Natuna Dulu dan Kelak

oleh -133 views
Cherman

NATUNA DULU DAN KELAK

PENULIS : CHERMAN


 

CURAHAN hati sang penikmat kedamaian, bersahabat dengan alam, bahagia di keheningan, menjauh dari keramaian, tak pusing dengan persaingan duniawi, menikmati hidup dengan cara mereka, dan bahagia dengan budaya sendiri, berusaha menutup diri namun terus digempur dengan modrenisasi yang hanya membuat mereka terjebak dengan keinginan bukan kebutuhan.

Natuna cinta damai, hidup berdampingan dengan alam, hidup dengan kesederhanaan namun berkecukupan, saat ini mereka terancam ” punah ” dengan pengaruh isu seolah mereka terancam, mereka dirugikan, sagu berubah menjadi beras.

Namun jauh sebelum Indonesia berdiri, Indonesia ada, Malaysia lahir, Singapore berdaulat, Vietnam berbendera, mereka semua bersaudara, hidup berdampingan dengan damai, laut menjadi tempat bersama, justru dilaut mereka menjalin silaturahmi saling berbagi, bahkan dianggap keluarga, saudara satu kawasan, saudara satu ras, saudara mencari penghidupan, saudara saling melindungi, saudara yang berbagi hasil alam di laut “cina selatan” yang kini hanya tinggal kenagan, tergerus ambisi sebuah negara “rakus” mengakui laut hanya milik sendiri, menandai laut dengan sembilan garis.

Natuna, mereka yang tidak mengerti hukum pelayaran namun ahli berlayar, mereka yang tidak faham aturan internasional namun berhasil memelihara lautan tetap bagian dari jalur aman bagi siapapun yang melintas, laut yang katanya internasional masih menjadi ladang mereka mencari penghidupan hingga saat ini. Natuna, yang mereka inginkan cukup sederhana, menjaga alam, maka akan menjaga sumber penghidupan.



Kerakusan hanyalah kemakmuran yang semu bersifat sementara, menangkap ikan secukupnya, agar anak cucu tidak hilang akal, kebahagian, kemakmuran ada pada ketenangan hati, hari tua di kebun, air surut berkarang, angin teduh melaut, dapur tak henti berasap, musim utara bekain, nikmati karya seni budaya tempatan, saling tertawa dengan segelas kopi hangat gula ijuk untuk menghangatkan badan dari dinginnya hembusan angin utara. Saatnya berdamai dengan alam karena dapur sudah pun dipenuhi tempayan – tempayan sumber makanan.

Itu semua hanya akan menjadi kenangan, tergerus hayalan kebahagian persi generasi yang mencintai gedung pencakar langit, mengagungkan uang sebagai alat tukar pengganti barter, mereka yang tidak akan pernah bersilaturahmi lagi dengan saudara mereka di laut, mereka tidak akan pernah lagi berbagi di laut, mereka juga tidak akan pernah tau lagi rasanya saling menyayangi saudara sebangsa seair.

Karena mereka telah menghilangkan jati diri mereka menjadi Tanah Tumpah Darah, mereka terlena dengan daratan, tanah telah menjadikan mereka meninggalkan air, laut mereka jadikan halangan, laut mereka permasalahkan, pelantar bukan lagi penghubung, karena laut akan diubah menjadi aspal, mereka telahpun ingin melawan alam.

Saat ini mereka tetap menjadi generasi amanah yang memelihara janji orang tua atas sumpah bersama Soekarno memilih dua warna Merah dan Putih. (***).


 Bersambung….