Anak Pulau Meraih Harapan

oleh -596 views
Asmardi Misbah, S.Ag, M.Si, Ph.D semasa masih duduk di bangku sekolah, di Letung Kecamatan Jemaja Kabupaten Kepulauan Anambas Provinsi Kepulauan Riau, sekitar tahun 1970-an.

Anak Pulau Meraih Harapan

Oleh : Asmardi Misbah, S.Ag, M.Si, Ph.D


Sarjana…! Ya…! Sarjana…!

Demikian impian setiap insan yang menginginkan sebuah perubahan dan kemajuan. Keinginan serupa ini juga bersemayam di dalam angan-angan Yong Aji seorang anak melayu Kepulauan Riau yang berasal dari sebuah pulau yang terletak di perbatasan Laut Cina Selatan itu.

Non jauh di sana…!

Diperbatasan Laut Cina selatan dengan Kepulauan Riau di sebuah pulau hiduplah sepasang suami istri dengan tujuh orang anak. Dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, sang Abah berprofesi sebagai seorang petani tradisional dan istrinya berjualan tambo (kue) sebagai penghasilan tambahan.

Yong Aji yang merupakan anak laki-laki yang terbesar dari tujuh saudaranya, yaitu dua kakak dan empat adik merasa kasehan dan sedih melihat sang ayah yang setiap hari membanting tenaga bermandikan keringat. Namun ndak pernah mampu menutupi kebuthan hidup keluarga yang layak sebagai mana manusia yang lainnya.



Namun demikian sang Abah (bapak) sebagai orang melayu yang penuh tanggung jawab dan ta’at beribadah itu tidak pernah mengeluh, apa lagi menyerah dengan keadaan yang semakin lama semakin membebani itu.

Sebagai seorang Abah (bapak), beliau selalu memberikan pandangan dan nasehat kepada anak-anaknya agar senantiasa memiliki semangat hidup yang penuh keyakinan dan mau bersabar dengan kenyataan yang dihadapi. Yong Aji sebagai seorang anak melayu yang memiliki iman yang mantap serta bimbingan ilmu agama yang memadai, Ia selalu ingin berbakti kepada kedua orang tua dan keluarganya.

Setiap hari setelah balik sekolah atu pada sa,at libur sekolah, Yong Aji selalu membantu abahnya, bahkan kadang kala tidak jarang pula Yong Aji mengambil alih pekerjaan abahnya dikala abahnya sakit atau sibuk. Terkadang Yong Aji juga membantu emaknya menjajakan tambol (kue).

Sebagai seorang anak melayu yang senatiasa memegang teguh khasanah melayu, Yong Aji juga memiliki akhlaq yang baik lagi menyenangkan orang. Disa’at adzan magrib dikumandangkan Mu’adzin…! Yong Aji pergi ke Mesjid untuk mengerjakan sholat magrib berjam’ah.

Setelah selesai shalat magrib, Yong Aji terus belajar mengaji hingga selesai shalat ‘Isa’. Kemudian Ia balik ke rumah. Setelah mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca beberapa buku untuk pembelajaran di besok hari, Yong Aji terus mengemasi buku-buku yang diperlukan untuk belajar besok hari.

Yong Aji memang seorang anak melayu yang gigih dan tidak pernah membuang waktu. Selesai makan malam seadanya, Ia terus ke dapur untuk membantu emaknya membuat tambol untuk dijual besok harinya hingga pukul 02.00 subuh. Menjelang adzan subuh Yong Aji tidur sebentar.

Yong Aji memang seorang anak yang pemberani dan tidak pernah merasa lelah, yang jarang dimiliki oleh anak seusianya. Seperti biasanya setiap hari setelah menyelesaikan sholat subuh Yong Aji terus pergi memotong getah.

Semua itu dilakukannya dengan didasari semangat ingin bersekolah dan berbakti kepada keluarga yang disayanginya. Yong Aji tidak pernah merasa takut dengan kegelapan subuh dan keganasan binatang yang berbisa, Ia terus memasuki rerimbunan pepohonan getah yang menjadi sumber rezeki keluarganya itu.

Jarum jam sudah menunjukan pukul 06.00 pagi, seperti biasa setelah selesai memasukan susu getah ke dalam takongnya (tempat pencetak getah), Yong Aji terus pulang ke rumah untuk mempersiapkan diri berangkat ke solah bersama teman-temannya.

Seperti biasa Yong Aji berangkat ke sekolahnya yang berjarak lebih kurang sepuluh kilo meter itu dengan berjalan kaki sambil menjunjung bakol tambol untuk dijual.

Kebiasaan Yong Aji, hampir setiap hari ketika istirahat tiba Yong Aji selalu duduk mengasingkan diri. Yong Aji selalu menjauhkan diri dari kebanyakan temannya, hal ini bukan dikarenakan Ia tidak pandai bergaul. Akan tetapi semua itu dilakukannya karena Yong Aji menyadari bahwa dirinya adalah orang yang miskin. Sementara teman-temannya berasal dari latar belakang orang tua yang berpunya.

