NATUNA – Sebuah diskusi publik bertema “Gerakan-gerakan Sosial Politik Dalam Tinjauan Ideologis” digelar di Perpustakaan Daerah H. Idrus M. Tahar, Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, pada Sabtu, 21 Juni 2025, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna ini menghadirkan Billy Sutanto, S.Sos., alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), sebagai salah satu narasumber utama.
Dalam forum tersebut, Billy menyoroti pentingnya membangun ruang ideologis yang tumbuh dari akar lokal, khususnya di wilayah perbatasan seperti Natuna. Billy mengibaratkan tanah Indonesia termasuk Natuna sebagai tanah yang subur, tempat di mana tidak hanya tanaman, tetapi juga pemikiran dan ideologi bisa tumbuh dengan cepat.
“Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, begitu juga ideologi. Begitu dia sampai di Natuna, dia akan tumbuh subur. Tinggal bagaimana faktor-faktor pendukungnya dibuka seluas mungkin,” ujar Billy.
Salah satu faktor kunci yang disorot adalah keterbatasan akses literasi, Billy menyayangkan minimnya fasilitas toko buku dan ketersediaan bahan bacaan dasar di Natuna, meski internet telah menjadi medium terbuka bagi siapa pun.
“Rasa dan dampaknya tetap berbeda ketika bahan bacaan bisa diakses langsung. Literasi yang hidup itu butuh wadah fisik,” tegasnya.
BACA JUGA: HMI Bedah Buku, Gagas Tradisi Kritis Mahasiswa Natuna
Billy juga menyinggung peran negara, khususnya pemerintah daerah, dalam mendorong tumbuhnya kesadaran ideologis. Dengan memberikan gambaran, mencontohkan bagaimana Pemda DKI Jakarta secara aktif memberikan hibah kepada Lembaga Bantuan Hukum sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat sipil yang progresif serta menyarankan pendekatan serupa bisa dipertimbangkan di daerah perbatasan.
Mengenai urgensi pemetaan ideologi, Billy berpandangan bahwa hal tersebut dapat menjadi referensi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Dengan memahami kecenderungan ideologis masyarakat, pemerintah dapat mengarahkan pengembangan SDM yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan daerah.
Namun, Billy juga menggarisbawahi pentingnya memberi ruang bagi ideologi-ideologi alternatif. Menurutnya, tidak semua gagasan arus utama yang lahir dari daratan cocok diterapkan di daerah kepulauan seperti Natuna.
“Kita ini kepulauan, dan banyak ideologi besar dunia lahir dari konteks daratan. Maka justru yang dibutuhkan di Natuna adalah ide-ide alternatif yang tumbuh dari realitas lokal,” papar Billy.
BACA JUGA: Tuah Laut dan Reformasi: Amran Ajak Mahasiswa Natuna Jaga Ideologi Bangsa
Dalam diskusi tersebut, Billy menekankan bahwa ruang ideologis harus terbuka bagi semua pemikiran, termasuk yang tidak populer, selama tetap berpijak pada kesepakatan ideologis nasional, yakni Pancasila.
“Kita boleh membahas apapun, bahkan ideologi seperti khilafah atau marxisme, asalkan itu dibahas dalam kerangka akademik dan non-etis tanpa menilai baik atau buruknya secara dogmatis,” tambahnya.
Menjawab pertanyaan tentang perlu tidaknya adanya aktor pengarah diskusi, Billy berpendapat bahwa dalam forum formal, pengarah tetap diperlukan agar pembahasan tidak melebar dan tetap fokus pada substansi.
Meski demikian, Billy menegaskan bahwa tidak ada salahnya jika wacana melebar, asalkan tidak mengaburkan tujuan awal penyelenggara.
Diskusi ini sendiri, menurut Billy, bukan akhir melainkan awal dari geliat baru literasi dan ruang ideologis di Natuna.
Billy berharap ke depan akan ada lebih banyak forum, baik formal maupun informal, termasuk di warung kopi sekalipun.
“Yang penting itu konsistensi diskusi kecil tapi rutin, bukan hanya diskusi besar yang sifatnya seremonial. Api besar dimulai dari percikan kecil,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Billy menyuarakan pentingnya literasi bagi generasi muda Natuna.
“Jangan sampai hanya karena geografis kita jauh, kita jadi jauh pula dari diskursus besar yang berkembang di dunia. Anak-anak muda di perbatasan punya hak dan potensi yang sama untuk jadi pemikir dan pemimpin masa depan bangsa,” tutupnya.
Acara ini menjadi salah satu momentum penting dalam menghidupkan kembali ruang wacana kritis dan kesadaran literasi di ujung utara Indonesia. Sebuah langkah kecil namun bermakna dalam membangun peradaban dari batas negeri. (KP).
Laporan : Dhitto










