MEROKOK DALAM PANDANGAN MUHAMMADIYAH

oleh -251 views
Emil Samara, S.Pi, Mahasiswa Prodi Magister Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang

Merokok Dalam Pandangan Muhammadiyah

Oleh: Emil Samara, S.Pi, Mahasiswa Prodi Magister Manajemen, Universitas Muhammadiyah Malang


MEROKOK sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang. Bahkan para remaja dan anak-anak banyak yang melakukannya. Berdasarkan survey, masyarakat Indonesia menjadi salah satu perokok terbanyak dibandingkan dengan negara lain.

Banyaknya generasi muda yang terjebak dalam konsumsi rokok, jelas menjadi sebuah keprihatinan. Hal ini dinilai akibat belum utuhnya pengetahuan tentang bahaya dan hukum merokok. Ditambah lagi edukasi dari orang tua juga lemah. Akibatnya, banyak yang menjadi candu.

Rokok itu pada dasarnya mendatangkan kemudharatan dan tidak baik dikonsumsi bagi tubuh apalagi dikalangan anak-anak remaja. Dalam ilmu kesehatan, rokok jelas merusak bagian organ tubuh. Bagaimana dengan agama (Islam) tentang hukum rokok?

Islam mengajarkan kita untuk mengonsumsi hal yang baik, mudah dicerna, serta sehat untuk tubuh. Rasulullah SAW juga telah memerintahkan dan mengingatkan kita tentang utamanya menjaga kesehatan jasmani maupun rohani. Tapi, kenapa masih banyak yang melalaikan hingga merusak tubuh mereka sendiri, salah satunya dengan merokok?

Sebagian orang beranggapan bahwa rokok itu hukumnya adalah makruh, tetapi ada juga yang beranggapan rokok itu hukumnya haram. Terus bagaimana pandangan Muhammadiyah tentang rokok itu sendiri?



Sebelum membahas hal itu, mari kita lihat hukum rokok dari beberapa pendapat ulama.

Dalam artikel yang ditulis Beni Andri Yassin, 2019, ada kutipan yang mengatakan bahwa merokok itu haram. Dalam tulisan itu juga disebutkan jika ada yang berpandangan jika rokok itu makruh dan ada yang mengatakan itu mubah. Padahal jika diteliti lebih lanjut, ulama mazhab tidak pernah mengatakan hal demikian, termasuk ulama mazhab panutan di negeri kita ini yaitu ulama Syafi’iyah.

Ulama Syafi’iyah seperti Ibnu ‘Alaan dalam kitab Syarh Riyadhis Sholihin dan Al Adzkar serta buku beliau lainnya menjelaskan tentang haramnya rokok. Begitu pula ulama Syafi’iyah seperti Asy Syaikh ‘Abdur Rahim Al Ghozi, Ibrahim bin Jam’an serta ulama Syafi’iyah lainnya mengharamkan rokok.

Qalyubi (Ulama mazhab Syafi’I wafat: 1069 H) ia berkata dalam kitab Hasyiyah Qalyubi ala Syarh Al Mahalli, jilid I, hal. 69, “Ganja dan segala obat bius yang menghilangkan akal, zatnya suci sekalipun haram untuk dikonsumsi. Oleh karena itu para Syaikh kami berpendapat bahwa rokok hukumnya juga haram, karena rokok dapat membuka jalan agar tubuh terjangkit berbagai penyakit berbahaya“.

Ulama madzhab lainnya dari Malikiyah, Hanafiyah dan Hambali pun mengharamkannya. Artinya, para ulama madzhab menyatakan rokok itu haram.

Silakan lihat bahasan dalam kitab ‘Hukmu Ad Diin fil Lihyah wa Tadkhin’ (Hukum Islam dalam masalah jenggot dan rokok) yang disusun oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid Al Halabi hafizhohullah terbitan Al Maktabah Al Islamiyah hal. 42-44.

Diantara alasan haramnya rokok adalah dalil-dalil berikut ini. Allah Ta’ala berfirman:  وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195).

Karena merokok dapat menjerumuskan dalam kebinasaan, yaitu merusak seluruh sistem tubuh (menimbulkan penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, dan merusak sistem reproduksi), dari alasan ini sangat jelas rokok terlarang atau haram.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

“Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih).

Dalam hadits ini dengan jelas terlarang memberi mudhorot pada orang lain dan rokok termasuk dalam larangan ini.

Dari penjelasan di atas bahwa rokok itu hukumnya adalah haram karena mendatangkan keburukan bagi tubuh. Nah, sekarang bagaimana pendapat Muhammadiyah tentang hal ini?

Melalui majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa terbaru tentang hukum merokok. Setelah menelaah manfaat dan mudharat rokok, majelis tarjih dan tajdid Muhammadiyah mengambil kesimpulan bahwa hukum merokok menurut syari’at islam termasuk dalam kategori haram.

Keputusa ini diambil dalam halaqoh tentang Pengendalian Dampak Tembakau yang diselenggarakan Majlis Tarjih dan Tajdid pada 7 Maret lalu di Yogyakarta.

”Fatwa ini diambil setelah mendengarkan masukan dari berbagai pihak tentang bahaya rokok bagi kesehatan dan ekonomi. Di samping itu, kami juga melakukan tinjauan hukum merokok. Berdasarkan masukan dari halaqoh itu, kemudian dirapatkan oleh Majlis Tarjih dan Tajdid dan mengeluarkan amar keputusan bahwa merokok adalah haram hukumnya,” kata Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih Dr Yunahar Ilyas dalam jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (9/3/2010).

Dilihat dari uraian diatas bahwa Muhammadiyah memandang merokok itu hukumnya haram sejak 10 tahun yang lalu sehingga sekarang semakin banyak yang beranggapan bahwa rokok itu memang haram hukumnya.

Ketika Muhammadiyah berfatwa merokok itu haram, terus bagaimana eksistensinya Muhammadiyah dalam meminimalisirkan pengkonsumsi rokok di kalangan remaja?

Saat ini organisasi Muhammadiyah dari berbagai kalangan sedang melakukan jihad anti rokok. Karena tujuan Muhammadiyah adalah menciptakan masyarakat yang sehat dan cerdas.

Dengan adanya gerakan anti rokok atau jihad melawan rokok bisa meminimalisirkan konsumsi rokok terutama di kalangan remaja, sebab hal itu bisa mendatangkan kemudhratan bagi kesehatan.

Dan bagi orang tua, sudah seharusnya memiliki ilmu tentang hal ini. Orang tua memiliki peran besar dalam mendidik anak-anak mereka termasuk membantu dalam meminimalisirkan agar anak-anak mereka tidak terjebak dalam merokok. Orangtua yang bijak dan cerdas tidak akan membiarkan anak-anak mereka sakit karena kesalahan sendiri. (***).


Penulis : Emil Samara, S.Pi