Tidak jarang Yong Aji mendapatkan ejekan dan cemo’ohan dari teman-temannya itu, seperti :

“Hei…! Ndak malu pakai selua tampalan”

“Hei…! Mane mungkin anak penjajak tambol jadi sarjana”

“Hei…! Mane mungkin anak orang miskin dapat sekulah”

Menanggapi ejekan dari teman-temannya tersebut tidaklah membuat Yong Aji sakit hati apa lagi marah, kecewa dan sedih. Justru sebaliknya Yong Aji bersyukur menjadi orang yang serba kekurangan. Sebab menurut pandangan Yong Aji dengan hidup serba kekurangan sesuai dengan khasanah melayu, orang senantiasa ingat dan dekat kepada Allah SWT dan tidak pernah merasa sombong pasa sesamanya.

Pada suatu hari, disa’at mengikuti pembelajaran sejarah bangsa, Yong Aji mendengar ucapan gurunya :

Adat melayu petunjuk arah

Mujur lalu melintang patah

Anak melayu adat bermarwah

Lalu terus pantang tersanggah

Semangat malu pantang menyerah

Hikayat melayu patwa sejarah

Setelah mendengar ucapan gurunya itu Yong Aji bergetar hatinya. Dalam otaknya berpikir apa yang dimaksudkan dari ucapan gurunya itu. Sejenak kemudian Yong Aji tersenyum sambil bergegas mengemas buku-bukunya, karena lonceng menanda waktu pulang sudah berbunyi.

Disepanjang jalan yong Aji kembali berpikir keras. Ia berpikir bagaimana caranya Ia dapat merubah keadaan hidup keluarganya yang sangat memprihatinkan itu.

Yong Aji merasa terpanggil bathinnya. Ia bercita-ingin menjadi orang yang berilmu pengetahuan, dan ingin merubah corak kehidupan keluarganya. Ia ber’azam ingin membantu abahnya dan emaknya mencari biaya tambahan untuk pendidikan kakak dan adik-adiknya.

Kini bulan sudah mengambang, Musim angin timur sudah tiba. Yong Aji tidak seorang anak petani yang rajin dan bersemangat. Yong Aji juga seorang pemuda melayu yang berani bermain ombak. Ia juga seorang pemuda melayu yang pandai mengail (memancing).

Sebelum bulan mengambang, Yong Aji sudah sampai di laut untuk mengail nus (sotong). Menjelang subuh, Yong Aji sudah balik. Hasil mengailnya dijual sebagian, sebagian lagi untuk diasinkan dan untuk dimakan. Pekerjaan ini hamper setiap malam Ia lakukan dimusim angina timur.

Waktu terus berlalu, tanpa terasa kini Yong Aji sudah duduk di kelas tiga SMP. Sebagai seorang pelajar yang disiplin, Yong Aji tidak pernah absen. Kecuali kalau Ia sakit parah. Yong Aji tidak pernah mau menyerah dengan kenyataan yang ada walaupun itu pahit dirasakannya.

“Hidup adalah perjuangan.”

“Perjuangan adalah pengorbanan”

“Hidup adalah kesabaran”

“Kesabaran adalah berusaha dan bekerja keras”

Semboyan ini selalu menjadi dasar semangat perjuangan Yong Aji. Ia yakin suatu sa’at hidup ini pasti bisa berubah. Allah SWT Tidak akan pernah merubah nasib suatu golongan, kecuali manusia itu sendiri mau merubahnya.”

Kini musim teduh angin timur sudah berakhir, laut kembali menampakan gelombangnya yang buas. Pendudukan desa kembali bekerja di darat sesuai dengan keahlian mereka masing-masing. Desa tempat tinggal Yong Aji memang subur, sehingga hamper semua penduduk mempunyai kebun sendidiri. Akibat dari keadaan yang demikian, membuat hasil dari perkebunan tidak dapat dijual karena tidak ada yang nak beli.

Yong Aji tidaklah hanya seorang anak melayu yang hanya bias belajar dan bekerja. Akan tetapi Ia juga seorang anak melayu yang gemar berorganisasi dan mengisi kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakat.

Setiap satu bulan sekali sebagai warga desa yang peduli dengan desa, Yong Aji sebagai ketua remaja masjid bersama teman-temannya melakukan bakti social membersihkan tempat-tempat yang dpergunakan umum. Seperti membersihkan masjid, kuburan dan lain sebagainya.

Sebagai seorang anak melayu yang selalu ingin kebersamaan, Yong Aji selalu melakukan kegiatan sehari-hari bersama kawan-kawannya. Pada hari libur selalu mereka isi dengan kegiatan hari tani (membersihkan kebun bersama secara bergantian), mengambil kayu api bersama dan banyak lagi kegiatan lain yang mereka lakukan secara bersama.

