OPINISALAM PERBATASAN

MENEROKA PELUANG DAN TANTANGAN PENERAPAN PARADIGMA PEMIKIRAN MODERN DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM

×

MENEROKA PELUANG DAN TANTANGAN PENERAPAN PARADIGMA PEMIKIRAN MODERN DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM

Sebarkan artikel ini
Umar Natuna, Mahasiswa Program Doktor PAI UMM Malang.

Meneroka Peluang dan Tantangan Penerapan Paradigma Pemikiran Modern Dalam Dunia Pendidikan Islam 

Oleh : Umar Natuna

20211052111014

Mahasiswa Program Doktor PAI UMM Malang


SALAH satu varian pemikiran dalam Islam (tradisionalis, skriptutalis dan subsansial, ideologis, sekular, neo-modernis) adalah pemikiran modern.  Yaitu suatu corak pemikiran islam yang lebih beorientasi atau mempertimbangkan kondisi dan tangan kekinian, dan kurang melibatkan atau mempertimbangan produk masa lalu atau klasik sebagai rujukan dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan umat Islam.

Selain itu, pemikiran modern dalam Islam seringkali tidak sabar dalam menekuni dan mencermati hasil-hasil atau produk pemikiran Islam masa lalu, dan cendrung potng kompas dalam menjawab atau  menyelasikan masalah yang dihadapi dengan mengandal akal pemikiran  dan pengalaman empiris.

Dalam pengembanganya pemikiran modern lebih bersifat progrsif, dinamis, bebas dan lincak dalam melakukan modifikasi. Dalam pada itu pendidikan Islam sebagai manifestasi keimanan kepada Allah yang  di transformasi ke dalam ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi  peserta didik agar kemudian ia menjadi umat yang terbaik di dunia dan akhirat, secara teori dan praktik selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Karena pendidikan Islam tidak hanya bersumber pada waktu, melainkan juga di dasari pada akal atau nalar yang berbasis pada akal dan pengalaman empiris. Keterpaduan antara akal dan wahyu ini merupakan karaktristik pendidikan Islam. ( Metrapi, 2018).

Dalam kajian pemikiran Islam, beberapa pakar  mengemukakan paling tidak ada tiga corak berpikir dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam. Pertama, kelompok yang berusaha membangun paradigma pendidikan selain berbasis Al-Quran dan Al-Hadist sebagai landasan utama, juga mempertimbangkan tradisi para sahabat dan produk masa lalu Islam.

Kedua, kelompok atau paradigma yang hanya mendasari pada Al-Quran dan Hadist semata sebagai dasar utama dalam pengembangan konsep pendidikan. Ketiga, adalah kelompok atau paradigma selain berlandaskan Al-Quran dan Hadist juga mengambil apa apa yang baik yang ada di dunia Barat, atau disebut kaum modernis.

Atau dalam terminologi lain kita  mengenal bermacam ragam corak, ada pemikiran pendidikan Islam bersifat tekstual salafi, tradisional mazhabi, model pemikiran neomodernis dan pemikiran modernis itu sendiri.

Penulis dalam kaitan ini mengambil salah satu dari beragam corak pemikiran pendidikan tersebut, yakni pemikiran modernis. Pilihan dikarenakan, pemikiran modern ini dewasa ini banyak diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam dunia pendidikan.

Yang menjadi fokus dalam bahasan ini, apa saja keistimewaan atau plusnya paradigma pemikiran modernis jika diterapkan dalam pengembangan pendidikan islam. Selain itu juga akan dibahas tentang minusnya atau kelemahannya paradigma pemikiran modernis bagi dunia pendidikan Islam.

Paradigma Pemikiran Pendidikan Islam

Sebelum penulis membahas tentang paradigama pemikiran pendidikan islam modernis, ada baiknya penulis ketengahkan dulu berbagai ragam dan corak pemikiran atau paradigma pemikiran pendidikan Islam.

Pemikiran pendidikan adalah proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara terus menerus dan sungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam dunia pendidikan Islam. (Bukhari Muslim, 2016).

Secara spesifik pemikiran pendidikan Islam memiliki tujuan antara lain. (1) untuk membangun kebiasaan berfikir ilmiah, dinamis dan kritis terhadap persoalan-persoalan di seputar pendidikan Islam. (2) untuk memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran Islam dan akomodatif terhadap perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan. (3) untuk menumbukan semangat bernalar atau berijtihad sebagaimana di praktikkan oleh Rasulullah dan para pemikir muslim disepanjang zaman. (4) untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.

