masakan sedangkan uang saja ia tak punya hanya ada tabungan dan ia juga telah berjanji akan menggunakan uang tabungannya untuk berkuliah jadi sebisanya ia menahan diri agar tak menggunakan uang itu

*

” Alid hanya ingin makan bersama kalian, tidak diajak bercengkrama juga tak apa.. ” lirihnya

Saat ini ia berada di halaman belakang, berbaring di rumput hijau sembari menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Air mata keluar dari pelupuk mata anak manis itu, memikirkan kehidupannya yang menjadi penyebab kematian bundanya sekaligus membangkitkan sisi kejam ayahnya

” Apa Alid harus bunuh diri agar ayah senang? “

” Tapi Alid takut masuk neraka.. “

” Bagaimana jika Alid pergi dari rumah ini saja ya? “

” Tapi Alid tidak punya apa-apa dan Alid tidak ingin meninggalkan ayah.. ” monolognya sembari menangis

Hawa dingin menusuk sampai ketulang sehingga Halid memutuskan kembali ke dapur, untuk melihat ada tidaknya makanan yang tersisa dan tentunya membersihkan piring kotor selepas makan malam keluarganya tadi.

Sungguh ia sangat lapar saat ini mengingat kemarin malam ia juga tak makan. Ia mengedarkan pandangan ke dapur kecil itu, mencari sesuatu yang sekiranya dapat mengganjal perut

” Astaga! Kau mengagetkanku,” Itu adalah Bima Adipati, kakak kandungnya

” M-maaf kak.. , “

” Sedang apa kau disini? Ingin makan?, ” nadanya sedikit melembut

Halid hanya menatap sendu kakaknya itu, berharap adanya keibaan hati memberinya makan . Ngomong-ngomong anak itu sepertinya baru pulang setelah sekian lama ia tidak pulang ke rumah

” I-iya..  “

” Baiklah kemari dan makanlah, pasti kau tidak makan dari kemarin kan? ” yang hanya dibalas anggukan oleh Halid mereka makan dengan khidmat, tanpa Halid sadari kakaknya itu menatapnya sendu. Ia menghela napas kasar

” Bagaimana sekolahmu? ” tanya Bima memecah keheningan karena tak tahan akan situasi yang sunyi

” baik kak ,”

” Ah, aku sudah lama tidak pulang ke rumah ini. Apa sesuatu terjadi saat aku tidak ada? ” tanyanya kepada Halid dan dijawab gelengan oleh Halid karena tak mungkin jika ia mengatakan kebenarannya, ia hanya tak ingin terjadi keributan hanya karena dirinya.

Kakaknya itu memang sangat jarang berada di rumah, selain karena tugas kuliah ia juga malas melihat ayah serta ibu dan adik tirinya itu

” Begitu yaa… Apa kau baik-baik saja? ” pertanyaan itu sukses membuat Halid menghentikan acara makannya, ini yang ia harapkan saat seseorang menanyakan keadaannya bukan menyalahkan keberadaan dirinya

Setetes air mata turun membasahi pipi Halid, sungguh ia terharu akan pernyataan kakaknya tadi. Mungkin bagi kita pertanyaan itu sama sekali tidak penting namun bagi Anargya Halid pertanyaan itu sungguh berpengaruh dalam dirinya yang kehadirannya saja tak diinginkan

” Apa aku melukai hatimu? Aku bertanya, mengapa kau menangis?, ” Tanya Bima keheranan melihat adiknya itu menitikkan airmata.

” Aku baik-baik saja, hanya saja sudah lama seseorang tak bertanya tentang keadaanku. Aku sedikit tersentuh .. ” jawabnya sembari menghapus airmatanya

Bima terdiam dengan pernyataan sang adik, ayah mereka mungkin telah menutup telinga, mata serta hatinya terhadap keadaan Halid

” Hm baiklah, aku selesai dan kau lanjutkan cepat makananmu sebelum pria tua dan nenek sihir itu kemari” ucapnya terkekeh dan berlalu pergi meninggalkan halid yang menatap kepergiannya, lalu dengan cepat ia menghabiskan makanannya dan membersihkan kekacauan didapur itu

*

Hari-hari berlalu sangat cepat, tidak ada yang berubah dalam kehidupan Anargya Halid. Keberadaannya masih dianggap pembawa sial, lontaran kasar yang sudah dianggap hal biasa oleh Halid, diperlakukan layaknya pembantu dan hal-hal kejam lainnya

Hari ini adalah hari kelulusan seorang Anargya Halid, artinya ia akan segera memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi tentunya ia akan melanjutkan pendidikannya di universitas yang sudah ia impikan sejak dulu dengan hanya bermodalkan tabungannya

Saat ini ia sudah berada di sekolah, duduk sendiri didalam aula besar yang memang dijadikan tempat berlangsungnya acara tanpa teman dan tanpa kedua orangtua.