Ramadhan sudah menjelang. Masyarakat sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk melaksanakan puasa Ramadhan. Seperti mempersiapkan kayu api sebanyak-banyaknya. Kebiasaan ini mereka lakukan sebab dikawatirkan pada bulan Ramadhan akan turun hujan.

Yong Aji walaupun masih berusia dini, tetapi sudah memiliki wawasan yang cukup matang. Jiwa dagangnya muncul, disamping mencari kayu api untuk keperluan keluarga, Ia juga mencari kayu api untuk dijual kepada masyarakat. Yong Aji mulai melakukan perundingan dengan beberapa masyarakat mampu yang mau mempergunakan jasanya.

Selepas makan siang Yong Aji pergi ke hutan menebang kayu untuk dijadikan kayu api (kayu bakar). Dengan berbekal air putih satu kumpan (botol) dan sebilah kapak Yong Aji terus menebang kayu. Setelah kayu banyak tertebang, Kini Yong Aji mulai memotong dan membelah kayunya dengan menggunakan kapak.

Kayu sudah banyak terpotong dan terbelah. Dengan tidak kenal lelah, Yong Aji terus mengikat kayu yang sudah dibelah itu dengan mempergunakan akar cuping (sejenis akar yang lazim dipergunakan masyarkat untuk mengikat kayu.

Kini kayu api siap diantarkan kepada pemesannya. Dengan mempergunakan uyak (keranjang rotan yang diambin di belakang). Dengan tidak mengenal lelah dan malu, Yong Aji terus mengambin uyak yang berisikan kayu api untuk diantar ke rumah-rumah pemesanya. Pekerjaan ini dilakukannya  dua minggu menjelang masuknya bulan Romadhan.

Hari berganti minggu muncul bulan berubah tahun berlalu mengikuti peredaran waktu. Kini Yong Aji sudah berhasil menyelesaikan belajarnya di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ia berhasil menggondol peridikat terbaik dengan meraih juara umum. Ia mampu mengalahkan teman-temannya yang kebanyakan dari keluarga mampu. Namun demikian tidak membuat Yong Aji angkuh dan sombong. Menurut Yong Aji semua itu berkat karunia Allah SWT dan do’a dari keluarganya.

Perintis beranjak meninggalkan bom (pelabuhan laut) membawa teman-teman Yong Aji menuju ibu kota Kabupaten (Tanjungpinang) untuk meneruskan Pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas ( SMA ) atau yang sederajat.

Yong Aji hanya mampu menatap dengan kesedihan hati yang penuh lara. Ia belum mampu mengikuti jejak teman-temannya untuk melanjutkan sekolah. Yong Aji sadar  akan semuanya itu bukanlah karena kesalahan orang tuanya. Tetapi menurut Yong Aji semua itu adalah ujian dari Allah SWT agar Ia lebih banyak bersabar dan berikhtiar. Sekarang resmilah Yong Aji menjadi petani kecil.

Tiga tahun waktu berlalu tanpa terasa, sudah berbagai pekerjaan dilakukan Yong Aji, memotong getah, mengambil kayu api, mencongkel batu laut, menjadi petani dan nelayan.

Kini kembali Yong Aji dihantui dengan perasaan ingin melanjutkan sekolah ke kota kabupaten, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Yong Aji memutuskan untuk berangkat meninggalkan kampung halamannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang SlTA sederajat ke Kota Kabupaten.

Dibungkusnya Ijazah SD dan SMP nya degan menggunakan upih pinang (Pelepah pinang yang sudah diolah menjadi pembungkus) dengan mengenakan baju sehelai sepinggang Yong Aji Sudah mantap untuk berangkat. (***).


JATI DIRI PENULIS :


  • Asmasrdi Misbah Al-Malayi anak berdarah Melayu perpaduan Indragiri Hulu dan Kepulau Riau ini dilahirkan di Letung Kecamatan Jemaja Kabupaten Kepulauan Anambas Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 20 Februari 1972.
  • Menamatkan SD dan SMP di Letung Kecamatan Jemaja. Setelah menyelesaikan Pendidikan di PGAN dan Madrasyah Aliah di Tanjugpinang pada tahun 1992, Asmardi Misbah Al-Malayi mengajar di SDN 0021 Tajungpinang hingga tahun 1993. Pada tahun 1994 Ia hijrah ke Kota Pantura Semarang menambah ilmu di Ponpes Wetan sambil kuliah di IAIN Wali Songo Semarang hingga tahun 1999.
  • Asmardi Misbah Al-alayi anak  ketiga dari tujuh bersaudara salah satu pemuda yang dari SMP sudah aktif dengan organisasi sekolah dan masyakat. Pernah menjadi Ketua OSIS di PGAN Tanjungpinang, Ketua Remaja Mesjid Riau, Ketua Karang Taruna Kepulauan Riau dan masih banyak lagi organisasi lainnya yang Ia ikuti.
  • Putra Melayu ini sudah merantau sejak tamat SMP dan hidup mandiri. Sekarang aktif di dunia pendidikan Provinsi Kepulau Riau Bidang Pembina Karkter Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).