Dalam berbagai kajian dan perbincangan mengenai gambaran tentang pemikran pendidikan Islam, terdapat beragam corak dan model. Corak dan ragam tersebut, tampaknya tidak terlepas dari corak dan ragam pemikiran Islam itu sendiri. Harun Nasution, telah membuat babakan perkembangan pemikiran Islam. Yakni periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), sedangkan periode moderns  1800 M sampai sekarang) (Abdul Hamid, 2010). Artinya, berkembangnya paradigma pemikiran modernis adalah bagian tak terpisahkan dari perkembangan pemikiran Islam itu sendiri.

Sebagaimana kita maklumi, pemikiran modern Islam adalah bagian dari upaya menjawab berbagai persoalan keumatan kekinian dan temporer. Karenanya, berbagai ahli kemudian berusaha agar Islam itu selalu mampu menjawab persoalan yang dihadapinya.

Gusdur misalnya, bagaimana ia kemudian dengan gigih mengubah paradigma berfikir tradisionalis di kalangan Nahdiyin ke arah yang lebih tranformatif, humanis, bahkan dalam banyak hal bersifat liberal.

Baca Juga:  Ikan Sisa Nabi ?

Upaya memahami nilai-nilai Islam memang sangat beragam pendekatannya. Ada pendekatan normatif atau wahyu dan pendekatan sejarah. (Amin Abdullah, 2015).  Pendekatan wahyu adalah adalah cara-cara yang ditempuh dalam memahami kebenaran dengan mengunakan ayat-ayat Allah sebaai premis. Kebenaran dicari dengan merenung, menggali, menafsirkan, memperbandingkan dan menghubungkan informasi yang terkandung dalam wahyu. Dari sinilah kemudian disusun konsep dan pemikiran pendidikan Islam.

Dalam konteks paradigma pemikiran pendidikan Islam yang berkembang saat ini, paling tidak ada empat model atau paradigma. Tesktual salafi. Paradigma ini berupaya memahami nilai-nilai Islam yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadist sebagai modal satu-satu dalam pemgembangan pendidikan Islam.

Masyarakat yang menjadi panutan adalah masyarakat di era kenabian Muhammad SAW dan para sahabat. Dalam konteks pemikiran pendidikan, maka model atau paradigma tekstual salafinya lebih dekat dengan perenialisme dan esensialisme, terutama dilihat dari karakternya yang regresif dan konservatif.

Namun dalam banyak hal, perenialisme lebih fokus agar kembali ke ruh yang menguasai abad pertengahan. Sementara tekstual salafi, lebih menekakan kembali ke masyarakat salaf era kenabian dan sahabat. ( Muhaimin, 2017).

Tradisional mazhabi. Paradigma atau model ini berusaha dengan gigih memahami kandungan atau nilai-nilai Al-Quran dan Hadist melalui bantuan khazanah pemikiran Islam klasik, namun seringkali kurang mempertimbangkan situasi historis atau asbabul nuzul masyarakat yang mengitarinya.

Masyarakat muslim yang didambakan adalah masyarakat muslim era klasik, dimana hampir semua persoalan keagamaan ditelah dirumuskan berbagai hukumnya oleh para ulama atau fuqaha terdahulu. Paradigma berfikirnya selalu bersandar pada hasil ijtihad masa lalu, kitab kuning menjadi “buku putih”, sehingga sulit keluar dari rujukan buku putih tersebut dan mazhab keislaman yang lahir beberapa waktu silam tersebut.

Dengan demikian, karakteritiknya adalah lebih menonjol tradisionalisme mazhabi. Model ini jika dikaitkan dengan pemikiran pendidikan, maka lebih dekatnya perenial dan esensialsme.

Neo-modernisme, corak pemikiran neo modernisme berusaha dalam memahami Islam dengan lebih mempertimbangkan dan mengikutsertakan khasazah pemikiran klasik serta mencermati berbagai kelemahannya dan kelebihannya dari kemajuan sain dan teknologi.

Paradigma Pemikiran Pendidikan Islam Modernis

Selain corak dan model pemikiran pendidikan islam tesktualis salafi, mazhabi, dan neo-modernisme, maka ada corak  dan paradigma pemikiran pendidikan modernis. Paradigma modernis ini, dalam memahami nilai-nilai Islam yang terdapat Al-Quran dan Hadist lebih mengutamakan akal atau nalar dengan mempertimbangkan kondisi sisio masyarakat kontemporer (modernitas) tanpa memperhatikan atau mendiamkan muatan-muatan atau produk capaian yang dihasilkan para ulama atau fuqaha klasik terutama yang terkait dengan soal keagamaan dan kemasyarakatan.

Karaktristik utamanya adalah bersifat progresif, dinamis, bebas dan modifikatif.  Atau dalam ungkapan Nurcholis Madjid, karakter dari pemikiran islam modernis berbasis para rasional, ilmiah dan bertautan dengan aturan-aturan yang berlaku dari alam. Sedangkan Kuntowijoyo, menyebutkan bahwa artikulasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat berpijak pada obyektif dan empiris.

Dengan demikian dapat dikemukakan ciri-ciri utama pemikiran pendidikan Islam modernis, antara lain; watak utama dalam mengartikulasikan nilai-nilai Islam dalam merespon tantangan kehidupan umat lebih berorientasi pada kebebasan nalar dan terus menerus melalukan modifikatif. Akal diberi ruang untuk melakukan berbagai skenario atau modifikasi agar persoalan yang dihadapi umat Islam dapat dijawab atau tersedia jalan keluar atau solusinya.

Selalu dinamis dan progresif. Dalam merspon sesuatu persoalan dilakukan secara dinamis dan progresif. Sehingga persoalan yang ada tidak ada yang kehilangan jawaban.

Selalu responsif terjadap tantangan kedepan. Terdepan dalam mengambil pilihan atau alternatif. Dalam pemikiran modernis, segala sesuatu itu pasti ada jawaban atau alternatif jalan keluarnya. Karena itu, segala persoalan harus cepat direspon dan dicari jalan keluarnya.

Sedangkan dalam melihat fungsi pendidikan paradigma pemikiran modern lebih melihat berbagai hal yang perlukan dilakukan dan diprioritaskan. Pertama, melakukan sosialisasi sebagai wahana untuk menginternalisasikan nilai-nilai kelompok atau nasionalisme. Dalam artian pemikiran modernis cenderung menempatkan starata sosial tertentu sebagai suatu kekuatan atau pilihan dalam internalisasi nilai-nilai pendidikan.

Kedua, pembelajaran didesainkan untuk menyiapkan peserta didik untuk menempatkan posisi sosial ekonomi tertentu atau kelompok elit, karenanya materi pembelajaran dikemas sesuai dengan tujuan dan kebutuhan.

Ketiga, tujuan akhirnya adalah melahirkan kelompok elit untuk melanjutkan program atau apa yang ingin dicapai.

Tantangan Pendidikan

Baca Juga:  STRATEGI PEMERINTAH DALAM UPAYA MEMPERLUAS KESEMPATAN KERJA BAGI FRESH GRADUATE

Tantangan dunia pendidikan Islam dewasa ini sangatlah berat.  Pendidikan yang merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia sepanjang hayat. Itu artinya pendidikan proses kreatif yang tak dapat dipisahkan dengan kebudayaan. Apa yang diajarkan dalam proses pendidikan adalah kebudayaan dan pendidikan itu sendiri adalah proses pembudayaan. ( Yudi Latif, 2020).

Kini kita dihadapkan oleh perkembangan budaya dan masyarakat  modern. Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave ( 1980) membagi perkembangan peradaban manusia; peradaban pertanian, peradaban industri dan peradaban yang berbasis informasi, yang kemudian menjadi pondasi masyarakat modern.

Secara umum masyarakat modern adalah masyarakat yang pro aktif, indivual dan kompetiti, yang ditandai dengan muncunya masyarakat pasca industri, dimana dengan kemajuan teknologi sangat memudahkan kehidupan manusia, namun disisi lain terdapat banyak paradoks.

Berbagai ironis dalam krisis kemanusiaan, lingkungan dan disparitas sosial akibat ssistem kapitalisme dan indivualisme yang kuat telah menjadi sutau persoalan tersendri di era masyarakat modern. Karena itu pendidikan Islam tentu memiliki peluang untuk menjawab tantangan tersebut. Pendidikan islam yang berbasis pada wahyu dan penalaran akan bisa menjawab persoalan paradigma yang hanya mengandal materialisme dan pragmatisme.

Adapun fungsi  pendidikan dalam masyaakat modern antara lain sosialisasi, pembelajaran dan pendidikan. Sebagai lembaga sosialisasi pendidikan adalah sarana untuk menanamkan nilai-nilai islam ke dalam kelompok atau nasional. Dalam pada itu, pembelajaran didesain untuk mempersiapkan mereka mencapai suatu kedudukan atau posisi tertentu dalam dunia ekonomi dan politik. Karena itu pendidikan dalam konteks ini harus memenuhi berbagai kreteria dan kualifikasi kelulusan, agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan strata sosial yang ada di masyarakat.

Sedangkan pendidikan adalah proses pendidikan yang rancang untuk melahirkan kelompk elit yang pada tataran tertentu diharapkan memberikan kontribusi besar bagi kelangsungan suatu rencana pembangunan yang telah dirancang.

Plus–Minus Penerapan Paradigma Pemikiran Modern Dalam Pendidikan Islam

sebagaimana rumusan atau pertanyaaan penelitian dalam pendahuluan, yakni apa saja keuntungan dan kelemahan atau plus minus paradigma pemikiran modern ini bila diterapkan dalam dunia pendidikan Islam?.

Plusnya atau keunggulan jika paradigma pemikiran modern islam diterapkan dalam dunia pendidikan Islam, maka sudah tentu akan melahirkan perubahan yang cepat dan berbagai persoalan yang terkait dengan metode, intrumen atau media akan menjadi leih unggul.

Karena dengan kemajuan teknologi yang bersumber pada perkembangan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh manusia dewasa ini, maka dunia pendidikan akan lebih mudah melaksanakan fungsi pengajaran atau transfer pengetahuan. Dengan wataknya yang progresif dan modivikatif, maka berbagai persoalan pendidikan akan dapat diselesaikan.

Misalnya pendidikan umum akan dimodifikasi dengan pendidikan Islam, maka akan muncul formulasi TK Islam, SD islam, SMP Islam , SMK/SMA islam. Demikian juga metode dan media pendidikan, maka dengan menggunakan paradigma pendidikan modern, maka akan terjadi penyesuaian tentang metode pengajaran dan media nya. Maka dunia pendidikan akan segera melakukan modifikasi antara pendidikan konvensional dan modern, dengan mengunakan sistem daring dan luring.

Hal ini terjadi karena dunia pendidikan diberi ruang kebebasan dan melakukan rekontruksi terus menerus pengalaman yang dihadapi dan kemudian melakukan rekonutrsi atas tantangan yang dihadapi untuk mencari solusinya.

Sedangkan minusnya atau kelemahanya. Bahwa salah satu kelemahan paradigma pemikiran modern adalah ia lebih mengandakan pada situasi kekinian dan pengalaman emirik, ketimbangan mengedepankan pengalaman supra natural dalam memandang berbagai persoalan yang dihadapi.

Segala sesuatu akan lebih dicari pemecahan masalahnya dari perspektif materialisme dan pragmatisme. Maka dalam konteks pendidikan akan menjadi ajang bisnis dan melahirkan kelas elit tertentu guna menggerakan atau mengkapitalkan berbagai potensi ekonomi yang ada. Komersilisasi pendidikan akan menjadi tujuan dalam penyelengaraan pendidikan.

Disisi lain berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi peserta diri dan pendidik dan kependidikan akan mengalami kegamangan sosial, karena tidak adanya sandaran spritual yang kuat. Karena dalam menyelesaikan persoalan hidup, paradigma pemikiran modern Islam ini lebih menempatkan akal sebagai pisau analisis untuk mencari cara penyelesain.

Dalam konteks ini, tidak jarang yang dipakai adalah pandangan ekonomi atau material, segala sesuatu ukuran penyelesaiannya adalah materi.  Hal tentu tidak akan bermakna bagi kehidupan peserta didik dan ekosistemnya. Sebab kehidupan sesungguhnya baru akan bermakna bila ia didekati dengan kesadaran agama atau iliahiah. (*).


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *