“Kesenian Reog Ponorogo mulai menggema di Natuna melalui inisiatif komunitas perantau yang ingin memperkenalkan budaya sekaligus mempererat persaudaraan lintas daerah.”
NATUNA – Ketua Sanggar Seni Reog Singo Mudo, Rusno, menyampaikan bahwa kegiatan kesenian Reog yang digelar di Pantai Piwang, Ranai, Kabupaten Natuna, Minggu (4/4/2026), merupakan upaya komunitas perantau dalam mempererat silaturahmi sekaligus mengenalkan warisan budaya kepada masyarakat Natuna
Rusno menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berawal dari inisiatif kelompoknya yang ingin mengadakan halal bihalal setiap momen Lebaran. Ia menyebut kegiatan ini menjadi sarana mempertemukan rekan-rekan yang lama merantau dan belum sempat bertemu.
“Iya ini sebenarnya untuk persiapan dari grup kami. Bisa dibilang ini grup pribadi dari perkumpulan. Kami ingin setiap momen Lebaran ada halal bihalal,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak dibatasi hanya untuk kalangan perantau atau masyarakat Jawa saja. Semua lapisan masyarakat, termasuk warga lokal Natuna, dipersilakan untuk bergabung.
“Tidak dibatasi orang merantau atau orang Jawa. Orang pribumi sini juga boleh gabung, kami mempersilakan,” kata Rusno.
Ia berharap masyarakat Melayu di Natuna dapat menerima kesenian Reog Ponorogo yang berasal dari Jawa Timur sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
“Kami berharap masyarakat Melayu menerima kesenian Reog Ponorogo ini. Ini kan warisan leluhur kami,” ungkapnya.
Rusno juga menegaskan bahwa Reog Ponorogo telah diakui secara luas sebagai warisan budaya dan menjadi kebanggaan yang perlu terus dilestarikan, termasuk di tanah perantauan.
“Reog Ponorogo sudah masuk UNESCO. Ini warisan nenek moyang kami, masa di perantauan tidak ingin kami kembangkan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sanggar yang dipimpinnya telah berjalan lebih dari satu tahun dan kegiatan serupa sebelumnya sudah dilaksanakan pada Lebaran tahun lalu.
“Sudah setahunan lebih. Tahun lalu sudah ada, ini yang kedua,” katanya.
Dalam setiap penampilannya, kelompok Reog Singo Mudo berusaha memperkenalkan secara utuh kesenian tersebut, mulai dari gerakan tari hingga tata cara pertunjukan.
“Kami ingin memperkenalkan bagaimana modelnya, cara narinya, prosedurnya. Biar masyarakat tahu Reog dari Jawa Timur itu seperti ini,” ujarnya.
Saat ini, jumlah pemain dalam kelompok tersebut mencapai sekitar 30 orang. Namun, keterbatasan dana masih menjadi kendala utama dalam pengembangan kegiatan.
“Untuk acara ini masih kecil-kecilan karena dana terbatas. Kami patungan, iuran sekitar tiga jutaan, sukarela dari anggota,” jelas Rusno.
Meski demikian, ia berharap kesenian Reog di Natuna dapat terus berkembang dan dikenal luas oleh masyarakat. Ia juga berharap mendapat kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan daerah.
“Harapannya kesenian ini bisa dieksiskan, biar warga sini mengenal. Kalau ada acara atau ikon daerah, kami ingin ikut tampil,” pungkasnya. (KP).
Laporan: Dini










