Keberadaan Ikan Air Tawar Arapaima Gigas yang Dianggap Mengganggu Ekosistem Perairan

oleh -594 views
Amrina Rosyada

IKAN Arapaima Gigas merupakan jenis ikan predator yang bisa memakan hampir semua hewan yang bisa ditelan, terutama ikan yang berukuran kecil dan satwa lain yang ada di permukaan air.

Disebut bersifat karnivora, makanan utama ikan Arapaima sp adalah ikan-ikan yang ukurannya lebih kecil, meskipun terkadang ikan tersebut bisa memakan unggas, katak, atau serangga yang berada di dekat permukaan air.

Ukuran ikan Arapaima Gigas saat dewasa dapat mencapai lebih dari dua meter dengan berat tubuh lebih dari 200 kilogram. Ikan ini termasuk sebagai salah satu ikan air tawar terbesar di dunia, habitat aslinya berada di Sungai Amazon yang beriklim tropis.

Peluang penyebaran ikan ini di Indonesia cukup tinggi. Sebab, pada prinsipnya penyebaran secara alami bisa terjadi pada daerah yang beriklim sama dengan habitat aslinya, padahal keseluruhan spesies Arapaima sp itu bersifat invasif.

Di Indonesia para peminat ikan ini sangat banyak, mereka mengekspor ikan ini dari negara asalnya untuk dijadikan peliharaan, dibudidayakan kemudian diperjualbelikan atau hanya sebagai ikan koleksi. Jika para peminat itu hanya menempatkan ikan ini di kolam tersendiri, tidaklah mengapa.

Tetapi ada beberapa individu yang berani melepaskan ikan ini ke perairan bebas, contoh pada peristiwa yang terjadi di Sungai Brantas, Mojokerto, Jawa Timur. Warga menemukan ikan ganas ini dari sungai tersebut, kemudian KKP segera turun tangan, selain melakukan penangkapan ikan Arapaima yang lepas di sungai, KKP juga menemukan individu yang memiliki 30 ekor ikan Arapaima.



Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rini mengatakan individu di Sidoarjo tersebut memiliki dua kolam yang masing-masing berisi 18 ekor dan 12 ekor ikan Arapaima.

Pemerintah sudah mengeluarkan peraturan dan sanksi yang didapatkan terkait pembudidayaan dan pemeliharaan ikan ini. Pada UU 31 tahun 2004 tentang Perikanan, pasal 86, ayat 1 bahwa bagi siapapun yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan sumberdaya ikan dan/atau lingkungannya bakal dipidana penjara maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 2 miliar.

UU 31/2004 pasal 86, ayat 2, bagi individu yang membudidayakan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan/atau lingkungan sumber daya ikan dan/atau kesehatan manusia bakal dikenai hukuman penjara maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1,5 miliar.

Ikan Arapaima dilarang sesuai dalam Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Arapaima Gigas, menurut aturan tersebut, termasuk jenis ikan berbahaya yang dapat merugikan dan membahayakan kelestarian sumber daya ikan, lingkungan, dan manusia.

Artinya mengirim dan membudidayakan ikan tersebut terhitung melanggar hukum. Bagi pemilik ikan Arapaima dihimbau untuk menyerahkan peliharannya kepada pihak KKP untuk dimusnahkan.

Hal inilah yang menyebabkan keberadaan ikan ini sangat berbahaya jika ia berada di perairan Indonesia. Ikan ini dapat merusak ekosistem perairan di lingkungan ia berada, karena nafsu dan ukuran tubuhnya yang jauh lebih besar ketimbang ikan-ikan yang berada di perairan tawar Indonesia. (***).


  • DATA DIRI PENULIS

  • Nama : Amrina Rosyada
  • Universitas : Maritim Raja Ali Haji
  • Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan