NATUNA – Siang itu, suasana mendung menyelimuti pertigaan depan Pantai Piwang. Salah satu pusat keramaian yang ada di Ranai, Ibu Kota Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
Bagian pojok dipertigaan jalan raya itu, duduk dengan tenang sosok lelaki yang sepintas terlihat sedang menjalani nasibnya menuju ketetapan tuhan. Jemarinya terlihat lincah memainkan sebilah jarum berlilitkan benang khusus menjahit sepatu dan sendal.
Ia adalah Lazid, sosok lelaki yang berprofesi sebagai pekerja sol sepatu dan sendal. Dengan cekatannya menjahit sepatu-sepatu milik pelanggan, Lazid kemudian berbagi cerita, bahwa dirinya sudah menekuni aktivitas tersebut selama 39 tahun.
Sejak tahun 1982 silam, Lazit mengaku sudah menekuni aktifitas menjahit sepatu dan sendal di Kota Pontianak. Ia kemudian meneruskan pekerjaan tersebut pada tahun 2004 di Kabupaten Natuna.
“Memang sudah menjadi kegiatan sehari-hari saya selama 17 tahun, semenjak saya pindah di Natuna,” sebutnya kepada koranperbatasan.com, Kamis, 19 Agustus 2021.
Kepada wartawan media ini, Lazid menyebutkan aktivitas menjahit sepatu dan sendal di pojok simpang tiga jalan raya Pantai Piwang dimulai dari jam 7.00 pagi sampai dengan jam 17.00 sore.
Selain menerima jahitan sepatu dan sendal. Ia juga menerima pesanan untuk menggantikan telapak, resleting dan perekat sepatu.
“Insya Allah, kerjaan saya rapi dan kualitasnya bagus,” ungkapnya.
Dengan pelayanan maksimal sambil menjahit sepatu milik wartawan media ini, Lazid memastikan patokan harga disesuiakan dengan jenis dan bahan sepatu. Ia menjamin harga yang dikenakannya terjangkau oleh pelanggan.
“Pastinya ada standard saya, mulai dari Rp20 ribu dan seterusnya, tergantung bahan. Saya tidak pernah mencekik harga, takutnya tidak berkah. Jika bahan sepatu itu memang harus harga tinggi, maka bisa dibicarakan dulu agar pelanggan tidak kecawa,” ungkapnya tersenyum.
Sososk Lazit tentunya mengingatkan koranperbatasan.com akan sebuah ayat yang berbunyi “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” QS. Ibrahim [14] : 7.
Mengapa tidak? sebab Lazit selalu merasa bersyukur karena dapat menekuni aktivasnya selama 17 tahun di Natuna. Ia bahkan mengaku tetap selalu bersyukur berapapun jumlah penghasilan yang diterimanya setiap hari.
“Berapapun penghasilan yang saya dapat, itu lah rezeki saya dan harus disyukuri,” pungkasnya.
Lazit juga sempat menitipkan nomor telepon (082387526922) miliknya kepada wartawan koranperbatasan.com untuk disampaikan kepada publik yang ingin sepatu dan sandalnya di jahit. (KP).
Laporan : Johan