Tadi pagi ayahnya mengatakan bahwa ia enggan hadir diacara tidak penting itu karena pekerjaannya lebih penting dan Khalid lebih memilih diam dan memaklumi alasan ayahnya

Ia sangat iri melihat mereka yang didampingi oleh kedua orangtua mereka, bercanda tawa, berpelukan dan segala hal yang membuat hati siapapun menghangat. Ia menghembuskan napas pelan, ia masih berharap ayahnya tiba-tiba datang dan memberikannya kejutan

” Anargya Halid?, “

Halid menolehkan kepalanya saat seseorang memanggilnya dan menemukan seorang wanita dewasa sedang tersenyum kearahnya. Halid mencoba mengingat siapa wanita ini dan..

” Tante cantik?.. ” ucapnya pelan

Tante cantik itu maksud Halid adalah seorang wanita dewasa cantik yang menemukannya dipinggir jalan saat ia diusir dari rumahnya dan tante cantik itu mengantarkan ia pulang kerumanya dan mengamuk kepada orangtuanya karena telah tega mengusir darah daging mereka sendiri

” Ah kau masih mengingatku anak manis, ” ucapnya mendekat kearah Halid

” Apa yang tante cantik lakukan disini?, ” tanya Halid heran, tante cantik itu pernah menceritakan bahwa ia seorang janda dan tidak memiliki anak lantas untuk apa wanita dewasa itu kemari

” Tentu saja aku datang untukmu anak manis, pria tua dan nenek sihir gila itu pasti tidak akan hadir untuk menemani anak manisnya ini bukan? ,” Halid hanya terdiam karena yang dikatakan tante cantik itu memang benar adanya

” Tidak perlu bersedih, kau punya aku disini dan aku sudah menganggapmu sebagai anakku ” ucapnya sembari memeluk Halid penuh kasih sayang

Halid masih terdiam menerima perlakuan cantik itu, ia menemukan sosok ibu dalam diri wanita dewasa ini meskipun bukan ibu kandungnya tapi tak apa

Terimakasih tuhan …

Kau telah menghadirkan bunda lewat wanita cantik ini, meski ia bukan bunda namun aku menemukan kasih sayang seorang ibu darinya …

Ayah ..

Aku sangat ingin kau dekap..

Aku sangat ingin kau melihat kearahku barang sejenak ..

Aku sangat ingin mendapatkan belas kasih darimu..

Aku bukanlah pembunuh, itu sangat menyakitkan untukku saat kau mengatakan bahwa akulah yang membunuh bunda..

Kumohon…

Nanti jika aku meregang nyawa bolehkah aku berharap kau yang berada disampingku bukan para medis yang mengerikan itu?.. Lagi-lagi ia menangis didekapan wanita dewasa itu, ia tak kuasa menahan beban yang ditanggungnya

” Sudah cukup menangisnya anak manis, hari ini adalah hari kebahagiaanmu dan aku akan mengajakmu bersenang-senang hari ini ” ucap wanita itu sembari menghapus airmata yang jatuh dipipi Halid

*

Acara pelepasan telah selesai dari beberapa menit yang lalu, saat ini Halid dan wanita tadi sedang berada didalam mobil. Halid tidak tahu ia akan dibawa kemana tapi ia cukup yakin bahwa tante cantik ini tak akan menculiknya

” Kenapa diam saja? Kau takut jika aku menculikmu?, ” tanya tante cantik itu menoleh kearah Halid yang setia diam menatap jalanan

” huft, tenang saja. Kalaupun aku menculikmu pasti hidupmu lebih berwarna dan aku akan membahagiakan dirimu, ” timpalnya lagi

Halid menoleh kearah tante cantik itu dengan pandangan bertanya, ayolah ia sangat khawatir jika tante cantik ini benar-benar berniat menculiknya

