MAKNA DIBALIK PUISI “SEBAB” KARYA IBRAHIM SATTAH

oleh -398 views
Pika Miranti Mahasiswi Universitas Maritim Raja Ali Haji

Makna Dibalik Puisi “Sebab” karya Ibrahim Sattah

Oleh : Pika Miranti / Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Maritim Raja Ali Haji


Sebab

Ingin kujanjikan laut jadi gurun

Ikan dan sekalian hewan

Pindahlah ke

Bulan



Sebab laut sebab pantai

Sebab laut bernama laut sebab pantai bernama pantai

Sebab maut bernama maut

Sebab saatnya sampai

Ibrahim Sattah sosok penyair yang juga merupakan seorang polisi  asal Tarempa (Pulau Tujuh), Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepri. Ia lahir tahun 1943 dan meninggal dalam usia muda 43 tahun (1988). Kecintaannya pada dunia kepenyairan menyebabkan Ibrahim meninggalkan karirnya selama 15 tahun sebagai abdi negara.

Ia mulai dikenal ketika puisi-puisinya dimuat di majalah sastra Horison pada tahun 70-an. Karya-karya penyair berpendidikan terakhir kelas 1 SMA dan pernah menjadi dosen Universitas Islam Riau serta Wakil Kepala Pusat Penerangan Angkatan Bersenjata Ri Riau/ Sumatera Barat itu terkumpul dalam : Dandandid (1975), Ibrahim (1980) dan Hai Ti (1981).

Puisi Karya Ibrahim Sattah yang berjudul “Sebab” menceritakan tentang sebuah ketetapan yang tidak akan pernah berubah dan diubah janji hanya sebuah ingin yang tidak akan pernah terwujud.

Dalam kalimat “ingin kujanjikan laut jadi gurun ikan dan sekalian hewan pindahlah ke bulan” merupakan keinginan sang penyair untuk merubah laut menjadi gurun pasir. Ikan dan hewan lainnya pindahlah ke bulan bermakna penyair hanya bisa berkhayal keinginan nya yang mustahil untuk diwujudkan.

Sebab laut sebab pantai

Sebab laut bernama laut sebab pantai bernama pantai

Bait di atas bermakna bahwasanya segala sesuatu yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta tidak bisa dirubah sama halnya seperti laut yang akan tetap menjadi laut tidak akan berubah menjadi pantai, dan pantai yang tidak akan berubah menjadi laut pantai tetaplah pantai.

Sebab maut bernama maut

Sebab saatnya sampai

Bait diatas mengisyaratkan bahwa maut tetaplah maut tidak bisa dirubah bila sudah tiba saatnya. Sebab yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya kematian. (*).