” Aku becanda anak manis, aku tau kau takkan sanggup meninggalkan orangtuamu yang gila itu,” ucapnya sembari terkekeh

” mereka tidak gila ! “

” baiklah-baiklah mereka tidak gila, mereka hanya tidak waras ” dan dibalas dengusan oleh Halid,  enak saja orangtuanya dikatai gila

“kau lucu sekali, hari ini kau ingin kemana anak manis? Ayo kita habiskan uang didompetku ” Halid berjengit kaget, bagaimana bisa wanita dewasa itu berkelakuan seperti anak remaja dan suaranya itu sangat memekakkan telinga. Halid tidak habis pikir dengannya

” Aku ingin pulang tante ” lirihnya

” Huh padahal aku ingin kau terbebas sehari saja dari neraka itu, ayolah hari ini saja ” tante cantik itu sedikit memaksa Halid tapi Halid bersikeras ingin pulang, ia takut dihukum jika pulang terlambat dan juga ia harus memasak dan membersihkan rumah

” Baiklah kita pulang ” finalnya yang membuat Halid tersenyum manis

Wanita cantik bernama Hera itu melirik anak manis disampingnya, ia berpikir bagaimana bisa ayah dari anak ini tak menyayangi dirinya selayaknya anak? Ia sungguh tak habis pikir akan jalan pikiran pria yang merangkap menjadi ayah dari anak in. Tak lama mobil Hera sudah terparkir apik dihalaman rumah Halid dan tentunya ia akan bertamu sejenak, kalau bisa ia akan memberikan sedikit wejangan untuk kedua orangtua Halid

” Assalamualaikum Alid pulang, ” tidak ada jawaban salam rumah Halid dan suasana rumah itu terlihat sunyi, hal biasa bagi Halid

” Mana ibu tirimu ? ” tanya Hera keheranan melihat rumah sunyi seperti kuburan ini

” Tidak tahu tante, mungkin dikamar ” jawab Halid sembari berjalan kearah kedapur tujuannya sekedar membuat minuman untuk tante cantiknya

” Ya Nenek Sihir! Keluar Kau! ” teriaknya sekuat mungkin, Halid sampai menjatuhkan sendok saking terkejutnya

Mungkin kalian berpikir bahwa Hera sangatlah tidak sopan, dan Hera masa bodo akan hal itu karena ia berpikir bahwa untuk apa bersikap sopan kepada seseorang yang memberlakukan seseorang lainnya layaknya binatang terlebih kepada anaknya sendiri meskipun anak tiri tak sepantasnya ia bersikap seperti itu.

” Wanita Tak Tahu Malu! Sedang Apa Kau Dirumahku ?! ” itu adalah ibu tirinya yang keluar dari kamar setelah mendengar teriakan dari tante cantiknya tadi

” Kau Yang Tak Tahu Malu!  Kenapa Kau Tidak Datang Diacara Pelepasan Anakmu?! ” Lagi-lagi Halid berjengit kaget, ia tak habis pikir dengan kedua wanita yang ia sayangi itu

” Apa kesibukanmu hah?! bahkan aku lebih sibuk darimu yang hanya berdiam diri dikamar berusaha menyempatkan diri untuk datang! ” timpalnya menggebu-gebu seakan Halid Anargya adalah orang yang sangat patut diberi kasih sayang

” Aku tidak perduli apa yang kau katakan karena dia hanyalah anak dari suamiku bukan anakku!  Jawab ibu tirinya yang dibalas tatapan tajam oleh Hera, tante cantiknya

Sungguh Halid tak sanggup lagi mendengar teriakan kedua wanita itu. Telinganya berdenging hebat, ia merintih kesakitan, kepalanya seolah berputar seiring teriakan-teriakan yang terlontar sehinggaa.. ..

Brukk

“Halid!!! “

 *

Dua jam berlalu.. Sunyi, itu adalah kata yang pas untuk ruangan serba putih ini. Hanya bunyi monitor yang berdenging

” Halid, bangunlah… ” getaran halus keluar dari mulut wanita itu, ia takut terjadi sesuatu dengan anak manisnya. Tak lama jari itu bergerak menandakan bahwa ada kehidupan disana dan perlahan kelopak mata yang indah itu terbuka

Ia mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang mungkin akan selalu jadi harapannya yaitu kehadiran ayah ataupun ibu tirinya. Bahkan hingga ia hampir sekarat seperti ini mereka enggan untuk datang sekedar menjenguk dirinya. Ia menghela napas pelan, apa yang ia harapkan pikirnya

Jika kalian berpikir bahwa wanita tadi adalah ibu tirinya maka kalian salah besar, karena wanita itu adalah Hera tante cantiknya. Ibu tirinya hanya melihat kemudian berlalu pergi saat anak manis itu jatuh tak sadarkan diri tanpa berniat membantunya berbeda dengan Hera yang sigap membawanya ke rumah sakit, ia khawatir akan keadaan anak manisnya itu

” Apa ada yang sakit?, ” tanya Hera mengelus surai hitam Halid

” Disini.. ” ucapnya lirih sembari membawa tangannya menuju dada

Hatinya sangat sakit, ia sangat berharap bahwa ayah maupun ibu tirinya datang sekedar memberinya semangat namun semuanya hanyalah harapan karena mungkin memang begini takdirinya

Segera Hera raih tubuh anak itu untuk ia dekap, ia tahu bagaimana rasanya tidak dihargai, ia tahu rasanya tidak dianggap, ia tahu semua rasa yang sedang anak manis itu tanggung karena semua itu telah ia rasakan dan karena itu juga ia berusaha menjadi bagian dari kehidupan Halid semata-mata ingin melindunginya

” Aku ada disini, aku juga ibumu meski kita tak memiliki hubungan apapun “

” Jangan pernah merasa kesepian karena nyatanya aku akan selalu bersamamu, aku tidak peduli akan orangtuamu yang bahkan mengurus anak saja tidak mampu “

” Mengapa kau yang seperti malaikat kecil ini harus hadir dikeluarga iblis huh? ” Hera sungguh ingin mencakar muka congkak ibu tiri dari anak manis ini tetapi ia tak ingin dibenci oleh Halid hanya karena itu

Halid menumpahkan airmatanya didekapan Hera, ia tidak peduli akan harga dirinya sebagai lelaki, ia juga manusia dan ia sudah berusaha tegar tapi untuk saat ini ia terlalu lelah berpura-pura. Yang ia inginkan adalah meluapkan segala keluh kesahnya kepada Hera meskipun hanya dengan tangis

Keadaan Halid jauh lebih baik, suara dengung ditelinganya tak terdengar lagi mungkin sudah sembuh pikir Halid. Belakangan ini kepalanya sering pusing dan juga dengung ditelinganya semakin menjadi, tidak ada yang mengetahui hal ini karena ia tidak ingin ayah dan ibu tirinya khawatir padahal nyatanya mereka tak perduli

” Menangislah, jangan malu…  Aku takkan menertawakanmu.. ” ucap Hera terkekeh, ia hanya tak ingin larut dalam kesedihan anak manisnya Halid pun menjauhkan tubuhnya dari Hera dan menghapus airmatanya yang masih berlomba ingin keluar

” aku tidak menangis, aku kuat!  Tadi hanya kelilipan tante, “

” Ngomong-ngomong kapan aku boleh pulang? ” tanya Halid yang dibalas delikan mata oleh Hera

” Kau mau pulang kemana? ” tanya Hera

” Tentu saja kerumah ayah ” jawab Halid keheranan akan pertanyaan Hera

” Kau lihat koper disana? ” tanya Hera lagi sambil menunjuk koper yang berada disudut ruangan rumah sakit itu

Halid melihat koper itu dan merasa familiar hinggaa..

” Mereka mengusir Alid ya..? ” tanya Halid tersenyum simpul, Hera hanya diam tanpa berniat menjawab

” Tantee.. Alid rindu bunda.. “

” Alid mau ikut bunda.. ” lirihnya kecil namun Hera masih mendengarnya

” ikut tante ya..? pinta Hera

” Tidak tante, Alid akan tetap pulang kerumah ayah! “

*

Sore ini Halid sudah boleh kembali kerumahnya mengingat keadaannya telah membaik. Awalnya Hera bersikeras ingin membawa Halid pergi bersamanya namun anak itu sama sekali tidak mau, ia mengatakan bahwa

” Alid masih punya ayah, Alid tidak mau jauh dari mereka ” Meskipun sangat enggan namun Hera tidak tega memisahkan anak dan orangtua itu.

Halid saat ini sudah berada diambang pintu rumahnya, ia ragu untuk masuk. Hera sudah pulang sehingga tidak bisa menemani anak itu sampai masuk kedalam rumah karena ada masalah di toko butiknya

” Assalamualaikum, Alid pulang”

Semua yang ada diruang keluarga itu menoleh kearahnya dengan berbagai tatapan. Ada yang memberikan tatapan benci, jijik dan tatapan tak mengenakkan lainnya

” Siapa yang menyuruhmu pulang?! “

Halid tak menjawab, ia hanya diam memandang keluarganya dengan tatapan teduh seperti tak ada beban yang ditanggungnya

” Hei! Aku bertanya! ” Sentak ayahnya yang bertanya tadi

” Maaf ayah, “

” Aku bertanya bukan menyuruhmu meminta maaf bodoh! ” ucapnya berlalu pergi dan diikuti oleh adik tiri dan ibu tirinya itu, entahlah mungkin kekamar pikir Halid

Ia menatap kepergian mereka dengan tatapan sedih. Saat belum tahu bahwa Halid sudah pulang mereka bercengkrama, tertawa layaknya keluarga harmonis pada umumnya namun saat Halid mengucapkan salam mereka sama sekali tak menyambutnya. Betapa tak bergunanya Halid dimata mereka?

Halid mencoba berpikir positif, mungkin saja mereka kelelahan ingin segera tidur mengingat hari cukup larut dan Halid pun pergi menuju kamarnya karena ia akan mengistirahatkan diri dan juga hatinya

*

Matahari kian meninggi, tak biasanya seorang Anargya Halid terbangun kesiangan

Byurr

Anak manis itu tersentak bangun saat air membasahi tubuhnya

” Kau memang tak tahu diri !”

” Bisa-bisanya kau bangun kesiangan dan tidak menyiapkan kami sarapan! ” ayahnya itu terlihat sangat menyeramkan saat ini, Halid yang merasa pening karena bangun tersentak dan juga air dingin membasahi tubuh beserta kasur dan selimutnya itu hingga tak terlalu mendengar apa yang wanita itu katakan

” Kau mendengarku tidak?! ” tanyanya dan menjambak rambut Halid yang membuat ia merintih kesakitan meminta untuk dilepaskan

Bukannya melepaskan jambakan itu, malahan semakin kuat dan pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu menarik kencang rambutnya dan ia dibawa ke dalam kamar mandi

Plak /

Satu tamparan keras mendarat dipipi mulus itu, ia tak mengerti apa kesalahannya, apa hanya karena ia bangun kesiangan sehingga ayahnya ini marah besar? Atau ada masalah lain?

” kenapa kau kembali lagi? HAH?! “

” Aku sudah membuangmu! “

” seharusnya kau pergi dan tak menampakkan wujudmu dihadapanku lagi! “

Demi Tuhan…

Halid sangat ketakutan sekarang, ayahnya itu benar-benar menyeramkan saat ini. Kemudian ayahnya keluar dari kamar mandi dan tak lama kembali membawa tali panjang seperti cambuk hingga Khalid melotot melihatnya, tak mungkin ayahnya akan bertindak sejauh ini pikirnya

” Berbalik !” titah ayahnya, Halid hanya pasrah dan membalikkan tubuhnya

Ctarr/

Ctarr/

” ayahh sakittt… “

Tanpa perasaan dan belas kasihan, lelaki itu terus mengayunkan cambuk itu hingga bercak kemerahan muncul dibaju bagian belakang Halid yang diyakini adalah darah

” Bukankah aku sudah mengusirmu ?! Dan kau adalah orang bodoh yang masih ingin kembali “

” Jadi rasakan ini dasar anak pembawa sial! “

Halid menundukkan kepalanya sambil menangis, badannya bergetar sakit. Kulit punggungnya seakan terlepas dari tubuhnya, dia merintih dalam diam agar isak tangisnya tak terdengar

Ctar/

Cambuk itu seolah menorehkan luka yang tak hanya dipunggungnya namun juga dihatinya. Setelah puas dengan cambuk, lelaki itu kembali menarik rambut Halid menuju shower yang ada didalam kamar mandi itu dan menempatkan Halid tepat dibawah shower itu sehingga ia basah kuyup dan lukanya tadi sangat terasa pedih terkena guyuran air. Jambakan dirambut Halid belum terlepas hingga

Duaghk/

Akhh

Kepala Halid yang memang pening semakin bertambah saat ayahnya dengan tega membenturkan kepalanya kedinding hingga mengeluarkan darah

Halid menangis, ia merintih kesakitan meminta ayahnya untuk berhenti, namun lelaki itu seakan tak mendengar atau sepertinya pura-pura tuli karena sekarang ia sangat bersemangat membenturkan kepala anak manis itu kedinding tanpa memperdulikan darah telah bercucuran.

Setelah lelaki itu merasa puas ia melepaskan tangannya dari kepala Halid dan menatap anaknya jijik, sementara Halid keadaannya sangat mengenaskan, sekujur tubuh melebam, telinganya kembali berdenging dan kepalanya mengucurkan darah. Sayup-sayup Halid mendengarkan apa yang ayahnya katakan sebelum keluar pergi meninggalkannya

” Kalau kau tidak lahir, mungkin istriku masih hidup dan keluargaku tidak akan hancur “

” Bunda.. “

” Halid mau ikut bunda.. ” gumam Halid sebelum menutup matanya tak sadarkan diri bersamaan dengan pintu yang dibanting oleh ayahnya

*

Saat ini Bima sedang perjalanan pulang kerumanya karena ada sesuatu yang mengganjal hatinya karena pada malam saat ia selesai bercengkrama dengan Halid didapur ia segera pergi dari rumah itu. Motor sport itu membelah jalanan dan tak lama sudah terparkir apik didepan rumahnya

” Assalamuaikum Bima pulang ” tak ada jawaban, biasanya Halid adiknya selalu menjawab salam dan menyambutnya didepan pintu,  perasaan gundah semakin besar menyerang lelaki bermata sipit itu. Khawatir akan keadaan adiknya

” ayah?! ” Bima melihat ayah serta ibu tiri dan adik tirinya itu sedang bersenda gurau di ruang tamu

” Bima? Sayang? Apa yang terjadi? Tidak biasanya kau pulang siang nak ” tanya ibu tirinya yang berpura-pura memasang raut wajah khawatir

Bima tak menjawab pertanyaan itu, ia malah memberikan pertanyaan kepada ayahnya yang menatapnya datar

” Dimana Halid?  ” tanya Bima yang dibalas tatapan tajam ayahnya

” kau pulang hanya mencari seorang pembunuh itu?! “

” sepertinya otakmu sudah teracuni oleh anak pembawa sial itu ” sentaknya

” Dimana Halid? ” tanya Bima sekali lagi

” Dia dikamar mandi, mungkin sudah mati ” jawab ayahnya santai dan Bima bergegas masuk kedalam kamar mandi yang memang berada dalam kamar Halid

” Astaga Halid .. Apa yang terjadi? ” ia terkejut melihat keadaan adiknya itu, lebam sekujur tubuh, punggung serta kepalanya bercucuran darah

Segera ia mengangkat tubuh ringkuh itu keatas ranjang untuk sekedar mengganti bajunya yang basah kuyup dan segera dibawa kerumah sakit. Diruang tamu ia berpas-pasan dengan ayahnya, tatapan tajam ia berikan kepada lelaki paruh baya itu sedangkan yang ditatap itu hanya menatapnya acuh seakan tak perduli sama sekali

Selama ini Bima bungkam, menutup mata serta telinga terhadap apa yang dilakukan oleh ayah beserta ibu dan adik tirinya itu kepada Halid namun kali ini mungkin ia akan sedikit memberontak, mereka sudah sangat keterlaluan pikirnya

” Kumohon maafkan kakakmu ini dan bertahanlah sedikit lagi.. “

” aku akan membawamu pergi bersamaku, kita pergi dari neraka yang kau sebut rumah itu .. “

Saat ini mereka sudah sampai dirumah sakit, Bima mondar-mandir didepan pintu UGD itu. Sedangakn Halid sedang ditangani oleh dokter. Ia berharap semoga adiknya itu baik-baik saja. Tak lama pintu ruangan itu terbuka, menampakkan seseorang bersetelan jas putih yang diyakini adalah seorang dokter itu menghampirinya. Setiap bunyi yang disebabkan oleh sepatu yang beradu dengan lantai putih itu seakan seperti irama kematian yang begitu menyeramkan

” Keluarga dari saudara Anargya Halid ya? ” tanyanya ramah

” y-ya dokter,  bagaimana keadaannya? ” tanya balik Bima,  dari suaranya dapat dilihat bahwa ia bergetar ketakutan

” mari kita bicarakan diruangan saya “

Dokter itu berjalan duluan, meninggalkan Bima yang harap cemas untuk mendengar penjelasan dari dokter nanti. Bagaimanapun ia juga seorang remaja yang masih belia untuk mengetahui hal-hal mengerikan tanpa dampingan orang tua namun ia harus berusaha tegar menerima apapun yang dikatakan dokter itu nanti

” silahkan duduk ” Bima pun duduk dalam keadaan bergetar ketakutan,

” sebelumnya apa kau tahu bahwa adikmu pernah mendonorkan ginjal beberapa tahun lalu? “

” iya dok ” Bima menganggukkan kepala dengan senyum nanar yang terukir diwajah tampan yang nampak berantakan itu

” Dan apa kau tahu bahwa adikmu itu mengidap tumor otak sejak satu tahun lalu? ” tanya dokter itu, Bima sangat terkejut dengan fakta ini. Setidakdekat itu mereka hingga ia tak menyadari penyakit yang diderita adiknya

” pasien kehilangan banyak darah sebelum ia dibawa kesini, ” Bima mendengar dengan sabar penjelasan dari dokter itu

” Maaf jika saya lancang, apa ia adalah korban penganiyaan? Karena ginjalnya rusak parah akibat terkena hantaman yang sangat keras dan juga kepalanya seperti sengaja dibenturkan “

” saya tidak tahu apa yang terjadi, saat saya pulang keadaannya sudah seperti itu ” jawab Bima jujur

” apa ia tak bisa dioperasi? Saya akan mendonorkan satu ginjal saya untuknya ” timpal Bima mendesak dokter itu

” Bisa, tetapi operasi membutuhkan waktu lama sedangkan kondisi pasien semakin memburuk sehingga tak memungkinkan untuk melakukan operasi, juga untuk melakukan operasi tumor otaknya membutuhkan waktu lama untuk uji laboratotium dan juga darahnya kehilangan sangat banyak hingga menyulitkan pihak rumah sakit untuk mencari pendonor dalam waktu singkat ” jelas dokter panjang lebar

” jadi bagaimana dengan adik saya dok? ” jawab Bima yang sudah berderai air mata itu

Alih-alih menjawab, dokter itu hanya menatap Bima dengan pandangan iba. Tatapan itu perlahan-lahan membuat napas Bima kian tercekat seolah lehernya dicekik sehingga ia kesulitan bernapas

” Kami akan selalu memantaunya selama 24 jam,  berdoa saja semoga ada keajaiban yang datang “

Saat itulah tangis Bima pecah, ia menggumamkan kata maaf kepada adik malangnya itu.

*

” Halid…”

Perlahan kelopak mata indah itu terbuka meski terlihat berat dan menyiratkan kesakitan disana

” kakak.. ” dibalik masker oksigen itu suaranya terdengar lirih, tangannya dibawa untuk menggapai tangan kakaknya.

Perasaan hangat melingkupi hati Halid saat masih ada salah satu dari keluarganya yang perduli terhadapnya. Bima tak sanggup menahan air matanya, kondisi adiknya ini begitu menyakitkan

” Maafkan aku.. ” ucap Bima disela isak tangisnya

” seharusnya aku menjadi kakak yang melindungi adik-adiknya namun aku hanyalah seorang pengecut ” timpalnya lagi

” kakak tidak salah, kalian tidak ada yang bersalah ” ucap Halid menenangkan kakaknya meski untuk mengeluarkan suara terasa menyakitkan

” maafkan aku yang sudah hadir dikeluarga kita dan menyebabkan bunda meninggal .. “

Bima mendongak menatap mata sendu adiknya itu, demi tuhan tak ada yang bisa memilih terlahir di keluarga mana dan kematian bunda mereka adalah takdir yang tak bisa disalahkan

” Tidak Halid, kau tidak salah hanya saja ayah kita tak bisa menerima takdirnya sejak kepergian bunda “

Halid hanya tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu. Sungguh sekarang ia sangat kesakitan diarea kepalanya, kepalanya seperti berputar dan terasa ingin lepas dari lehernya

” Tadi Halid bertemu bunda ” ucapnya yang mendapat tatapan heran dari Bima

” Bunda mengajak Halid pergi bersamanya tapi Alid tak mau meninggalkan kakak dan juga ayah…”

Napas Halid kian memberat, layar monitor menampilkan tekanan darah yang berangsur menurun

” Apa Halid mau mengabulkan permintaan kakak? ” lalu dibalas anggukan oleh Halid

” tentu saja kak”

” maka ikutlah bersama bunda.. “

” Disana pasti menyenangkan “

” Halid takkan merasa sakit lagi.. ” Bima mengucapkannya kalimat menyakitkan itu diiringi isakan tangis

” Bagaimana caranya? ” tanya Halid yang masih mecoba membuka suara meskipun menyakitkan untuknya

” ikuti ucapan kakak ya.. ” pinta Bima kepada Halid yang napasnya kian memburu

Laa ilaaha illallah …

Laa ..

ilaaha illallah..

laa ilaaha illallah..

Sunyi mendera ruangan serba putih itu, Bima menangis dalam diam.  Baru saja ia kehilangan seorang adik yang semasa hidupnya penuh dengan kesengsaraan, tak ada kebahagiaan sama sekali. Ia sangat menyesal karena jarang pulang kerumah sehingga tak mengetahui bagaimana keadaan adiknya

” Bunda.. “

” Maafkan aku tak bisa menjaganya “

” Halid.. “

” kau benar-benar menepati ucapanmu atas permintaanku untuk ikut bersama bunda..

” maafkan aku, beristirahatlah dengan tenang ” ia berucap sambil tersenyum disamping tubuh yang terbujur kaku itu  namun airmatanya tak hentinya mengalir

*

Bima dan Hera menatap kosong tubuh yang terbujur kaku didepan mereka dan seorang lelaki paruh baya disampingnya yang menangis histeri memohon maaf. Kerabat dan tetangga terus berdatangan hanya sekedar berbelasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan

” Maafkan ayah.. “

” Ayah mohon bangunlah, kau bukan pembunuh “

Laki -laki itu adalah ayahnya. Ia tidak menyangka apa yang dilakukan olehnya bisa merenggut nyawa Halid, putra kandung yang selalu ia siksa

” Penyesalan selalu datang diakhir, aku harap setelah ini kau menebus kesalahanmu ” ucap Bima dengan tatapan kosong

Ibu dan adik tirinya hanya berdiam diri dipojok ruangan, entahlah mereka merasa bersalah atau merasa bahagia? Bima tak memperdulikannya. Hera hanya menatap nanar anak manisnya itu, tak menyangka pertemuan mereka hanya sampai disini. Ia sudah begitu menyayangi Halid seperti putra kandungnya sendiri.

Tidak ada ucapan terakhir, tidak ada pelukan dan tidak ada kata pamit yang terucap semuanya terjadi begitu saja. Bima mencoba tegar, meskipun sesak. Ia merasa bahwa ia telah gagal menjadi seorang kakak yang melindungi adiknya.

Kini mereka sudah mengantarkan halid ditempat peristirahatan terakhirnya tepat disamping makam sang bunda. Bima dan ayahnya saat ini telah berada didalam liang lahat. Bima membuka tali kafan Halid dan menatap wajah tenang adiknya, kini adiknya tak merasakan sakit lagi dan hatinya seketika kembali sakit seperti tertusuk belati dan segera menyelesaikan proses pemakaman itu secepatnya.

Nyatanya bersikap tabah hanyalah omong kosong. Bunga-bunga yang tertabur diatas gundukan tanah basah menjadi saksi perpisahan menyakitkan ini. Mereka yang datang hanyalah untuk pergi… Dimana ada pertemuan maka disitulah ada perpisahan…

Sebagai seorang anak tentunya tak bisa memilih terlahir dari keluarga terpandang maupun keluarga terendah sekalipun begitu juga dengan orangtua yang tak bisa memilih melahirkan anak yang yang seperti apa. Apapun kebahagiaan yang dialami seseorang maka jangan lupakan bahwa ada segudang kepedihan dibalik punggungnya. Takdir itu untuk dijalani bukan disesali maupun dibenci. (***).


BIODATA PENULIS


Nama : Lisa Selvira

Tempat, Tanggal Lahir : Kelarik, 28 Juli 2002

Asal : Kelarik, Natuna Kepulauan Riau

Pendidikan : Mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji